Menakar Kembali Legitimasi Khilafah dalam Al-Qur’an

3
232

Sangkhalifah.co — Barangkali hanya kelompok pengusung ide Khilafah Islamiyah atau Negara Islam yang idenya sulit diterima oleh muslim yang masih berakal sehat. Ide-ide dan gagasannya selalu disandarkan pada ayat Al-Quran meski nyatanya tak berkaitan. Sebutlah ide tentang khilafah itu sendiri, yang disandarkan pada ayat Al-Quran yang menyebutkan kata khalifah.

Padahal arti khilafah dan khalifah itu berbeda. Meski dari akar kata yang sama. Ayat yang menyebutkan kata khalifah dalam Al-Quran terletak di surah Al-Baqarah ayat 30 dan surah Shad ayat 26. Dua ayat tersebut, sebenarnya membicarakan tugas manusia di muka bumi yaitu sebagai khalifah (pengganti), bukan membicarakan tentang sistem pemerintahan sebuah negara seperti yang diklaim sebuah kebenaran oleh kelompok pejuang Negara Islam.

Surah Al-Baqarah ayat 30 menyebutkan dialog antara Allah dan malaikat tentang makhluk sebagai khalifah yang bernama adam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia menafsirkan ayat ini bahwa Allah telah mengeluarkan Nabi Adam dari surga sebelum Allah memasukkannya ke surga kembali. Di muka bumi ini diciptakan jin dan keturunannya, namun kemudian mereka membuat kerusakan dan mereka menumpahkan darah. Ketika mereka (jin) sudah membuat kerusakan di muka ini maka Adam dijadikan khalifah-nya (penggantinya).

Ada tiga pendapat tentang kekhalifahan Adam dan anak cucunya. Pertama, Adam sebagai ganti dari penghuni bumi sebelumnya, yaitu jin yang kemudian dibinasakan karena membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Pendapat ini dinukil dari qaul Ibnu Abbas. Kedua, Allah menghendaki sebuah kaum dari keturunan Adam untuk saling bergantian dalam menegakkan kebenaran dan memakmurkan bumi. Ini adalah pendapat Hasan al-Bashri. Ketiga, Allah menjadikan Adam di muka bumi untuk menggantikannya dalam memberika putusan di atara para makhluk Allah. Pendapat yang terakhir ini adalah pendapat Ibnu Masud. Sebagaimana dikutip oleh al-Mawardi dalam tafsirnya Al-Nukat wa Al-‘Uyun.

Dalam dialog Allah dan malaikat pada ayat tersebut, ada pengingkaran Malaikat akan kekhalifahan Adam dan anak cucunya. Bukan karena iri pada manusia dan menentang dan memprotes Allah, namun karena perbuatan merusak muka bumi dan safk al-dima’ (menumpahkan darah). Menurut al-Baghawi yang dimaksud dari menimbulkan kerusakan di muka bumi adalah dengan melakukan hal-hal yang bersifat maksiat (sesuatu yang dibenci Allah) dan menumpahkan darah yang dimaksud dalam ayat tersebut menurutnya adalah membunuh nyawa tanpa adanya sebuah ketetapan dari syariat.

Dari surah al-Baqarah ayat 30 ini, ada dua hal yang diingkari oleh Malaikat yaitu membuat kerusakan (maksiat) dan menumpahkan darah. Dua hal ini barang tentu adalah sesuatu yang diridhoi oleh Allah, karena sudah diingkari oleh makhluknya yang tak pernah melakukan kemaksiatan. Mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari ayat ini adalah dua hal tersebut merupakan tugas Adam dan keturunannya sebagai khalifah di muka bumi, tidak membuat kerusakan dan menjaga perdamaian. Sebagimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dalam berdakwah menyebarkan Islam dengan tetap berusaha untuk tidak terjadi pertumpahan darah seperti peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan Fathu Makkah.

Itulah bukti dari komitmen Islam dalam menjaga pertupahan darah. Jalan dakwah yang ditempuh Nabi dan para Sahabat tetap berpegang teguh pada prinsip utama manusia sebagai khilafah, yaitu menjaga perdamaian, istilah lain dari menjaga pertumpahan darah. Istilah perdamaian dalam ayat Al-Quran sering disebutkan menggunakan kata صلح: wa tushlihu baina al-nas (al-Baqarah, 2: 224), fattaqu Allah wa ashlihu dzata bainikum (al-Anfal, 8: 1), wa al-shulhu khair (al-Nisa, 4: 128).

Tugas utama sebagai khalifah ini jelas sangat kontras dengan tindakan pejuangan khilafah Islamiyah yang membuat teror, pengeboman dan pertumpahan darah membuktikan bahwa pejuang khilafah Islamiyah tidak memperjuangkan nilai-nilai dalam Al-Quran. Khilafah Islamiyah yang katanya punya landasan surah al-Baqarah ayat 30 ternyata mengkhianati isi dan kandungannya.

Meski khilafah yang diperjuangkan kelompok radikal ini sudah disandarkan pada Islam tak menjamin mencerminkan nilai Islam dan melaksanakan tugas utama khalifah yang diperintahkan Al-Quran. Formalisasi Al-Quran tak selamanya memperjuangkan isinya. Indonesia memang bukan ىegara Islam, namun para pemimpin Indonesia sudah melaksanakan perintah Al-Quran meski Indonesia tak mencantumkan Al-Quran sebagai undang-undang kenegaraan.

Hal tersebut bisa dilihat dari tindak-laku para pemimpinnya ketika menyelesaikan persoalan. Sebagai contoh, Presiden keempat, Gus Dur Indonesia yang dengan lapang-dada mundur karena dilengserkan tanpa berat rasa seraya berkata “yang lebih penting dari politik adalah kemanusian”.

Kata-kata itu lahir dari peristiwa tersebut. Ketika para pendukungnya, warga NU Jawa Timur bersiap bertaruh nyawa untuk mempertahankan jabatan presiden yang disandangnya. Gus Dur dengan santai keluar dengan kaos oblong dan celana pendek dengan alasan menenangkan para pendukungnya. Sudah jelas Gus Dur bukan hanya pemimpin negara, ia juga khalifah yang digambarkan Al-Quran, surah al-Baqarah ayat 30 yang salah satu tugasnya mencegah pertumpahan darah dengan menciptakan perdamaian antar manusia. []

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!