Menanti Ketegasan Pemerintah Dalam Memutus Mata Rantai Hizbut Tahrir

0
476

Sangkhalifah.co — Ideologi tidak bisa dimatikan tapi bisa dihentikan dengan dua cara: memutus mata rantai pergerakan dan logistiknya. Ideologistik merupakan dua senyawa yang bersatu dan saling menjadi kunci keberlangsungan sebuah identitas. Hizbut Tahrir Indonesia memang secara legal-formal telah dibubarkan/dibekukan legitimasinya, tetapi aspek pergerakan dan logistiknya masih terus berlangsung. Pemerintah sama sekali “belum serius” mencegah dan menanggulanginya.

Saya pun teringat akan pernyataan Farag Fouda bahwa “Khawarij selalu menggambarkan kesucian dan kebenaran hanya milik dirinya. Menuding penguasa sebagai Fir’aun dan dirinya sebagai sosok Nabi yang melawan. Narasi ini telah berlangsung abad-abad, dipakai untuk melawan siapa pun pemimpinnya dan akan berhenti jika mereka merebut kekuasaan.”

Fauda ingin mengingatkan kita semua tentang cara melihat fakta apa adanya. Bahwa ketika Islam dipolitisasi oleh penganut agama, maka sejatinya telah merendahkan Islam secara substansial. Begitu pula Nader Hashemi dalam esainya mengatakan bahwa politisasi Islam selalu berupa gerakan oposisi yang belum teruji, sebuah alternatif mistik terhadap realitas yang ada pada dunia Muslim. Artinya, mereka yang tidak menerima realitas negara-bangsa selalu menggunakan agama sebagai bajunya dan memanipulasi masyarakat dengan seuntai ayat dan hadis. Eksploitasi dalil agama untuk kepentingan politik oleh Hizbut Tahrir Indonesia ibarat rerintikan hujan yang tidak berkesudahan.

Ketidakbersudahan itu harus dihentikan dengan cara apapun. Tidak ada kompromi dengan manipulator agama. Semua manipulator agama memiliki prinsip: setiap kekuasaan dan titik strategis kita lubangi dan setiap lubang kita kuasai. Doktrin ini tidak tertuliskan dalam kitab/buku induk mereka, tetapi titah yang terwariskan sebagai nafas pergerakan dalam menggapai kehendak berpolitik. Hizbut Tahrir (Indonesia) sebagai kelompok politik akan selalu memanfaatkan tiga hal dengan menggunakan prinsip tersebut: menggamplifikasi kesalahan pemerintah, menegasikan peran negarawan/ulama yang ikut memperjuangkan kemerdekaan dan mencari dalil-dalil agama sebagai pembius masyarakat.

Semua manipulator agama memiliki prinsip: “setiap kekuasaan dan titik strategis kita lubangi dan setiap lubang kita kuasai.” Doktrin ini tidak tertuliskan tapi terwariskan secara turun temurun.

Semakin kita membuka mata dan telinga, semakin nyata bahwa pergerakan Hizbut Tahrir Indonesia tidak benar-benar mati dan tidak dihentikan oleh pemerintah secara serius. Fakta infiltrasi yang dilakukan Hizbut Tahrir Indonesia masih terus berlangsung bahkan merasuki pihak keamanan negara. Kita masih ingat infiltrasi HTI melalui Badan Wakaf Al-Qur’an di Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) XIV Sorong. Di tempat perkantoran-perkantoran pun terjadi dengan gerbong Fatih Karim dkk-nya. Sambil menyelam di alam demokrasi yang mereka haramkan, petuah-petuah murtad dan berdosa bagi yang tidak memperjuangkan/menegakkan Khilafah Islamiyah bunyi nyaring di media sosial.

Disini kita menarik sedikit kesimpulan ketika politisasi agama terjadi di satu pojok kamar dan aksi-aksi penegasian terhadap dasar negara dan sistemnya tidak lagi membutuhkan perencanaan yang rumit, bahkan peran remaja/mahasiswa bisa ambil bagian di dalamnya, maka kita telah memasuki era kehancuran. Karena semangat moderasi beragama dan meneguhkan Pancasila (dasar negara) telah hilang dalam sanubari generasi muda/milenial yang diharapkan sebagai pemegang estafet kepemimpinan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal dan khas keindonesiaan.

Hizbut Tahrir Indonesia layaknya gerakan/jaringan terorisme yang kerap mengatasnamakan Islam dalam beraksi dan memperjual belikan ayat-hadis dalam tindakan berpolitiknya. Mereka sebenarnya tak ubah seperti Taliban di Afghanistan, Boko Haram di Nigeria, Al-Shabab di Tanduk Afrika, Abu Shayyaf di Filipina bahkan kelompok terlarang seperti Jamaah Islamiyah dan Jamaah Anshorud Daulah di Indonesia. Semua dari mereka memiliki visi yang sama: menegakkan sistem Khilafah Islamiyah. Baju boleh berbeda tapi visi mereka sama.

Mereka semuanya berdiaspora dalam jubah agama, dan utamanya menghalalkan segala cara atas nama Tuhan. Kaidah “wasilah yang haram maka status penggunaannya pun haram” berubah menjadi “wasilah yang haram jika karenanya bisa menggapai cita-cita politik maka menjadi halal”. Sebab itulah, kita sedang berhadapan dengan Khawarij yang kini tidak lagi terlembagakan, tetapi menjelma dan merasuki ke sebuah perilaku dan pemikiran. []

Leave a reply

error: Content is protected !!