Meneguhkan Nalar Moderat di Indonesia

0
199

Sangkhalifah.co — Menjelang akhir tahun, pemberitaan televisi dipenuhi dengan berita ditangkapnya 23 orang terduga teroris dengan dua orang termasuk DPO yang sudah lama menjadi target kepolisian. Tidak hanya itu, pengkaderan yang masif pun dilakukan oleh mereka yang kita sebut teroris. Menko Polhukam Mahfud MD menyatakan bahwa adanya sejumlah anak muda yang dikader untuk menjadi teroris di suatu tempat. Pernyataan ini harus disikapi dengan sangat waspada, karena ternyata ada sejumlah generasi bangsa yang sudah disiapkan untuk menghancurkan bangsanya sendiri.

Di samping itu, ungkapan-ungkapan kebencian, caci maki, penyesatan dan pengkafiran masih selalu terngiang di negeri yang katanya surga dunia ini. Lalu apa dasar? Ungkapan kebencian, pengkafiran, penyesatan, tindakan anarkisme, radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama, padahal mereka memperkosa agama, bertumpu pada cara berpikir yang tidak moderat. Indonesia dengan sejuta keberagamannya diperlukan nalar yang mengakui yang berbeda eksis di bumi tercinta ini. Itulah yang disebut nalar moderat (al-‘aql al-wasathi). Nalar moderat inilah yang hilang dari penduduk negeri sejuta keberagaman ini.

Dalam salah satu webinar, KH Husein Muhammad begitu orang memanggilnya, memberikan 7 (tujuh) kategori nalar moderat. Tujuh kategori itu adalalah sebagai berikut: Pertama, nalar moderat yaitu nalar yang memberikan ruang bagi yang lain untuk berbeda pendapat. Jelas ini berkontradiksi dengan mereka yang memiliki cara pandang bahwa selain kita adalah kafir, sesat dan harus dimusnahkan. Dan nalar seperti itu masih tumbuh masif di negeri kita, ini adalah tugas kita untuk menyadarkan mereka.

BACA: MEMBEBASKAN SEKOLAH DARI CENGKRAMAN INTOLERANSI

Kedua, nalar moderat yaitu nalar yang menghargai pilihan keyakinan dan pandangan hidup seseorang. Kita tahu sudah berapa banyak rumah ibadah dibumihanguskan di negeri ini. Begitu pun dengan intimidasi terkait ekspresi keberagamaan termasuk dalam intra agama sendiri masih sangat masif di negeri ini. Semua itu karena hilangnya nalar moderat dari negeri ini. Masyarakat kita masih tidak bisa menghargai pilihan keyakinan yang berbeda.

Ketiga, nalar moderat yaitu nalar yang tidak mengabsolutkan pendapat sendiri. Seorang yang moderat tidak memiliki keyakinan bahwa hanya pendapatnyalah yang benar atau pendapat gurunyalah yang benar. Sehingga dengan itu menafikan setiap pendapat selainnya. Kita harus belajar pada para imam mazhab yang menerima kemungkinan pendapat yang lain benar. Sebut saja Abu Hanifah atau Imam Syafi’i, keduanya mengatakan bahwa pendapat ku benar tapi memiliki kemungkinan salah, begitu pun dengan pendapat orang lain itu salah, tapi memiliki kemungkinan benar. Keterbukaan inilah yang hampir hilang dari para agamawan negeri ini.

Keempat, nalar moderat yaitu nalar yang tidak pernah membenarkan tindakan kekerasan. Tidak sedikit bahwa “agama” dianggap sebagai penganjur perlakuan kekerasan demi tegaknya “syariat” dalam anggapannya. Dengan nalar seperti ini, mereka menghalalkan segala cara demi tegaknya ideologi yang mereka anggap benar. Sampai kekerasan pun mereka lakukan, tapi mereka tidak merasa bahwa yang dilakukannya keluar dari ajaran agama. Padahal agama manapun di dunia ini tidak mengafirmasi tindak kekerasan terhadap siapa pun.

Kelima, nalar moderat yaitu nalar yang menolak pemaknaan tunggal atas teks. Salah satu sumber tindak kekerasan atas nama agama, intoleransi, radikalisme dan terorisme adalah pemaknaan terhadap teks. Sebut saja makna dari kata jihad. Orang yang moderat tidak menganggap bahwa perang adalah satu-satunya makna jihad. Berbeda orang yang tidak moderat, mereka menganggap jihad adalah perang dan perang adalah jihad. Padahal jika kita tinjau teks keagamaan, maka akan kita temukan segudang makna jihad. Dan teks agama pun mengafirmasi itu. Disebutkan bahwa teks agama ini memiliki beberapa lapis makna bahwa sampai tujuh ratus lapis makna. Maka dari itu, menunggalkan makna teks agama adalah sebuah kebohongan terhadap teks agama.

BACA: RADIKALISME ITU MUSUH BERSAMA KITA

Keenam, nalar moderat yaitu nalar yang selalu terbuka untuk kritik konstruktif. Banyak orang yang terkadang anti dengan kritik. Bahkan mengkritik pendapat seorang ulama dianggap menodai ulama tersebut sampai dituduh tidak meyakini ajaran agama tertentu. Padahal, dengan segala hormat kita haturkan kepada para ulama, pendapat ulama semuanya adalah profan tidak sakral. Kemungkinannya dua, kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Keulamaan bukan standar kebenaran, maka dari itu, kritik konstruktif sangat diperlukan di sini. Karena memang tidak sedikit tindak intoleransi, intimidasi, radikalisme bahkan terorisme dianjurkan oleh mereka yang dianggap sebagai ulama.

Ketujuh, nalar moderat yaitu nalar yang adil dan mengutamakan kemaslahatan umum. Terkadang kita tidak berlaku adil dalam menilai satu kelompok tertentu. Ketidakadilan itu dengan tidak mau menelaah sumber-sumber primer dari golongan tersebut. Atau kita enggan mengkonfirmasi atau berdialog dengan yang berbeda dengan kita untuk mencari kebenaran ajaran yang akan kita nilai. Sikap adil inilah yang hilang dalam cara berpikir kita. Dan orang yang memiliki nalar moderat pun tidak mementingkan pribadi atau kelompoknya saja, tapi dia mencari apa yang menjadi kemaslahatan umum.

Tujuh nalar moderat inilah yang harus kita gaungkan dan kita kampanyekan kepada seluruh lapis masyarakat di negeri ini. Kita bangun Indonesia yang moderat dengan meneguhkan nalar moderat. Karena dengan nalar moderat ini, semua golongan bisa diakomodir, orang bebas memilih keyakinannya, orang bebas melakukan ritual keyakinannya dan orang bebas mendakwahkan ajarannya. Kecuali mereka-mereka yang memang mengancam negeri dan kemaslahatan negeri ini. Itulah orang-orang yang hanya mementingkan pribadi dan kelompoknya. Kita berharap Indonesia maju. Akan tetapi, Indonesia tidak akan pernah menjadi negara yang adidaya, jika perbedaan masih dipermasalahkan. [Beta Firmansyah]

Leave a reply

error: Content is protected !!