Mempererat Kembali Hubungan Muslim dan Non-Muslim

2
281

Sangkhalifah.co — Salah satu isu krusial yang seringkali dipersoalkan oleh sementara orang adalah hubungan antara muslim dan non muslim. Isu ini jika tidak ditangani secara bijak akan bisa memporak-porandakan persatuan dan kesatuan bangsa. Hubungan antara pemeluk agama Islam dengan non Islam yang tidak dibina secara baik akan berujung pada pertikaian antar-anak bangsa. Pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 adalah contoh konkritnya. Karena sebagian orang gagal paham memahami hubungan antara muslim dan non muslim mengakibatkan bangsa terpecah belah, bukan hanya di wilayah DKI yang menjadi tempat pemilihan gubernur terkait, namun merambah hingga menjadi isu nasional. Beberapa negara pun menyoroti dan menganggap pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 mencerminkan demokrasi Indonesia yang masih jauh dari yang diharapkan.

Salah satu dalih yang selalu diutarakan sementara orang ialah prinsip al-walâ wal barrâ, yaitu setia kepada sesama muslim dan menolak orang kafir. Melalui legitimasi ini sementara orang gagal memahami maknanya dalam konteks sosiologi bangsa Indonesia. Salah satu ayat yang menjadi diskusi panjang soal larangan berinteraksi dan menjadikan non muslim sebagai pemimpin ialah QS. Al-Ma’idah Ayat 51. Dengan pemahaman yang serampangan, sebagian kelompok radikal dan mungkin teror menolak kepemimpinan non muslim, sebagaimana Basuki Thajaja Purnama atau Ahok dalam konteks Pilkadi DKI 2017. Bahkan karena ayat ini, orang yang tidak kenal agama pun berduyun-duyun menafsiri Al-Qur’an dengan serampangan, kebenaran dilegitimasi oleh kelompok dan individu kelompok tertentu saja, dan mengabaikan sisi objektif sebuah pandangan keagamaan.

Mengomentari ayat yang diisukan sebagai larangan umat Islam memilih pemimpin non-Muslim, pakar tafsir Quraish Shihab menegaskan bahwa kendati ayat Al-Qur’an di atas objek pembicaraannya (larangannya) adalah Yahudi dan Nasrani, namun pada hakikatnya berlaku bagi siapa saja yang memiliki sifat seperti orang Yahudi dan Nasrani. Jika Yahudi dan Nasrani itu baik, dapat memimpin dengan baik dan menjauhi kezaliman, maka Islam membolehkannya, bahkan mengharuskan.

Kita perlu sikap bijak dalam membaca kandungan maknanya. Tidak semua orang Yahudi dan Nasrani memiliki sikap sebagaimana yang dibicarakan dalam ayat di atas. Bukankah Nabi Muhammad sering melakukan interaksi dengan orang Yahudi dan Nasrani dalam berbagai hal, seperti ekonomi, sosial kemasyarakatan, dan perdagangan. Bukankah Al-Qur’an juga sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa tidak semua orang Yahudi dan Nasrani itu sama sepanjang masa (QS. Ali ‘Imran Ayat 103). Maka hanya orang-orang bijak yang dapat memahami ayat di atas secara proporsional.

Islam adalah agama yang melarang umatnya untuk membenci orang lain, apapun suku dan latar belakangnya. Bahkan, Islam melarang umatnya untuk berlaku aniaya kepada siapapun yang dibenci. Allah berfirman dalam QS. Al-Ma’idah Ayat 8, “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” Di lain itu, konsepsi Islam agama rahmat bagi alam semesta meniscayakan adanya sikap kasih sayang umatnya kepada siapa saja, tanpa pandang agama dan latar belakang semisalnya.

Dalam konteks sejarah Islam misalnya, cukup masyhur ketika Salahudin Al-Ayyubi mengirimkan dokter untuk musuhnya yang kalah dalam peperangan. Ia bernama Ricard The Lion Heart, yang lumpuh setelah menyerang Salahuddin Al-ayyubi dan tentaranya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Al-Ayyubi juga mengirimkan dua kuda setelah mengetahui Ricard pulang dengan jalan kaki setelah kalah dari pertempuran. Sayyidina Ali yang merupakan Khalifah umat Islam keempat, pun mengasihi non-Muslim yang padahal telah membencinya sehingga hendak membunuhnya dalam satu peperangan. Ali tidak jadi membunuh setelah merasa bahwa apa yang dilakukannya (ketika hendak membunuh musuhnya dengan pedang) namun masih ada rasa karena benci dan nafsu, bukan karena Allah dan Rasul-Nya.

Maka dalam konteks berbangsa dan bernegara, menjalin harmoni dengan non-Muslim adalah harga mati. Bahkan jika didapati jalinan kasih antara orang Isam dan non-Muslim yang melakukan pernikahan pun tidak ada larangan, selagi tidak sampai membocorkan soal akidah dan keimanan masing-masing. Mengakhiri tulisan ini penulis mengutip pendapat Syaikh Tanthawi yang menyatakan bahwa tidak semua orang Yahudi dan Nasrani zalim dan buruk. Dalam suatu bangsa ada dari mereka yang memiliki cita-cita yang sama untuk membangun peradaban. Mereka tidak memiliki keinginan untuk membuat kerusakan dengan orang Islam. [Lufaefi]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!