Menangkal Hantu Radikalisme dengan Kesaktian Pancasila

0
180

Sangkhalifah.co — Radikalisme masih menjadi ancaman bangsa Indonesia dan bahkan dunia. Tidak saja berhenti pada suatu konsep, radikalisme berujung pada tindakan kekerasan dan anarkis, yang berujung pada laku terorisme dalam bentuk kekerasan dan intimidasi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2018 menyampaikan fakta meningkatnya radikalisme. Temuan penelitian ini menunjukkan menguatnya sentimen konservatisme agama di masyarakat yang bukan hanya sebatas ekspresi kultural dan ideologi, namun rentan dimanfaatkan oleh aktor-aktor tertentu untuk mendapatkan sumber daya ekonomi maupun politik. Setahun setelahnya, Setara Institut (2019) menemukan hasil riset yang cukup menggemparkan. 10 kampus di Indonesia, menurut LIPI, telah menjadi basis radikalisme dengan dikuasai oleh Salafi Wahabi, HTI, dan Ikhwanul Muslimin.

Untuk menyudahi radikalisme Pancasila patut menjadi tawaran yang solutif. Pancasila adalah ideologi yang sakti. Dikatakan sakti bilamana ia telah lolos menghadapi ujian dan rintangan. Pancasila dengan umurnya 75 tahun, telah mengalami berbagai rintangan dan cobaan. Pancasila telah menghadapi penolakan, ancaman, bahkan dituntut untuk diganti dengan ideologi yang tak jelas arahnya. Bahkan sejak kelahirannya, Pancasila telah mendapatkan ujian dari para pendirinya dengan diperdebatkan apakah cocok atau tidak bagi bangsa Indonesia. Dan, sampai detik ini, faktanya, Pancasila masih eksis di tengah-tengah bangsa Indonesia menjadi ideologi yang menaungi keragaman bangsa di dalamnya. Jika ia tidak sakti, mustahil kiranya bisa bertahan hingga hari ini.

Untuk menguatkan bukti bahwa Pancasila adalah ideologi sakti, kita dapat menguji melalui tiga teori trilogi standar sebagaimana disebutkan oleh Yudi Latif dalam Wawasan Pancasila (Mizan, 2014). Tiga teori tersebut pertama adalah pertama, historisitas. Sebagaimana di atas sudah disinggung, secara historisitas, Pancasila telah mengalami berbagai tantangan bahkan ancaman untuk dirubah dengan ideologi lain seperti ideologi Islam, syariat Islam, khilafah islamiyah, dan komunisme. Pancasila bahkan hingga kini pun masih mengalami penolakan dari berbagai kelompok yang tidak sadar akan keniscayaan keberagaman. Namun, semua tantangan itu terlewati dengan baik oleh Pancasila. Pancasila tetap eksis dari awal dibuatnya hingga hari ini dan akan seterusnya dalam mempersatukan semua elemen bangsa.

Kedua adalah rasionalitas. Latif ketika menyebut rasionalitas menyebutkan tiga teori turunan yang lain, yakni konsistensi, koherensi, dan korespondensi. Dari sisi konsistensi, Pancasila merupakan ideologi yang kokoh dan tidak pernah bisa digoyah. Lima silanya konsisten meskipun zaman terus mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat. Dari sisi koherensi, Pancasila selalu memiliki visi ke depan tentang perlindungan kemanusiaan, seperti persatuan dan keadilan sosial. Sementara dari sisi korespondensi, Pancasila sejalan dengan kenyataan akan keberagaman umat manusia, dalam hal ink bangsa Indonesia. Pancasila memiliki rasionalitas yang kokoh sehingga tidak goyah dengan problematika yang dihadapi bangsa. Ia tetep berdiri kokoh menjadi garda depan pengawal kesatuan dan persatuan.

Sedangkan ketiga adalah aktualisasi. Pancasila kokoh karena telah teraktualisasi kan dengan cukup baik di bangsa Indonesia ini. Meskipun, kita sadar semuanya belum maksimal. Namun setidaknya hingga hari ini Pancasila telah mengaktual menjadikan keragaman bangsa tetap dalam satu kesatuan Bhinneka Tunggal Ika. Aktualisasi Pancasila juga nampak ketika muncul adanya isu dan fenomena sebagian kelompok yang ingin kembali menegakkan khilafah dan komunisme di negeri ini. Pancasila menjadi penghadang adanya sekelompok orang yang hendak membuat kacau negeri ini. Begitulah bukti akan kesaktian Pancasila dari sisi aktualisasi. Jika aktualisasi nilai-nilai Pancasila terus mewujud di tengah-tengah masyarakat Indonesia, maka cita-cita untuk menjadi bangsa yang majemuk yang kokoh dalam persatuan dan kesatuan akan selalu terjaga.

Berbeda dengan Pancasila adalah ideologi khilafah dan komunisme. Kedua ideologi ini ideologi yang tidak sakti secuilpun. Kedua ideologi ini terbukti mudah goyah ketika terjadi suatu masalah di tengah bangsa. Ideologi khilafah misalnya, secara historisitas, ia tidak kokoh sehingga pada tahun 1942 tumbang oleh Kemal Ataturk. Khilafah hendak bangkit bahkan hingga kini, namun ia tak lagi memiliki kaki untuk berdiri kokoh, sehingga secara historis khilafah jelas bukan ideologi sakti. Dari sisi rasionalitas, khilafah tidak konsisten dalam dirinya, sebab tidak dapat membedakan mana agama, mana politik. Ia juga tidak koheren, sebab selau merujuk ke belakang dan gagap dalam menghadapi problem kemanusiaan. Khilafah juga tidak memiliki korespondensi, sebab khilafah tidak bisa dikonfirmasi dari keragaman bangsa ini

Baik khilafah ataupun komunisme pada esensinya ialah hendak merubah Pancasila dan mengganti ideologi yang tidak sakti. Khilafah dan komunisme juga sarat akan melahirkan manusia-manusia yang radikal dan bahkan teror, karena memalsukan agama dan atau akal. Khilafah dan komunis berpotensi besar melahirkan manusia-manusia radikal yang melenceng dari amanah agama sebagai Wahyu kasih sayang dan rahmat bagi seluruh alam. Jika khilafah dan atau komunisme lahir kembali di negeri ini, bukan hal yang mustahil jika akan banyak bergentayangan hantu-hantu radikalisme di sudut negeri. Maka, untuk menangkal hantu-hantu itu cara terbaik bagi bangsa Indonesia adalah dengan menggunakan kesaktian Pancasila. Cara mewujudkan kesaktiannya adalah menanamkan lima nilai dalam sila-sila Pancasila yang semuanya dalam rangka mewujudkan kemanusiaan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!