Membaca Keterlibatan Kalangan Terdidik dalam Ekstrimisme

1
345

Sangkhalifah.co — Setiap mendengar kata “jihadis” dan aksi “bom bunuh diri”, acap kali ada yang bereaksi dengan sebuah pertanyaan: apakah dia berasal dari Islam? Pertanyaan ini memang tidak mewakili secara umum, tapi pertanyaan itu menjadi refleksi sendiri untuk insan yang beragama Islam. Ada apa gerangan! Fakta-fakta di lapangan selalu ditampilkan bahwa yang terlibat adalah yang menganut agama Islam. Sebab itulah, pola pikir yang terbentuk akhirnya, setiap jihadis adalah Muslim.

Para jihadis memang memiliki agama tapi dipastikan mereka adalah penganut agama yang tidak mampu bergumul dengan agamanya dengan baik dan sempurna. Ciri orang yang beragama yang baik adalah mereka yang semakin beragama semakin tampil dengan cita-cita Nabi; menebar Islam rahmatan lil alamin. Sebaliknya, mereka yang beragama tapi tidak tembus pada sosial-muamalah, mereka adalah para pembajak agama dan manipulator agama serta berlindung dibalik firman-firman agama.

Sebuah buku berjudul Para Perancang Jihad yang ditulis oleh Diego Gambetta dan Steffen Hertog ini menjadi menarik. Pertanyaan yang diajukan dalam buku ini adalah “mengapa kalangan terdidik banyak terlibat ekstrimisme dan kekerasan?” secara sepintas yang tertuju yakni kalangan eksakta. Buku ini ditulis untuk bereaksi dan memuat fakta-fakta di lapangan tentang mereka yang terdidik—yang memiliki kecukupan ilmu pengetahuan umum.

Diego Gambetta dan Steffen Hertog mendedahkan dan menkonfirmasi sistematis atas fenomena keterkaitan antara tindakan radikal dengan jurusan eksakta. Kedua penulis memulai dengan mengumpulkan 497 daftar anggota kelompok radikal di dunia Islam yang aktif sejak 1970-an. Buku sejenis yang memaparkan fakta dengan menyajikan penuh keilmiahan belum ditemukan di Indonesia.

Buku ini dimulai dengan sajian persebaran sarjana tehnik di kalangan radikal Islam yang katif di negara-negara Muslim; dilanjutkan dengan sajian teori deprivasi relatif sebagai sumber radikalisasi dan data pendidikan kaum ekstrimis Muslim; kemudian mengupas soal kesesuaian antara ideologi kaum ekstrimis Islam—meliputi serangkaian kepercayaan, nilai dan selera—dengan kelompok non-Islamis. Dan yang terpenting dari buku ini adalah sifat dan ciri kepribadian sebagai pembeda dari berbagai tipe ekstrimis.

Nama-nama seperti Umar Farouk Abdulmutallab, asal Nigeria yang gagal meledakkan pesawat jurusan Amsterdam—Detroit pada 2009—merupakan sarjana teknik mesin dari University College London; Muhamed Game, asal Libya yang meledakkan diri dengan dua kilogram nitrat di pintu masuk Caserma Santa Barbara, sebuah barak militer di Milan pada 2009 merupakan pemegang gelar sarjana elektronik; Bekkay Harrach seorang Jerman-Maroko yang terkenal—juga di tahun 2009—atas rekaman video ancaman jihadnya kepada pemerintah Jerman, merupakan mahasiswa studi teknologi laser dan matematika; Azahari Husin, perancang bom Bali terkenal merupakan ahli teknik dengan gelar Ph.D dari Universitas Reading dan merupakan dosen di Universitas Teknik Malaysia; begitu pula Lalu Mohammad Atta (berkebangsaan Mesir) dan Khalid Sheikh Mohammed (Kuwait)—tokoh-tokoh utama peristiwa 9/11—merupakan seorang yang mengambil fokus studi di bidang teknik; ada yang bidang tata kota di Hamburg dan satunya jurusan teknik mesin di Amerika Serikat.

Mereka-mereka yang disajikan dalam bab satu itu begitu mudahnya mencampakkan karir mereka yang sukses, kemudian bergabung dengan jalan perjuangan yang tidak dibenarkan oleh agamanya. Faktor pengangguran bukan sebab utama. Faktor ini misalnya tidak berlaku pada Abdul Subhan Qureshi, seorang pemegang proyek besar dan intranet bagi Bharat Petro-Chemicals yang dijalankan oleh Wipro pada tahun 1999.

Pendeteksian jenis universitas dan belajar apa, kedua penulis itu menfokuskan pada tujuh pengelompokan. Dari sampel kaum Islamis yang ditemukan disiplin studinya, studi yang dijalani 207 dari 231 individu mendapat paparan pendidikan tertinggi (lihat gambar di bawah). Jurusan tehnik menempati posisi tertinggi sebanyak 93 dari 207 (44,9 persen) dan disusul oleh studi Islam yang berjumlah 38. Jurusan “Studi Islam” dalam buku ini tidak menyebutkan secara detail. Berbeda ketika menjelaskan pembagian tehnik seperti tehnik sipil, elektronika, komputer, mesin dan lainnya.

Dari 497 daftar anggota kelompok radikal di dunia Islam yang aktif sejak 1970-an, Palestina menempati posisi tertinggi dengan jumlah total dalam sampel sebanyak 128—dengan yang berpendidikan tinggi sebanyak 68. Dalam ingatan kaum Muslimin, Palestina ini merupakan titik awal pendiri Hizbut Tahrir Indonesia dalam mengembangkan gagasan khilafah-nya, namun tidak ada yang dituai di negara asalnya. Sedangkan Indonesia menempati posisi ketiga dengan jumlah 53—dengan yang berpendidikan tinggi sebanyak 12 orang.

Peralihan menjadi buruk dan menuju gerakan ekstrim tidak saja faktor individu, salah satunya sebab keadaan yang tidak bisa menampung keahlian mereka. Sebagaimana umumnya mahasiswa/wi, mereka terlalu berangan-angan tinggi setelah lulus mereka akan berjaya dengan keilmuan yang digelutinya. Tapi faktanya, banyak yang bekerja di luar keilmuan yang dipelajari di bangku kuliah. Faktor ini juga didukung oleh tidak sensitifnya pemerintah dalam membaca perkembangan dunia ilmu pengetahuan, sains dan studi kegamaan dalam kurung waktu yang panjang.

Banyak pembelajar tidak menyadari bahwa kesuksesan dan kenyamanan hidup tidak semata-mata didukung oleh faktor pendidikan tinggi. Seperti fakta yang ditemukan dalam buku ini, pada masa rezim Timur Tengah atau generasi pertama radikal Islamis pada tahun 1970an dipenuhi oleh individu-individu yang sangat terdidik. Mereka justru masuk ke dalam ruang penderitaan berupa kemunduran ekonomi, kecewa secara sosial dan beralih dengan menyalurkannya lewat kekerasan.

Salah satu kesimpulan yang perlu kita renungkan dari sajian buku ini yakni adanya bentuk kekecewaan; antara harapan yang memuncak dengan keadaan di lapangan yang tidak sesuai. Misal disebutkannya, adanya program ‘developmentalisme’. Generasi muda berlomba-lomba mengambil jurusan sejenis, tetapi fakta setelah mereka selesai tidak adanya tempat yang luas untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Maka gerakan radikal menjadi jalan keluar; semacam protes dan pelarian atas tumpukan kekesalan dalam diri. Fenomena ini mungkin juga terjadi di Indonesia (?). []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!