Membumikan Kembali Islam Yang Romantis

0
398

Sangkhalifah.co — Islam merupakan sebuah ajaran yang menitik tekankan tentang pentingnya hukum dan cinta. Dalam perjalanan sejarahnya, agama ini pernah menjadi titik sentral peradaban, karena selalu mengedepankan kemanusiaan. Itulah mengapa sampai sekarang masih banyak yang mengibarkan tentang istilah, Islam yang rahmatan lil alamin (Islam yang memberikan rahmat bagi semua orang).

Inilah yang seharusnya senantiasa disuarakan di era modern sekarang ini. Bahwa ajaran tentang Islam bukan tentang kekerasan. Seperti misalnya terorisme, dan kekejaman yang mengatasnamakan Islam, itu murni bukan ajaran tentang Islam. Sebab, mereka yang melakukan kekerasan tersebut, pasti belum memahami betul makna ajaran Islam yang sebenarnya. Kemungkinan besar ia hanya membaca dan tanpa berguru, serta hanya membaca dan memaknai sebagian dari ayat-ayat yang terkandung (tidak memaknai secara menyeluruh), hingga kemudian membuat dirinya salah menafsirkan dan merugikan orang lain.

Islam yang berlandaskan al-Quran senantiasa mengamalkan tentang kebaikan-kebaikan. Karena al-Quran adalah sebuah kitab suci yang menempatkan manusia dan persoalan hidupnya sebagai tema sentral. Ungkapan tentang hudan lin naas dalam surah al-Baqarah ayat 185 atau hudan lil muttaqin dalam surah al-Baqarah ayat 2 menjadi bukti bahwa al-Quran menawarkan dirinya secara fungsional untuk memimpin manusia secara moral ke arah jalan yang lurus dan benar (Hlm 140).

Al-Quran di sini menekankan bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara, di lain sisi juga memberikan penegasan bahwa umat manusia merupakan satu kesatuan. Dengan ungkapan lain, orang-orang mukmin tidak halal menggunakan imannya untuk merobek-robek dan menghancurkan doktrin kesatuan umat manusia. Ini artinya, bahwa seorang muslim haruslah mengintegrasikan imannya dengan wawasan kemanusiaan.

Untuk menciptakan pilar-pilar peradaban yang lebih stabil, Al-Quran menawarkan kekuatan fikr dan zikr untuk diintegrasikan secara mantap. Sebagaimana dalam perjalanan sejarah, dominan zikr (kesadaran mendalam tentang kehadiran Tuhan) semata dengan mengesampingkan fikr (penalaran) tidak membawa kemajuan dalam peradaban manusia. Sebaliknya pendewaan terhadap penalaran telah membawa sejarah manusia kepada satu situasi yang serba membosankan, ganas, dan kehilangan terhadap visi yang ultimate. Konsep al-Quran tentang umatan wasathan (umat penengah) adalah wujud konkrit dari masyarakat yang diidamkan (Hal 115).

Dari situ wawasan ilmu dan kemanusiaan yang serba terbatas perlu secepatnya diganti dengan wawasan yang lebih kreatif. Dimana, seorang muslim di samping menjadi warga negara secara sadar, ia pada waktu yang sama juga harus tampil sebagai warga dunia secara sadar pula. Bukankah umat Islam mengklaim bahwa risalah Muhammad itu adalah sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta). Maka menjadi sebuah kebodohan sejarah yang tidak dapat dimaafkan bila umat ini masih melanggengkan wawasan yang sempit sebagai manifestasi dari ketidaktahuan tentang makna Al-Quran bagi peradaban manusia yang bermoral.

Hal ini sebenarnya menitik tekankan bahwa umat muslim harus beranjak dari pemikiran yang hanya mementingkan kebenaran dari dirinya sendiri. Karena apa yang diajarkan oleh nabi Muhammad adalah manusia itu saling mengasihi, menyayangi serta memberikan kebaikan bagi orang lain. Pada titik tertentu Al-Quran memerintahkan agar agama-agama dunia saling berkompetisi dalam menegakkan kebaikan, bukan hanya menyulut api permusuhan dan pertentangan.

Lahirnya buku ini memberikan sebuah wejangan, agar manusia yang beragama mampu mengembangkan keagamaan ke arah yang lebih luas. Pemikiran-pemikiran baru harus dikembangkan dan dikeluarkan kembali, agar manusia tidak selalu berpikir monoton. Sebagaimana ketika kita membicarakan tentang Islam, dapat kita simpulkan bahwa posisi Islam sekarang masih belum banyak beranjak dari posisinya yang lampau. Sudah hampir satu abad sepeninggalan AL-Afghani dan Abduh, belum banyak yang bisa kita sumbangkan dari segi pemikiran Islam fundamental, demi mengangkat umat ke posisi yang lebih layak.

Untuk itu sudah seharusnya buku ini menjadi bahan ajar untuk setiap orang. Selain sebagai sumber motivasi untuk menuju Islam yang berkemajuan dan romantis, pembaca juga akan menemukan khazanah peradaban sejarah yang sangat luas. Hingga seseorang akan menemukan poin-poin yang menyenangkan dalam beragama dan berinteraksi dalam masyarakat. []

*Suroso, Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga

Leave a reply

error: Content is protected !!