Membaca Kembali Infiltrasi Kelompok Fundamentalis (1)

0
720

Sangkhalifah.co — Gerakan transnasional, fundamentalis, radikal-teroris memiliki ciri khas masing-masing dalam mendakwahkan doktrin kelompoknya. Misalnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Salafi-Wahabi. Semuanya memiliki titik penekanan tapi tujuan semuanya sama: menegakkan khilafah Islamiyah (negara yang berbasis ideologi Islam). Tapi apapun jenis kelompoknya, semuanya memulai dengan pembangunan ideologi, meneruskan dengan penyebaran ideologi, dan mengakhiri dengan mewujudkan ideologi/sistem.

Mereka semuanya mendakwahkan gagasan/sistem yang ditawarkan memiliki prinsip utama: “usaha mengubah keadaan”. Jadi dakwah tidak cukup hanya dengan menyerukan kebaikan kepada orang lain atau kelompok yang berbeda, melainkan harus ada usaha mengubah. Dalam paradigma HTI, perubahan ada yang bersifat islahiyyah (reformatif) dan inqilabiyyah (revolusioner). Dan semua kelompok fundamentalis dan radikal-teroris menginginkan perubahan inqilabiyah bukan islahiyyah. Mengapa? Bagi mereka islahiyyah hanya mengubah kulit tidak dasarnya. Sedangkan inqilabiyah pasti dimulai dari perubahan akidah.

Perubahan inqilabiyyah (revolusioner) dilakukan dengan melihat patokan utamanya: “keadaan rusak (menurut perspektif kelompok masing-masing)” atau “keadaan tidak menggambarkan kehidupan Islami”. Disini kita harus membedakan antara “kehidupan Islami” dengan “kehidupan yang Islami”. Kehidupan Islami adalah perubahan secara totalitas, sedangkan kehidupan yang Islami menyesuaikan karakter dan sifat sebuah bangsa-negara. Sebab itu, semua kelompok radikal-teroris menolak Pancasila dan demokrasi. Karena tujuan Pancasila dianggap sekuler, dan bungkus dari perwujudan nilai-nilai Pancasila tidak memakai bungkus Islam (Islam harus dilegal-formalkan).

Meminjam paradigma HTI, kenapa Islam harus dilegal-formalkan, karena Islam adalah agama dan mabda’ yang sempurna, dan tidak memerlukan tambahan agama maupun ideologi lain. Jadi wujud dari segala sesuatu harus betul-betul serba Islami. Mereka menganggap juga, Islam bukan sekedar jaulah fikriyyah (intellectual exercise) melainkan harus dipraktikkan tanpa kompromi sama sekali. Dalam paradigma kaum Muslim yang moderat, mereka menghendaki formalisasi syariat dalam segala aspek.

Mereka memiliki perbedaan tajam dalam hal mewujudkan ideologi/sistem–walaupun terkadang di antara mereka ada anggota yang tidak tahan untuk segera memberlakukannya, seperti Bahrun Naim yang berpindah dari HTI ke kelompok teroris. Disini nanti ada sifat kepengaruhan dari eksternal. Bahrun Naim maupun Munir Kartono (anak buah Oman Abdurahman) sama-sama telah terpikat kelompok lain sejak ‘mengimani’ (mengamalkan pemikiran utama Hizbut Tahrir) pemikiran para pendiri Hizbut Tahrir (Taqiyuddin Al-Nabhani, Abdul Qadim Zallum dan Abu Rasytah). Tapi keduanya sama-sama menjadikan buku “Islam, Dakwah dan Politik” yang dikeluarkan Pustaka Thoriqul Izzah (yang menerbitkan buku-buku seputar HTI) sebagai pijakan dalam bertransformasi ke ruang yang lebih ekstrim. Bahrun Naim terpikat mewujudkan melalui ISIS, sedangkan Munir Kartono terpikat melalui Jamaah Ansharut Daulah.

Dalam konteks sekarang, tidak semuanya kelompok transnasional melakukan metode infiltrasi ke internal pemerintah dan lembaga/institusi negara. Sifat menyusup–dalam konteks sekarang–digunakan secara masif oleh kelompok transnasional bernama Salafi-Wahabi, Hizbut Tahrir Indonesia (walaupun sudah dilarang tapi masih banyak yang terafiliasi dan menghidupkan jaringan bawah tanah) dan Jamaah Tabligh. Potensi bahaya infiltrasinya bisa berbeda-beda, seperti antara Jamaah Tabligh dengan Salafi/Wahabi, Hizbut Tahrir Indonesia dan gerakan Tarbiyah (corong Ikhwanul Muslimin). Jamaah Tabligh hingga kini tidak memikirkan sebuah gerakan politik yang fundamental.

