Membubarkan FPI Sama Dengan Memusnahkan Ekstrimisme dan Terorisme

1
107

Sangkhalifah.co — Pembubaran FPI dengan berbagai rangkaian peristiwa yang menjadi alasannya masih diungkit-ungkit oleh sebagian kelompok ekstimis radikal. Mereka berandai-andai kalau pembubaran FPI menjadi pangkal kehancuran bangsa Indonesia. Matinya enam laskar FPI di Kilometer 50 didengungkan sebagai kekerasan aparat. Yang terakhir, ditangkapnya pentolan FPI Rizieq Shihab dan Munarman diframming sebagai bentuk kriminalitas para ulama yang berdampak pada rusaknya moralitas bangsa.  Asumsi-asumsi di atas tidak keluar kecuali dari mulut pelaku teror dan kelompok ekstrimis.

Alasan pembubaran FPI oleh pemerintah bukan alasan yang mengada-ada. Baik secara hukum tata negara dan hukum Islam, semua sudah sejalan dan seharusnya dilakukan. Sesuai UU Ormas tahun 2017, eksistensi ideologi negara berupa UUD, NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, harus terus dijaga dari serangan ideologi radikal atas nama apapun, termasuk mengatasnamakan Islam, seperti FPI yang menggunakan jargon NKRI Bersyariah untuk perlahan memberangus ideologi-ideologi negara tersebut. Alasan ini diperkuat dengan visi FPI yang mencita-citakan berdirinya negara Islam Khilafah Islamiyyah.

Selain itu, FPI juga pada saat itu belum memperpanjang Surat Keterangan Perpanjangan organisasinya, yang berakhir pada 20 Juni 2019. Di lain itu, ketika FPI tidak memiliki surat izin perpanjangan, justru aktivitas mereka terus berjalan dan memecah belah umat. Alasan-alasan berikutnya karena dalam faktanya, ada banyak anggota FPI yang telah terlibat aksi terorisme. Sebagaimana dulu pernah disampaikan Wakil Menteri Hukum dan HAM Eddy Heriaj, bahwa sudah ada 206 anggota FPI yang terlibat aksi terorisme, dan 100 di antaranya telah dijatuhi pidana.

Sebetulnya masih banyak alasan yang lainnya mengapa FPI harus dibubarkan. Selain misalnya, FPI senang dengan perbuatan pemberontakan atau yang biasa dinamakan Sweeping, atas nama Nahi Mungkar. Parahnya, FPI justru membuat kekerasan fisik dengan pentungan. Sudah bukan rahasia umum kalau FPI gemar membuat sweeping ke warga-warga yang berada di diskotik, warung makan di siang bulan Ramadhan, hiburan-hiburan, dan kegiatan-kegiatan budaya lainnya yang dianggapnya musyrik. Kebiasaannya senangn dengan membuat keributan di tengah masyarakat.

Ketika alasan-alasan pembubaran FPI sudah jelas dan nyatanya FPI juga sudah dibubarkan, maka langkah selanjutnya adalah masyarakat harus juga ikut mengawasi kehidupan keagamaan di tengah-tengah mereka sendiri. Yaitu agar jangan sampai ada lagi anggota-anggota atau eks FPI yang membuat kegiatan atas nama apapun, baik atas nama pengajian, perkumpulan biasa, apalagi membuat hal-hal yang mencurigakan seperti merakit bom, melakukan sweeping, dan kegiatan lain yang bisa merugikan moral masyarakat lainnya.

FPI tidak ada lain kecuali organisasi terorisme. Apa yang dilakukan para pentolan FPI sudah sangat jelas, mereka melakukan hal-hal ekstrim karena merasa paling benar dan merasa paling pintar dalam beragama. Pentolan mereka ditangkap karena menyembunyikan hasil Swab Tes. Ia juga mmebuat kerumunan besar-besaran di tengah masyarakat sedang melakukan social distancing. Pentolan yang lainnya justru membuat tak-tik lain menggerakkan anggota-anggotanya yang tidak punya nalar untuk bergabung dengan terorisme. Tidak tanggung-tanggung, ia berada dalam satu forum pembakaran dengan ISIS.

Upaya pemerintah membubarkan FPI tidak akan bisa berdampak baik jika masyarakat tidak mendukungnya. Sebab kita yakin masih banyak sel-sel tidur anggota FPI yang perilakunya radikal dan tindakannya ekstim serta itu belum terjamah oleh penegak hukum. Tugas kita semua di masyarakat bawah adalah mengawasi benar-benar agar jangan sampai ada sel-sel FPI yang masih bergentayangan, apalagi melakukan kekerasan seperti sebelum dibubarkan. Memusnahkan FPI adalah sama dengan memusnahkan sel-sel gerakan ekstrimsme dan terorisme. [Eep]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!