Meneladani Inspirasi Dakwah Menyejukkan Nabi Muhammad

0
107

Sangkhalifah.co — Hampir setiap hari kita mendengar bahkan menyaksikan sendiri aksi-aksi kekerasan atas nama agama. Adu kebrutalan anatara kelompok yang sama-sama Islam agamanya, sama-sama Ka’bah arah kiblatnya, sama-sama Muhammad nabinya, dan sama-sama mengaku Alah Swt sebagai Tuhannya. Semakin hari, semakin memperbanyak daftar ‘kekerasan menunggangi agama’. Masyarakat yang mulanya mengutuk kekerasan menamakan aagama, kini  mulai mengangap hal biasa dan tak perlu lagi untuk ‘kaget’ atau sebatas tidak terima. Kekeliruan yang sudah terbiasa, berangsur tidak dihiraukan lagi keburukannya.

Kekerasan, apapun bentuknya, apalagi atas nama agama, sama sekali tidak bisa dibenarkan. Menyuruh perempuan, misalnya, menutup aurat dengan cacian, menegur pemilik warung kopi di siang bolong bulan puasa dengan ‘pentungan’, dan aksi dakwah menyeramkan lainnya, perlu dipikirkan ulang: apakah Rasulullah mencaci atau menggunakan ‘pentungan’ untuk menegakkan kebenaran? Semua orang tentu saja menjawab tidak. Termasuk saudara semuslim yang hobi bermain pentung sabil teriak-teriak takbir.

Rasulullah Saw sebagai role model bagi sekalian umat manusia, memiliki segudang tauladan yang mengagumkan, termasuk tauladan dalam dakwah menyebarkan agama Islam. Mulai dari nol Rasulullah mendakwahkan Islam hingga tersebar luas ke penjuru dunia, tentu punya resep dapur dakwah yang ampuh. Di anatara resep itu adalah Islam didakwahkan dengan cara yang manusiawi dan tidak membebani (qillatut taklif). Rasulullah menyadari betul, Islam hadir bukan di ruang hampa, melainkan di tengah-tengah lingkungan bangsa Arab Jahiliyah yang sudah memiliki konstruk sosial budaya yang matang. Andai saja Rasulullah waktu itu cuma modal ‘pentungan’, mustahil Islam bisa sebesar sekarang.

Dalam proses sosialisasi syariat Islam, Allah Swt menurunkan ayat al-Quran secara betahap (tadrij). Syekh Ali al-Shabuni dalam kitabnya at-Tibyan fi Ulumil Qur’an menjelaskan bahwa faedah metode ini adalah untuk mengobati penyakit sosial-psikologis masyarakat Arab Jahiliyah yang sudah menaun. Dengan metode ini Islam akan lebih mudah diterima tanpa terkesan menggurui, apalagi, sekali lagi, dengan kekerasan: pentung sana-pentung sini, bakar sana–bakar sini. Lagian dakwah kok bakar-bakaran segala. Mau dakwah apa mau mayoran jagung bakar?

Penegakkan keharaman khamr di tengah-tengah orang-orang Arab yang masih terbiasa mengkonsumsi minumal memabukkan itu, tidak serta merta beres semudah membalik telapak tangan. Tapi ada tahapan-tahapan cantik dan cerdik yang wajib kita ketahui. Semoga ‘kelompok Islam pentungan’ juga ikut kepo.

Terkait Khamr, pertama Allah Swt. menurukan QS. an-Nahl: 67 yang berbunyi:

وَمِن ثَمَرَٰتِ ٱلنَّخِيلِ وَٱلْأَعْنَٰبِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Artinya: “Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS. an-Nahl [16]: 67)

Coba kita perhatikan. Dalam ayat tersebut tidak ada satupun kalimat yang menunjukkan kata larangan. Justru dijelaskan bahwa Khamr merupakan sesuatu yang baik. Ayat ini belum menunjukkan status haram bagi khamr. Artinya paada saat ayat itu turun, Khamr masih halal untuk dikonsumsi. Demikian menurut ulama madhab Maliki, Syafi’i, Imam Hambali, dan mayoritas ulama (jumhur ulama) sebagimana dijelaskan oleh cendekiawan Muslim (faqih) pakar tafsir (mufassir) dan sejarawan (muarrikh) kenamaan Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Quran al-‘Adzim.

