Menanamkan Islam Moderat Generasi Milenial Sebagai Basis Keutuhan NKRI

0
168

Sangkhalifah.co — Arus informasi yang terus berkembang dengan berbagai platform dan dengan beragam kecanggihannya membuat generasi milenial Gandrung dengan layanan-layanannya. Dari mulai Facebook, Instagram, YouTube, Twitter, dan layanan lainnya. Sayangnya, perkembangan informasi itu digunakan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab untuk menebar kebencian, melakukan fitnah-fitnah keji tanpa klarifikasi, dan mengkampanyekan ideologi-idelogi terlarang. Mudah saja, jika kita meng-klik kanal pencarian di Facebook, semisal pencarian ceramah ustadz, maka yang muncul kebanyakan adalah ceramah-ceramah yang bukannya meninggikan Islam, tetapi justru merendahkannya dengan menampilkan wajah-wajah garang dalam berceramah.

Pada tahun 2019 BNPT merilis adanya penggunaan media sosial untuk melakukan radikalisme. Sebanyak 38.33 dari skala 1-100 media sosial digunakan untuk mengkampanyekan radikalisme, baik yang tingkat ekstrim maupun yang masih setengah-setengah. Jumlah tersebut cukup besar mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 64.8. Jika berbicara media sosial, maka identik dengan generasi milenial.

Radikalisme yang dilakukan di medsos itu hampir semua dilakukan oleh generasi muda, generasi milenial. Di sinilah pentingnya generasi muda mempersiapkan diri melalui belajar Islam yang moderat, santun, dan tidak mudah menyalahkan. Ekstiensi Islam yang ramah untuk menjadi karakter keislaman generasi milenial perlu dimiliki untuk membentengi mereka terjerumus pada lubang radikalisme.

Kepala BNPT, Suhardi Alius menyebut ada empat konten media sosial yang masuk dalam kategori radikalisme dengan jumlah 38.33 itu. Pertama, tentang nilai-nilai yang terkandung di dalam pelaksanaan ibadah dengan skor 40.41. Kedua, tentang tata cara ibadah wajib, dengan skor 40.01. Ketiga, konten soal hari akhir dengan total 39.28. Dan keempat, konten-konten soal-soal kehendak Tuhan sebanyak 39.05 skor.

Dari total keseluruhan, total yang paling banyak menjurus pada pemahaman radikalisme yang cukup membahayakan adalah soal ibadah, hari akhir, dan qodho serta qodar. Jika generasi milenial tidak didasari dengan pemahaman agama yang kuat dan kokoh dalam ruang keagamaan yang toleran, maka sangat mungkin mereka murah menerima doktrin radikalisme mereka.

Tidak ada upaya lain untuk membentengi generasi milenial agar tidak termakan ideologi radikal yang menyebar di kanal-kanal media sosial kecuali dengan memupuk dan menguatkan keislaman yang moderat kepada mereka sejak dini. Hal yang paling utama adalah melalui pendidikan, sebab pendidikan adalah investasi jangka panjang terkait masa depan seorang anak ketika sudah dewasa. Memang radikalisme tidak hanya dilakukan dengan cara kekerasan, tetapi juga dapat berawal dari kebiasaan mencaci teman, mengejek, atau pelanggaran norma-norma pendidikan lainnya. Cara pertama untuk menghadang lahirnya radikalisme dalam diri milenial adalah melalui kepedulian internal sekolah, misalnya peran guru dan orang tua dalam menanamkan pendidikan antiradikal dan anti kekerasan.

Di dalam ruang pendidikan itu juga dapat menambahkan kurikulum-kurikulum yang mengedepankan Islam yang ramah. Mengajarkan apa yang disampaikan oleh ulama-ulama moderat. Seperti misalnya yang dikatakan oleh Nasaruddin Umar, bahwa radikalisme sesungguhnya tidak ada di dalam Islam. Sejarah tak sekalipun mencatat tindakan yang justru bertentangan dengan agama itu. Jika pun ada menurut beliau, bukan karena agama, tetapi karena motif kekuasaan atau politik. Atau misalnya menyampaikan apa-apa yang digagas Quraish Shihab, bahwa Islam secara bahasa bermakna pasrah, selamat, damai, tidak lain ajaran-ajarannya kecuali menyelamatkan dan mendamaikan. Tidak hanya menyelamatkan sesama muslim, tetapi semua manusia. Karena setiap manusia ciptaan Tuhan.

Menanamkan pemahaman Islam yang moderat kepada generasi milenial tidak melulu melalui internal sekolah atau lembaga pendidikan. Cara kedua yang dapat diterapkan, dan lebih enjoy membuat anak-anak senang, ialah dengan menciptakan lingkungan yang anti terhadap radikalisme. Masyarakat harus mengupayakan terwujudnya lingkungan yang moderat, dengan bekerjasama melalui lembaga-lembaga pemerintah dan atau lembaga sosial yang bergerak di dunia kemanusiaan dan anti radikalisme-terorisme. Melalui percontohan nyata dan tindakan-tindakan yang mencerminkan hakikat ajaran Islam yang ramah di lingkungan anak-anak berkembang, akan membuat mereka sadar diri ketika berhadapan dengan bahtera kehidupan baik di dunia nyata maupun dunia maya, untuk tidak terjebur pada tindakan membahayakan berupa radikalisme, bahkan terorisme.

Terakhir yang bisa dijadikan upaya untuk menjembatani agar generasi milenial bebas dari radikalisme adalah menanamkan pendidikan yang kritis, tidak doktriner. Upaya ini bisa diterapkan di kelas-kelas formal sekolah atau misalnya hanya sebagai ekstrakurikuler. Yang jelas, pendidikan kritis penting untuk menekan lajur penularan radikalisme, yang selama ini kerap kali diajarkan dengan cara-cara pemaksaan, dogmatis, dan bahkan mengancam.

Kita semua harus berkaca dengan adanya fenomena generasi milenial yang gandrung dengan keislaman, namun Islam yang intoleran, ekslusif, dan literal. Sebagaimana data penelitian PPIM UIN Jakarta pada tahun 2018, mengungkap 57.03 guru di tingkat SD dan SMP yang berpotensi memiliki pemikiran radikal. Upayanya dapat dilakukan dengan menjaga daya kritis anak-anak agar tidak mudah menerima begitu saja apa yang disampaikan pengajarnya, terutama hal-hal yang akan memecah keutuhan NKRI. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!