Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama

0
542

Sangkhalifah.co — Indonesia, negeri dengan sejuta keberagaman, mulai dari agama, ras, suku, budaya, dan bahasa. Dengan keberagaman ini, Indonesia memiliki cita-cita menjadi percontohan negara-negara dalam hal kerukunan umat beragama. Jika mencari referensi terkait kerukunan umat beragama, Indonesialah prototipenya. Begitulah kira-kira cita-citanya.

Akan tetapi, cita-cita yang luhur itu dinodai dengan berbagai macam konflik yang terjadi, terutama yang dilandasi pemahaman keagamaan. Kita tahu, bagaimana agama tidak ramah terhadap upacara budaya lokal warisan nenek moyang negeri ini. Sedekah laut misalnya, warisan ini dikomentari sedemikian rupa sampai pada tingkat pernyataan praktik ini adalah musyrik. Tidak hanya itu, penolakan pendirian rumah ibadah sudah sangat sering terjadi di negeri ini. Sebut saja pembangunan gereja di Tanjung Balai Karimun yang ditolak warga meski sudah kantongi Izin Mendirikan Bangungan (IMB).

Tantangan lain yaitu sikap eksklusif dari pemeluk agama terkait pemimpin beda  agama. Sikap eksklusif ini ditunjukan mulai dari pemilihan tingkat RT, RW, Camat, Bupati sampai Gubernur. Kasus paling fonemenal adalah pilkada DKI Jakarta, di mana Ahok sebagai satu-satunya calon non-Muslim “diserang” sedemikian rupa dengan isu agama. Bahkan, seruan penggantian Pancasila pun sangat gencar dilakukan. Terakahir, adanya kelompok-kelompok yang menyerukan jihad untuk mengkafirkan sesama sampai pada tingkat bolehnya membunuh sesama. Sungguh sangat ironis fakta yang kita temukan.

Tidak bisa dipungkiri, masyarakat Indonesia adalah masyarakat agamis di mana nilai-nilai agama tidak bisa dilepaskan dalam hal sekecil apapun. Spirit keagamaan merasuk kepada sendi-sendi kehidupan. Dengan spirit agamis seperti ini, sangat mungkin terjadinya konflik yang merusak pranata sosial jika tidak disikapi dengan bijak. Dalam kondisi spirit agamis yang dimiliki bangsa ini dan dihadapkan pada fakta keragaman yang tidak bisa dihindari, lalu bagaimana solusi seharusnya? Di sinilah perlunya moderasi beragama.

Moderat diserap dari bahasa Inggris, moderation yang berarti tidak berlebih-lebihan atau sedang. Kata moderat sendiri diserap dari bahas Latin yaitu moderatio, yang artinya sedang, tidak kelebihan dan tidak kekurangan. KBBI mendefinisikan moderat sebagai pengurangan kekerasan, atau penghindaran keekstriman. Dalam konteks agama, moderasi berarti sikap mengurangi kekerasan atau mengurangi keekstriman dalam cara pandang, sikap dan praktik beragama.

Dalam bahasa Arab, padanan kata moderat adalah wasth yang berarti berimbang dan tengah-tengah. Antonim dari kata ini adalah tatharruf yang berarti ekstrim, radikal dan berlebihan. Dalam konteks agama merujuk pada cara pandang, sikap, dan praktik keagamaan yang ekstrim, radikal dan berlebihan atau melampaui batas.

Di tengah masyarakat yang religius dan beragam ini, prinsip moderasi beragama sangatlah penting ditegakkan. Karena nyaris tidak mungkin menyatukan cara pandang umat beragama di Indonesia. Sebagai contoh dalam satu agama saja, sebut saja Islam, walaupun ada lembaga Majelis Ulama Indonesia, akan tetapi lembaga ini tidak bisa menyatukan cara pandang keberagamaan orang Islam di Indonesia. Bahkan kata mustahil cocok untuk menyatukan keberagaman paham umat Islam di Indonesia.

Terlalu banyaknya klaim kebenaran tafsir agama sehingga berpotensi menimbulkan konflik atas nama agama. Di satu sisi, kita pun tidak bisa membungkamnya karena akan berlawanan dengan kebebasan mengekspresikan pemahaman keagamaan. Begitupun kita tidak bisa membiarkannya, karena spirit agamis ini berpotensi merusak tatanan sosial yang ada. Sehingga kerukunan umat beragama yang kita cita-citakan tidak akan terwujud. Dari sinilah diperlukan sikap mengurangi kekerasan atau mengurangi keekstreman dalam cara pandang, sikap dan praktik beragama yang disebut dengan moderasi beragama.

Kita harus berkaca pada bangsa-bangsa yang hancur bahkan terancam bubar karena konflik mengatasnamakan agama. Kita lihat, Suriah, Yaman, dan negara Timur Tengah lainnya yang luluh lantah karena perang atas nama agama. Itu berawal dari sikap keagamaan yang ekstrim dan ditunggangi kepentingan politik. Kita harus jaga Indonesia agar tidak memiliki nasib seperti negara-negara yang hancur karena radikalisme dan ekstremisme. Cara menjaganya dengan meneguhkan moderasi beragama. Dengan moderasi beragama, maka akan terwujud kerukunan umat beragama. Dengan kerukunan umat beragama, kita akan bisa bahu membahu membangun Indonesia yang maju. Bahkan kita akan menjadi prototipe kerukunan umat beragama. Dan keragaman adalah modal besar bangsa Indonesia. [Beta Firmansyah]

Leave a reply

error: Content is protected !!