Kemudian turunlah ayat al-Quran yang mulai memberikan informasi, di samping khamr memiliki kemanfaatan, juga memiliki keburukan. Hanya saja ada penekanan bahwa keburukannya lebih dominan daripada kemanfaatannya.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ.

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. al-Baqarah [1]: 129).

Dalam menafsiri ayat ini, masih menurut Ibnu Katsir, khamr dijelaskan memiliki banyak kemanfaatan (manafi’), seperti mencernakan makanan, mengeluarkan angin, dan lain sebagainya. Hanya saja, kerugian (madlarat) yang ditimbulkan lebih besar  dari manfaat yang  perolehnya. Ayat ini sebagai ‘prolog’ pengharaman kamr (Tafsir al-Qur’ani al-Adzim [I:379]). Tentu orang yang mendengarkan narasi ini tidak merasa digurui, apalagi merasa takut karena diancam. Akibatnya mereka akan menimbang kebiasaan meminum khamr yang sudah menjadi kebiasaan itu: tetap megambil manfaatnya dengan konsekuensi bahaya-bahaya yang lebih besar, atau cari aman dengan tidak mengkonsimnya sama sekali.

Tahap berikutnya adalah khamr mulai memiliki ketegasan hukum haram. Tapi, sekali lagi, tidak langsung dipukul rata. Keharaman khamr hanya saat sedang melaksanakan shalat. Di luar waktu shalat, khamr masih diperbolehkan. Akhirnya khamr saat itu hanya diminum pada waktu malam saja di luar waktu shalat. Hal ini dijelakan dalam QS. An-Nisa [4]: 43.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. an-Nisa [4]: 43).

Faktor yang melatarbelakangi turunnya ayat ini adalah pada suatu ketika salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdurrahman bin ‘Auf mengadakan pesta dengan mengundang beberapa sahabat Nabi, termasuk di antaranya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dalam pesta itu dihidangkan khamr sebagai  salah satu jamuannya (khamr belum haram saat itu). Ali yang masih dalam keadaan mabuk lantas menjadi imam shalat. Saat membaca surat al-Kafirun dia melakukan kesalahan fatal. Kesalahannya sih cuma kelewat satu huruf saja, tapi merubah makna pokok ayat yang dibacanya. Yang seharusnya dibaca la a’budu (aku ‘tidak menyembah’ sesembahan orang musyrik) ia baca a’budu (aku ‘menyembah’ sesembahan orang kafir). Jelas ini fatal secara akidah. Hingga akhirnya turunlah QS. An-Nisa [4]: 43.

Tahap terakhir adalah pengaharaman khamr secara tegas, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Maidah (5): 90-91:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٩٠) إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (90). Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. al-Maidah [5]: 90-91).

Syekh Ali al-Shabuni dalam at-Tibyan fi Ummil Qur’an menjelaskan bahwa ketika itu Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi) dalam kondisi mabuk. Ia melihat dua ekor unta gemuk yang masih hidup dan ia potong punuknya dengan sadis, dibedah dan diambil hati kedua unta malang itu. Kondisi mabuk membuatnya tidak sadar perbuatan buruk yang diperbuatnya itu. Peristiwa sadis ini dilaporkan kepada Rasulullah, kemudian turunlah ayat al-Qur’an (QS. al-Maidah [5]: 90-91) yang dengan tegas mengharamkan khamr baik dalam keadaan sholat ataupun tidak.

Tahapan panjang pengharaman khamr di atas perlu diteladani dan dipraktikkan bagi para penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Setiap lingkungan memiliki konstruk sosial tersendiri dan setiap individu atau kelompok mempunyai sikologis yang tidak sama. Ini PR besar bagi kita para penegak ajaran Allah dan rasul-Nya. Jangan sampai ingin mensyiarkan agama, justru malah merusak citra agama itu sendiri karena ber-amar ma’ruf nahi mungkar dengan jalan yang mungkar. Ingat, kemungkaran yang ditaklukan dengan kemungkaran, hanya akan melahirkan kemungkaran-kemungkaran baru. [Muhammad Abror]

Leave a reply

error: Content is protected !!