Ketiga kelompok yang gencar melakukan infiltrasi ke segala lembaga negara, termasuk keamanan negara (kepolisian dan militer) dalam rangka mendapatkan “tholabun nusroh” (memperoleh pertolongan) jika di waktu-waktu tertentu mendapatkan tekanan; jika dari pemerintah maka oknum yang bersangkutan berfungsi untuk memobilisasi (secara data dan argumen/hujjah) dan eksternal (di luar kelompoknya).

Ketiganya telah melakukan upaya ditahap “persiapan”. Tapi aspek ini, Jamaah Tabligh tidak memiliki orientasi perubahan di tatanan politik yang berkembang. Berbeda dengan Salafi-Wahabi, Hizbut Tahrir Indonesia dan gerakan Tarbiyah, yang memiliki orientasi ke aspek pergerakan, politik dan pemerintahan. Sebab itu, dari ketiga kelompok di atas, yang berani mendeklarasikan dirinya adalah Salafi-Wahabi. Misalnya mereka melakukan infiltrasi ke internal kepolisian dengan “Polisi Cinta Sunnah”-nya (disingkat PCS) atau gerakan Tarbiyah dengan “LDK”-nya. Ini yang saya sebut telah melakukan “pembentukan jamaah”. Sebuah tahap awal dari tahap “persiapan”.

Bedanya lagi, perwujudan “pembentukan jamaah” antara PCS (yang kini berubah nama menjadi “Pembelajar Cinta Sunnah”) dan LDK (Lembaga Dakwah Kampus) pada aspek resource mobilitation (mobilisasi massa) dengan paradigma andalannya discontent theory (ketidakpuasan) dan relatif deprivation (deprivasi relatif). PCS belum (tapi potensi ada) tergiur untuk aspek mobilisasi massa dalam menggoyang tatanan pemerintahan.

Kesamaan paradigma dari gerakan infiltrasi Salafi-Wahabi dan gerakan Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) adalah fungsinya; mengubah pola pikir orang-orang di dalam sebuah lembaga/institusi. Karena tujuannya adalah “rekonstruksi keimanan”. Aspek keimanan ini harus dimiliki oleh jamaah sebagai modal untuk “pembuatan kekuatan” (tahap kedua dari “persiapan”).

Perwujudan “PCS” dan “LDK” menandakan mereka telah memiliki kelompok-kelompok atau jamaah-jamaah di berbagai sektor. Keduanya pun telah melakukan tahap ketiga yaitu “testing”. Misalnya PCS dalam mengundang Khalid Basalamah untuk mengisi kajian di Markas Ditpolair atau Mako Paspampres dan lain sebagainya. Ini merupakan “testing” kekuatan dan militansi jamaah/kader mereka. Tujuan “testing” ini untuk mengetahui apakah mereka telah bisa melakukan “penggunaan kekuatan” dari dalam dan luar. Maka siapapun yang mengkritik mereka akan mendapatkan serangan narasi/opini secara bertubi-tubi.

Adapun jika HTI yang melakukan infiltrasi maka fungsinya tidak sekedar “mengubah pola pikir” tapi “menanamkan sikap oposisi” dan “menanamkan sikap tidak percaya kepada pemerintah”. Ini dua tajuk yang menonjol dalam gerakan infiltrasi Hizbut Tahrir Indonesia ke segal sektor dan lini.

Dengan demikian, gerakan infiltrasi oleh kelompok transnasional ini jangan hanya dibaca dalam perspektif bahwa mereka belum melakukan upaya mengajak seseorang untuk makar/bughot. Jangan! Semua yang melakukan infiltrasi saat ini masih bermain di wilayah “rekonstruksi keimanan” dan tahap “persiapan”. Seperti Salafi-Wahabi, gerakan yang masuk adalah varian mereka yang bernama Salafi Hijazi. Varian yang hanya membahas soal aspek keimanan, tauhid dan muamalah. Tapi varian ini berpotensi untuk beralih ke varian Salafi Haraki (gerakan politik) dan Salafi Jihadi (gerakan bersenjata). Sebab apapun variannya, doktrin utamanya “tidak menerima kebenaran pada diri orang lain dan tidak menerima kesalahan pada diri mereka sendiri”. [Bersambung]

Leave a reply

error: Content is protected !!