Meminimalisir Radikalisme dan Terorisme

4
656

Sangkhalifah.co — Merenggangnya keharmonisan dalam masyarakat dapat menciptakan lunturnya perdamaian antar umat beragama. Intoleransi tidak hanya menjadi tantangan di Indonesia, tapi juga di negara berkembang maupun negara maju seperti Amerika Serikat. Amerika Serikat masih rentan sekali intoleransi antara warna kulit putih dan hitam dan lain sebagainya.

Alamsyah M Dja’far menyatakan bahwa intoleransi merupakan tahap awal atau dasar sebelum melakukakan tindakan radikalisme, dan kemudian terorisme. Intoleran tidak selalu menjadi radikal, tetapi orang-orang radikal dan teroris pasti intoleran.

Radikalisme terjadi tidak hanya di satu agama, tetapi juga pada agama-agama lain. Sebab semua agama memiliki golongan yang pemahamannya Radikal. Penganut agama Katolik yang melakukan pengeboman kantor FBI di Amerika Serikat dan penganut agama Hindu yang membunuh Presiden Rajiv Gandhi. Adanya sikap intoleran di Indonesia tentu sangat meresahkan dan membahayakan. Negara kita ini didirikan di atas asas kebhinekaan dan intoleransi itu merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara Indoensia.

Tameng Santri Millenial

Banyak tameng yang bisa digunakan dalam mempertahankan keutuhan negara dan agama. Terfokus dalam agama Islam, istilah santri mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kaum Muslim. Dunia pesantren dikenal sebagai rumah pengkaderan umat Islam yang di dalamnya diajarkan bagaimana berakhlak, toleransi, kasih sayang, hingga beribadah dengan nyaman dan penuh kedamaian. Hingga jika sikap intoleran ini sangat dikhawatirkan, ini merupakan solusi tepat untuk mengajarkan pemuda Islam sebagai pelopor dunia memberantas sikap intoleransi ini yang katanya merupakan cikal bakal lahirnya radikalisme hingga terorisme.

Tidak hanya itu, para santri juga memang sudah dididik bagaimana menjadi warga negara yang baik, bagaimana mencintai negaranya sendiri (hubbul wathon). Maka dari itu, sangat diharapkan sekali muncul kader-kader umat yang bisa dibilang “santri millenial”. Sebab, mereka sudah berkecimbung di dunia teknologi maju, harapannya ketika santri itu menggunakan sosial media, minimal bisa mengenalkan konsep cara beragama yang baik dan penuh kasih sayang. [Syfa Fauziah]

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!