Menag Ucapkan Hari Raya Baha’i dan Kumatnya Kelompok Ekstrim Radikal

0
262

Sangkhalifah.co — Pada 28 Juli 2021 viral video ucapan selamat hari raya yang disampaikan Menteri Agama H Yaqut Cholil Qoumas kepada kelompok kepercayaan keagamaan Baha’i. Menag mengucapkan ini sebagai bentuk toleransi kepada kepercayaan dan keyakinan lain yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Apalagi, posisinya sebagai ujung tonggak toleransi agama, maka mengucapkan pesan perayaan Naw-Ruz 178 EB yang dianut agama Baha’i merupakan sebuah hal yang wajar. Sehingga meskinya tak perlu menjadi bahan bully-an, apalagi celaan sebagaimana dilakukan kelompok ekstrim radikal.

Agama Baha’i lahir pada 23 Mei 1844 di Persia dengan kemunculan Ali Muhammad atau biasa dikenal dengan Bab. Baha’i meyakini bahwa Bab adalah pintu masuk menuju Tuhan yang diturunkan ke muka bumi. Selain Bab, juga ada Baha’ullah, yang juga merupakan pintu menuju Tuhan. Kepercayaan ini masuk ke Indonesia pada 1878 oleh Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Pada tahun 2014, seorang Peneliti dari Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kustini, menemukan hasil penelitian bahwa agama Baha’i memiliki ritual laiknya Islam, seperti berdoa, puasa, dan ibadah.

Baha’i, kata Kustini, bukan kepercayaan yang sesat. Selain para penganutnya tidak mengakui Baha’i sebagai aliran agama tertentu, termasuk Islam, Baha’i juga tak pernah menganggap Islam (atau agama lain) sebagai agama sesat. Ini berbeda dengan kelompok ekstrim radikal, seperti HTI dan FPI, yang mengaku sebagai pemeluk agama Islam, tapi gemar menyesatkan kelompok agama lain dan mazhab agama Islam selain yang dianutnya. Dilansir laman Puslitbang Kemenag (2014), MUI yang mulanya memberikan fatwa sesat pada Baha’i, setelah mendapatkan pemaparan dari riset Kustini Puslitbang Kemenag RI, akan mempertimbangkan kembali fatwa tersebut dan mengkaji ulang secara lebih cermat.

Kondisi ini berbeda dengan apa yang disuarakan kelompok ekstrim radikal hari ini terhadap ucapan Menag terhadap kelompok Baha’i. Dalam beberapa media, baik portal media website maupun media sosial, kelompok ekstrim menganggap Menteri Agama Kacau, mengucapkan hari raya pada kelompok sesat, sungguh rugi memiliki Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas di era kepemimpinan Jokowi. Demikian cuitan mereka. Atau cuitan lain juga disampaikan seorang habib di portal media online (28/07/2021), beliau menyayangkan Menag yang menyampaikan tahni’ah pada kelompok yang keluar dari Islam. Ia takut Menag membenarkan ajaran agama Baha’i.

Bila merujuk pada UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, yang mengatakan “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan dan mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari pokok-pokok ajaran agama itu.”, maka kelompok Baha’i tidak masuk sebagai penyalahgunaan dan atau penodaan agama, karena riset Sutini menegaskan kelompok ini bukan bagian dari agama apapun, termasuk agama Islam.

Hak untuk menganut agama dan atau keyakinan tertentu dijamin di dalam UUD. Dalam Pasal 29 Ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Kelompok Baha’i memang tidak masuk dalam bawahan agama-agama yang ada di Indonesia. Akan tetapi ia merupakan kelompok yang meyakini kepercayaan tertentu, sehingga eksistensinya dilindungi oleh pasal tersebut di atas. Toleransi tidak bisa dibatasi hanya agama tertentu, tetapi semua keyakinan dan agama termasuk mereka yang dianggap sesat.

Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 tegas menyatakan bahwa diciptakannya manusia dalam keragaman kelompok dan suku, tidak lain guna saling mengenal, saling melengkapi satu sama lain, bukan untuk saling menyalahkan dan menyesatkan. Pun, Nabi Muhammad ketika di Madinah, juga menghargai semua kelompok agama, baik Islam, Kristen, Yahudi, bahkan mereka yang tak beragama sekalipun. Nabi yak sesekali menyatakan sesat kepada salah seorang pemeluk keyakinan, kepercayaan, maupun keagamaan tertentu. Karena, hakikat agama adalah kemanusiaan. Beragama harus mengedepankan kemanusiaan, tak sekadar simbol dan keyakinan. Dan, tuduhan sesat pada Menag setelah mengucapkan hari raya Baha’i tidak lain merupakan bentuk kumat kelompok ekstrim radikal yang gemar memfitnah dan menghakimi orang lain yang berbeda. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!