Membendung Radikalisme di Kalangan Milenial

4
435

Sangkhalifah.co — Generasi penerus bangsa diharapkan bisa membawa bangsa ini menuju kemajuan. Wajah bangsa ini di masa depan bergantung wajah generasi muda bangsa saat ini. Ketika hari ini generasi bangsa diisi anak-anak muda yang cerdas dan unggul secara pemikiran, berakhlak, punya pemahaman agama yang moderat, dan memiliki semangat kebangsaan, besar kemungkinan masa depan Indonesia menjadi cerah, maju, dan damai.

Sebaliknya, jika hari ini generasi muda bangsa diisi anak-anak yang lemah, kurang memiliki etika dan adab, serta memiliki mentalitas intoleran dan kekerasan, maka wajah bangsa di masa depan menjadi mencemaskan. Munculnya aksi bom bunuh diri yang kerap dilandasi pemahaman agama yang ekstrem selama ini, yang tak jarang melibatkan kalangan generasi muda, mesti menjadi alarm bagi kita semua agar semakin waspada dan menguatkan daya tangkal agar generasi bangsa kebal pengaruh-pengaruh paham kekerasan tersebut.

Membiarkan generasi bangsa dipengaruhi dan bahkan dikuasai paham-paham atau doktrin radikalisme jelas berbahaya. Selain menciptakan keresahan dan merusak kedamaian di masyarakat, terpaparnya generasi bangsa oleh doktrin kekerasan juga bisa mengancam eksistensi kita sebagai sebuah bangsa. Sebab kita menyadari bahwa bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia ini, kunci keharmonisan adalah terus menjaga toleransi dan penghargaan pada perbedaan.

Baca Juga:

Generasi muda bangsa menjadi rentan terpengaruh doktrin radikalisme atau kekerasan sebab mereka masih dalam tahap perkembangan dan pencarian jati diri. Generasi muda punya keinginan kuat untuk mencari makna hidup serta membuktikan eksistensi diri. Dari sana, mereka kerap kali mudah terpengaruh pemikiran dari lingkungan sekitar maupun sumber-sumber lain yang didapatkannya, sehingga tak jarang mereka akhirnya terjerumus doktrin-doktrin kekerasan, entah yang bersumber dari radikalisme atau ektrimisme agama, kebencian rasial, dan lain sebagainya.

Menangkal Dari Tiga Aspek

Penulis melihat, menyelamatkan generasi bangsa dari paham kekerasan harus dilakukan secara komprehensif. Tiap-tiap bagian dari masyarakat mesti memaksimalkan perannya dari lingkungan masing-masing. Di samping itu, ada beberapa aspek yang mesti mendapatkan perhatian serius dalam upaya tersebut.

Pertama, aspek keluarga. Orangtua mesti bisa meletakkan fondasi anti radikalisme yang kuat terhadap anaknya, memastikan anak tumbuh dan berkembang dalam suasana harmonis, di mana setiap anggota keluarga mendapatkan ruang berekspresi mengungkapkan pemikirannya masing-masing. Keluarga mesti menjadi tempat menanamkan dan menyemai bibit-bibit toleransi, bukan tempat menanamkan kebencian dan kekerasan lewat pengasuhan otoriter.

Sayangnya, kondisi keluarga di Indonesia masih jauh dari hal tersebut. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan sebanyak 4.294 kasus kekerasan pada anak dilakukan oleh keluarga dan pengasuh (2011-2016). Sedangkan laporan “Global Report 2017: Ending Violence in Childhood”, sebanyak 73,7 persen anak-anak Indonesia berumur 1-14 tahun mengalami pendisiplinan dengan kekerasan (violent discipline) atau agresi psiologis dan hukuman fisik di rumah. Anak belajar kekerasan melalui pengalaman hukuman fisik maupun menyaksikan langsung kekerasan baik di keluarga maupun di lingkungan lain. Oleh karena itu, orangtua mesti bisa membangun keluarga yang bebas dari nilai-nilai, sikap, dan perilaku kekerasan.

Kedua, aspek sekolah. Selain di rumah, sekolah menjadi lingkungan kedua tempat anak menghabiskan waktunya. Di sinilah, sekolah atau dalam hal ini guru, berkewajiban turut melindungi anak dari penyebaran paham kekerasan. Melalui pengajaran di kelas maupun interaksi di luar kelas, para guru sebisa mungkin dituntut mampu menciptakan pembelajaran atau suasana sekolah yang memungkinkan berkembangnya nilai-nilai toleransi agar fondasi anti kekerasan yang dibangun di keluarga bisa semakin terasah di lingkungan sekolah.

Misalnya, hal tersebut bisa dibangun dengan membangun dialog harmonis antar-siswa yang berasal dari berbagai macam latar belakang agama, etnis, suku, dan budaya. Sekolah mesti bisa menjadi tempat berseminya persaudaraan dan toleransi antar-siswa yang berbeda, baik secara primordial maupun berbeda secara pemikiran. Ketika terjadi perselisihan, guru mesti mampu mengarahkan siswa berdialog saling mendengarkan, sehingga sejak dini anak sudah terbiasa dengan perbedaan dan terhindar dari sikap dan tindakan kekerasan. Kabar-kabar tentang ditemukannya guru hingga buku pelajaran bermuatan paham radikal menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar ke depan sekolah bisa benar-benar terbebas dari bibit-bibit kekerasan. 

Ketiga, aspek dunia maya atau internet. Ini satu dunia baru yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian generasi muda, juga menjadi media yang kerap dimanfaatkan kelompok radikal dan ekstremis untuk menebarkan doktrin-doktrin kekerasan, bahkan melakukan rekruitmen. Berita-berita selama beberapa tahun terakhir mengabarkan betapa banyak remaja dan pemuda dari berbagai negara terpapar paham radikal dari dunia maya sehingga nekat terbang ke Irak dan Suriah demi bergabung dengan kelompok ISIS.

Jelas, interaksi generasi muda kita dengan internet mesti mendapatkan perhatian khusus. Di kalangan anak-anak, orangtua mesti melakukan pemantauan, pendampingan, dan bimbingan kepada anak saat mengakses internet. Di kalangan remaja dan anak muda, kecakapan literasi digital mutlak ditanamkan. Sebab ini kunci agar generasi muda bisa bersikap kritis dalam mengkonsumsi setiap informasi dan berita, sehingga tak gampang terprovokasi konten-konten dan narasi radikal di dunia maya.

Upaya menyelamatkan generasi bangsa dari doktrin radikalisme agama serta kekerasan kini memang kian kompleks. Tantangan dan ancaman paham kekerasan mengintai dari berbagai aspek, lingkungan, juga media. Maka, tak ada pilihan lain kecuali membulatkan tekad, bersinergi untuk sama-sama melindungi generasi bangsa dari paham kekerasan dengan terus mendidik dan membimbing mereka agar menjadi generasi bangsa yang toleran, beradab, berakhlak, dan bisa hidup harmonis dalam perbedaan. []

*Al-Mahfud, Esais dan Presensi

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!