Mencurigai Komentar Sebutan ‘Kafir’ Yang Mendominasi Sikap Intoleransi

0
424

Sangkhalifah.co — Menjelang Ramadan berakhir, ada saja polemik yang hadir di depan mata. Padahal di sepuluh hari terakhir bulan ini sebagian orang-orang sedang ingin fokus ibadah. Tiap kali membuka gadget, selalu muncul notif isu-isu yang sedang hits. Salah satunya narasi takfir (baca= pengkafiran) terhadap orasi kebangsaan di sebuah gereja oleh ustadz-ustadz kondang. Satu di antaranya adalah UAS. Serunya, narasi itu terus berhamburan menyebar dengan elegan dan rapi. Tanpa disadari netizen akan terus meningkat fokus bacaannya pada topik yang sama. Mereka akan selalu terlibat dan terjebak pada dua narasi tersebut di berbagai platform media sosial tiap saat. Tetapi, di sini ingin diangkat satu saja. Polemik takfir selalu menarik untuk dibahas, didengungkan dan disimak.

Jika tempo hari narasi kafir pernah diproduksi terhadap penonton film Korea oleh UAS, belakangan narasi kafir disebut karena masuk gereja. Lagi-lagi kalau persoalan demikian itu tergantung penyampainya. Masyarakat juga melihat tegasnya argumen dari penceramah. Sampai di sini, muncul pertanyaan siapa yang ahli dan siapa sekadar penceramah? Karenanya, harus adil untuk melihat realitas supaya tidak melampaui batas. Belajar berpikir orisinal karena sikap proporsional. Terlebih persoalannya menyangkut kapabilitas dan siapa yang layak disebut kredibel begitu. Tetapi, sebagai orang awam berhak juga berkomentar apa-apa hingga yang hanya berlevel apa-apaan.

Di sini tidak ingin terlalu jauh mempersoalkan dalil yang digunakan. Ingat ya, soal dalil tentang polemik di atas sudah ada yang mengurusnya. Sudah banyak bertebaran di sana-sini jika berminat mencarinya. Karenanya, sah saja apabila kita hanya ingin melihat komentar berhamburan. Kata berhamburan lebih seru daripada sekadar menyebar. Ibarat bibit kacang hijau yang dihamburkan di atas meja, nampak riuhnya tidak teratur. Wajar bila muncul curiga atas banyaknya komentar yang hanya melihat dari satu perspektif. Dan sudah tentu hampir semuanya diliputi rasa subjektif tidak lepas dari ambisi dan nafsu.

Hegemoni Bermula Dari Wacana Mendominasi

Dominasi komentar dari netizen yang menarik disimak ialah respon terhadap pengkafiran. Beragam komentar yang berhamburan itu setidaknya dapat dilihat dalam tiga model. Pertama, mengaku paling Islam dan men-judge orang lain supaya lekas bertobat. Kedua, mendukung apa yang disampaikan pihak yang mengkafirkan. Meskipun tidak disebutkan secara clear kasusnya. Ketiga, komentar yang mendukung supaya diangkat sekalian menjadi pendeta. Dari tiga model komentar tersebut, semuanya bermaksud menyudutkan. Tidak ada yang berani terus membela dan menjadi pemadam kebakaran. Pastinya takut nanti kena bully juga.

Dari sini, diprediksi masyarakat akan terbawa hegemoni pengkafiran yang didengungkan oleh seorang yang disebut ustadz atau ulama. Entah jika ada yang ingin menyebut sebagai euforia. Karena, bisa saja menganggap ada pihak yang tersudutkan bukan dari kelompoknya. Makanya, dia senang dengan situasi yang ada. Seolah-olah pendapatnya terwakilkan. Dengan bangga mengaku paling Islam, makin terbuai tidak sadar lupa mencari narasi pembanding atau yang menetralkan. Di sinilah sikap fanatik itu bekerja. Satu orang fanatik saja sudah merepotkan, bila orang-orang demikian lebih dari seribu dampaknya berbahaya tentu saja. Rasanya cukup, nanti kalau ada yang ingin melanjutkan, boleh dilihat dari perspektif lain yang lebih genuine.

Dengan demikian, sebagai sesama awam perlu saling mengingatkan agar tidak terjebak dalam narasi negatif yang menyudutkan pihak lain. Jika masih menjunjung tinggi asas kerukunan bangsa, apa layak tiga model komentar di atas berhamburan. Dari sini, ada tiga poin yang ingin diusulkan. Pertama, siapa otoritas paling berhak menentukan siapa kafir atau bukan? Padahal soal kafir atau bukan itu hak prerogatif Allah dan Rasul-Nya. Apa berhak orang awam atau netizen ikut-ikutan?

Kedua, narasi kafir kepada siapapun selalu dipahami sebagai kafir millah (otomatis murtad). Dampaknya berbahaya hingga status halal darahnya (Nasution, 2018: 8). Sehingga, perlu kehati-hatian supaya tidak menyatakan kafir seenaknya. Bukan persoalan siapa yang mengkafirkan atau yang dikafirkan. Ketiga, narasi kafir selalu melahirkan fanatisme. Jika demikian, boleh jadi bermula dari nafsu dan kepentingan. Karenanya, berkedudukan sebagai apapun dalam interaksi sosial harus tetap mengutamakan hifz lisan (menjaga omongan). Sebab, keselamatan muslim lain tergantung bagaimana saudaranya menjaga lisan dan tangan (HR. Bukhari). Kalaupun takfir saat itu menurutnya benar, apa tidak sebaiknya disampaikan lebih bijak lagi. [Fattah]

Leave a reply

error: Content is protected !!