Memaknai Puasa Ramadan Sebagai Spirit Membina Kebersamaan

1
95

Sangkhalifah.co — Bulan Ramadan sangat istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya. Kehadirannya ditunggu oleh umat muslim di segala penjuru dunia. Saat Ramadan tiba, mereka pun berlomba-lomba untuk mendapatkan kemuliaan dan hikmah di bulan ini. Amalan puasa tidak lengkap, apabila tidak disertakan pula kesunnahan lain yang mengundang pahala. Salah satunya adalah berbagi kepada sesama. Sehingga, puasa di siang hari dan salat tarawih di malam harinya tidak cukup bila belum mampu menyadarkan diri sebagai makhluk sosial.

Ramadan bukan saja penting dimaknai sebagai ajaran. Akan tetapi, lebih jauh Ramadan harus menjadi ajang menciptakan rasa kebersamaan. Hal demikian telah disinggung oleh Yusuf Qardhawi dalam Fiqh al-Shaum menyatakan bahwa puasa Ramadan merupakan ibadah terbaik dari sekian puasa yang pernah dijalankan oleh umat manusia. Karena, puasa Ramadan menjadi wajib kepada setiap umat muslim tanpa memandang kasta atau kedudukannya.

Secara tidak langsung dari sini, tersirat makna bahwa puasa telah menjadi satu di antara media yang menciptakan kebersamaan umat muslim. Di bulan yang sama, mereka akan sama dalam menjalankan amal wajib berpuasa. Bukan saja karena puasa sebagai rukun Islam, akan tetapi puasa telah menjadi model terbaik untuk menjaga solidaritas antar sesama. Lihatlah bagaimana orang yang berpuasa cara meyakinkan diri dengan niat di malam harinya. Mereka begitu kuat untuk sama-sama berpuasa di esok harinya.

Secara historis, lanjut Yusuf Qardhawi bahwa puasa umat-umat terdahulu masih dalam tataran ibadah yang tidak komprehensif. Sebagian umat terdahulu berpuasa hanya menahan diri dari memakan hewan yang tidak bernyawa. Sedangkan makan dan minum tetap berjalan seperti biasa, juga tidak ada larangan bersenggama. Dalam kata lain, mereka seperti berpuasa tapi tidak sepenuhnya jika dipandang dari perspektif Islam.

Tentu saja puasa dalam pandangan Islam berbeda dengan pengertian puasa umat terdahulu. Dalam tradisi lain misalnya, bahwa sebagian berpuasa hingga berhari-hari tanpa jeda waktunya. Hal ini tentu memberatkan tubuh manusia secara kebiasaan. Sehingga, puasa saat itu hanya dilakukan oleh kalangan tertentu saja. Dari sini, dikatakan bahwa puasa kala itu masih berupa amalan khusus yang hanya bisa dilakukan orang khusus pula. Lalu bagaimana esensi puasa Islami yang membedakannya dengan puasa lainnya?

Esensi Ramadan Sebagai Bulan Kerukunan

Ketika seseorang berpuasa Ramadan, itu berarti tengah melaksanakan ibadah bersama jutaan muslim di dunia. Selain menjadi ajang perjuangan meraih pahala, puasa juga mendorong orang untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Salah satunya sedekah memberikan sesuatu kepada orang lain yang menjadi amal unggulan di bulan Ramadan. Walaupun sedikit, sedekah menunjukkan sifat kedermawanan yang sangat disukai Allah. “Sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan,” HR. at-Turmudzi

Puasa dalam Islam bukan hanya menjadi rukun yang wajib dilakukan seorang muslim. Dilihat dari segi substansial, ibadah puasa memiliki arti yang begitu luas layak diketahui. Seperti diriwayatkan oleh Bukhari Muslim bahwa puasa dijanjikan pahala langsung oleh Allah, puasa juga memiliki dua kebahagiaan bagi pelakunya. Satu dirasakan langsung saat di dunia, yakni saat berbuka puasa. Satu lagi merupakan kebahagiaan saat bertemu Allah kelak di akhirat.

Di bulan Ramadan ini menjadikan semua muslim turut merasakan lapar secara bersamaan. Baik kalangan rakyat jelata hingga pejabat kaya raya semua wajib berpuasa. Pada saat itulah, semua serentak merasakan lapar dan dahaga menurut waktu tertentu. Di sini terlihat bagaimana semua kalangan disatukan melalui syariat. Berpuasa sejatinya, harus dimaknai sebagai cara menumbuhkan jiwa empati dan kasih sayang. Sebab, pada saat yang sama semua merasakan penderitaan lapar yang biasa dirasakan golongan fakir miskin lebih sering.

Ibnu al-Humam berkata bahwa ketika seseorang merasakan lapar pada waktu tertentu, di situlah menjadi pengingat bahwa kondisi kelaparan ini biasa dirasakan oleh orang-orang miskin sepanjang waktu. Secara tidak langsung dapat dipahami bahwa puasa selama sebulan Ramadan menjadi ibadah yang menuntun bagaimana semua merasakan kebersamaan. Maka, bolehlah kiranya bulan Ramadan pernah disebut oleh Rasulullah sebagai “Syahr al-Musawah” yang berarti bulan persamaan.

Dalam kata lain, bulan puasa juga menjadi bulan kebersamaan. Semua umat muslim menjadi sama derajatnya di mata Allah. Karena secara tersirat makna puasa dapat mendorong orang untuk bersikap saling menolong, mengasihi antar sesama maupun antar kelompok beda kasta. Sehingga, amal yang sangat dianjurkan di bulan ini adalah memberikan makanan berbuka puasa untuk orang lain. Ini sesuai dengan hadis nabi Saw. bahwa: “Barangsiapa yang memberikan makan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang puasa tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.” HR. Ibnu Majah

Dari pemaparan di atas, menunjukkan bahwa ibadah puasa mengajarkan esensi kebersamaan bagi umat muslim. Ini sekaligus menjadi ajaran moderasi beragama yang begitu berarti untuk umat ini. Mereka yang berpuasa secara tidak langsung merasakan lapar seperti yang biasa orang miskin rasakan. Di sinilah petunjuk Islam yang mengajarkan kebersamaan tanpa memandang kasta atau pun jabatan. Hikmah besar puasa Ramadan menjadikan orang makin memupuk rasa empati dan solidaritas kasih sayang antar sesama. Karenanya, dengan berpuasa Ramadan kita akan belajar bagaimana mewujudkan moderasi di tengah masyarakat. Wallahu A’lam. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!