Meneguhkan Santri Sebagai Duta Moderasi

3
359

Sangkhalifah.co — Pada tanggal 22 Oktober kemarin ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. Peringatan Hari Santri Nasional sangat penting diperingati guna mengingat sejarah bahwa pada hari ini para santri berjuang dalam mempersembahkan kemerdekaan Indonesia dengan resolusi jihad yang dicetuskan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari sebagai legitimasi bagi masyarakat untuk turun ke medan jihad melawan Belanda kala itu.

Jika dulu tanggal 22 Oktober para santri turun ke medan jihad untuk melawan penjajah sebagai tanda semangat nasionalisme, maka hari ini semangat nasionalisme itu tidak perlu jihad-perang, melainkan berkontribusi menyelesaikan masalah-masalah yang tengah melanda negara ini. Salah satu masalah negeri ini adalah hari ini merebaknya fundamentalisme dan radikalisme beragama.

Fundamentalisme dan radikalisme beragama ini harus diperangi oleh para santri sebagai pelajar ilmu agama yang mengkaji ilmu-ilmu agama melalui sanad keagamaan yang jelas dari para ulama hingga Rasulullah Saw. Fundamentalisme dan radikalisme ini bentuk dari ketidak-tuntasan membaca literatur-literatur agama, entah itu Al-Quran, Hadis maupun sejarah Islam secara umum.

Tema Hari Santri Nasional tahun ini “Santri Sehat, Indonesia Kuat” merepresentasikan santri harus kuat bukan hanya jasmaninya, tapi secara keilmuan, utamanya ilmu agama, yang nantinya sebagai ujung tombak mengatasi masalah fundamentalisme dan radikalisme beragama di atas.  Sehingga Indonesia menjadi kuat menahan goncangan disintegrasi sosial yang disebabkan oleh merebaknya fundamentalisme dan radikalisme beragama.

Moderasi beragama dalam hal ini mempunyai pijakan sejarah dan qudwah (panutan) yang jelas, yaitu Sayyiduna Muhammad Saw. ketika beliau mencetuskan kewarganegaraan (citizenship-muwathanah) di Madinah sebagai pijakan duta moderasi beragama, melihat Madinah yang multi-keyakinan dan suku, selanjutnya dirasa perlu membangun persaudaran untuk membangun Negara Madinah bersama-sama. Maka Rasulullah Saw mengadakan perjanjian yang dikenal dengan Piagam Madinah. Perjanjian ini memuat kebebasan beragama dan saling memberi perlindungan bagi seluruh penduduk Madinah tanpa pandang bulu; dari kalangan atau agama mana saja.

Perjanjian damai ini tidak membuat kaget jika Rasulullah Saw ketika pertama tiba di Madinah beliau menyampaikan untuk berlaku baik kepada sesama. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu majah dalam Kitab Sunan-nya:

عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَوْفَى قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ، قَالَ: لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، انْجَفَلَ النَّاسُ قِبَلَهُ، وَقِيلَ: قَدْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَدْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ، قَدْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ثَلَاثًا، فَجِئْتُ فِي النَّاسِ، لِأَنْظُرَ، فَلَمَّا تَبَيَّنْتُ وَجْهَهُ، عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ، فَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ تَكَلَّمَ بِهِ، أَنْ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ، وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Dari Zurarah bin Aufa, dia berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Sallam, dia berkata, Tak kala Nabi Saw tiba di Madinah, maka orang0orang bergegas menyambut kedatangan beliau dengan menyerukan, Rasulullah Saw datang! Rasulullah Saw datang! Rasulullah Saw datang!, hingga tiga kali. Maka aku ikut berjubel di tengah-tengah kerumunan khalayak untuk melihat beliau. Ketika telah jelas kupandang wajahnya, maka aku tahu beliau bukanlah raut muka seorang pendusta. Ucapan pertama kali yang aku dengan dari beliau adalah “Wahai orang-orang, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali persaudaraan, salatlah di malam hari ketika orang-orang masih terlelap, niscaya kalian masuk surga dengan selamat”

Hadis di atas menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad Saw mengajarkan kepekaan sosial di antara orang Madinah dan juga sebagai landasan moderasi beragama; keseimbangan dan keadilan dengan tujuan menghargai dan melindungi harkat dan martabat kemanusiaan. Tugas Nabi Muhammad Saw inilah yang saat ini diemban oleh para santri sebagai Duta Moderasi Beragama.

Santri memiliki  tiga maziyah (keutamaan) sebagai Duta Moderasi Beragama. Pertama, Alim: mampu megintegrasikan teks (nash) dan konteks (waqi’) karena santri memiliki khazanah keislaman yang luas dan mendalam. Kedua, Arif: santri mempunyai kepekaan sosial, kultural, adaptif dan solutif. Ketiga, Muhsin: santri memiliki kepribadian rabbani; seluruh pikiran dan prilakunya adalah cerminan dari prilaku ishsan yang berorientasi untuk menjadi pribadi yang mengubah konflik menjadi damai, perpecahan menjadi persatuan dan kebencian melebur menjadi kasih-sayang. []

3 comments

  1. Moderasi Beragama Sebagai Vaksin Untuk Kaum Radikal - sangkhalifah 8 Desember, 2020 at 07:54 Balas

    […] Sangkhalifah.co — Radikalisme menjadi momok yang sangat menakutkan, terutama dalam beberapa dekade terakhir ini. Bagaimana tidak, radikalisme mengancam hampir seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa ini. Tidak hanya di Indonesia, radikalisme dan terorisme meluluh lantahkan negara-negara di Timur Tengah seperti Suriah, Irak, Yaman dan lain sebagainya. Maka dari itu, beberapa tahun ini pemerintah Indonesia sangat fokus dengan isu-isu radikalisme dan terorisme. Hingga pada puncaknya pemerintah melalui Kementerian Agama meluncurkan buku Moderasi Beragama sebagai palu genderang tanda dimulainya perang melawan radikalisme. Bahkan tahun 2019 dinobatkan sebagai tahun moderasi beragama. […]

Leave a reply

error: Content is protected !!