Memaknai Kembali Pluralisme Sebagai Keselamatan Agama dan Bangsa

0
200

Belum lama masyarakat Indonesia dihebohkan dengan adanya dugaan penghinaan yang dilakukan oleh seorang Kristiani bernama Joseph Paul Zhang, yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang menganggu dirinya. Joseph dalam video yang beredar juga mengaku Nabi ke-26 dengan mengatakan sesuatu yang tidak pantas bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi “cabul”. Ia pun dengan nada meremehkan agama Islam mengatakan bahwa Islam adalah agama yang tidak punya Tuhan, sebab Tuhannya dikurung di dalam Ka’bah. Terakhir ia pun dengan gampangnya menuduh ibadah puasa sebagai ibadah lalim, yang hanya mengganggu tatanan sosial non-Muslim karena banyaknya warung-warung yang tidak buka di siang hari.

Semua apa yang dikatakan oleh Joseph adalah ucapan yang tidak pantas dikatakan oleh orang yang mengaku beragama, agama apapun termasuk agama Kristen. Sebab setiap agama sekalipun mengakui bahwa agamanya sendiri paling benar tetapi melarang umatnya menghina keyakinan agama lain. Bahkan, apa yang dilakukan Joseph adalah tindakan yang amat berpotensi memecah belah keutuhan bangsa dan bisa saja melahirkan tindakan anarkis serta radikal dari kelompok lain. Tindakan Joseph perlu dikecam oleh semua pemeluk agama karena selain melanggar konstitusi negara, juga tidak sejalan dengan konsepsi pluralisme beragama.

Di dalam Islam, pluralisme dijunjung tinggi. Disebutkan di dalam QS. Al-Baqarah Ayat 62 Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” Huseyn Fadlullah menegaskan, bahwa makna ayat di atas jelas menegaskan kalau keselamatan pada hari akhir akan dicapai oleh semua kelompok agama, meskipun berbeda keyakinan dan pandangan, asalkan masih beriman pada Allah, hari akhir, dan beramal saleh.

Ayat di atas menolak keras tindakan anarkis dan penghinaan yang dilakukan oleh semua orang dari agama apapun, sebab menegaskan arti pentingnya pluralisme dalam beragama. Yang penting digarisbawahi bahwa ayat di atas tidak mengatakan bahwa semua agama adalah benar atau semua kelompok agama adalah sama. Ayat di atas menegaskan bahwa semua kelompok agama akan selamat selama mereka masih mau beriman pada Allah, hari akhir, dan mau beramal saleh atau berbuat kebaikan. Pandangan ekslusif ini sebagaimana kritik yang dilakukan oleh kelompok ekstrim dan ekslusif yang mengatakan bahwa tidak ada pluralisme agama karena hanya agama Islam yang benar.

Kritik kelompok ekslusif terhadap pandangan ekslusif ialah dengan mengajukan QS. Ali Imran Ayat 85, Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” Dengan ayat ini kelompok ekslusif menolak pluralisme. Huseyn Fadlullah mengkritik keras pandangan tersebut, sebab menurutnya yang dimaksud ‘Islam’ pada ayat di atas bukanlah Islam dengan maksud agama yang dibawa Nabi Muhammad, tetapi Islam yang umum yang maksudnya semua risalah langit, bukan Islam dengan maksud agama tertentu.

Fadlullah menegaskan bahwa semua agama itu pada dasarnya Islam, Islam dalam arti semuanya merupakan risalah langit. Sehingga dikatakan bahwa Tuhan pernah berkata kepada Nabi Ibrahim. “Islam lah engkau.” Maka Ibrahim pun menjawab, “Aku telah Islam kepada Tuhan Alam semesta.” Begitu juga saat Ibrahim dan Ya’qub memberi wasiat kepada anak-anaknya. Mereka berkata, “Wahai anak-anakku, sungguh Allah telah memilih bagi kamu ahama, maka janganlah kamu mati kecuali menjadi orang-orang Islam.” (QS. Al-Baqarah Ayat 131-132). Ulama yang lain seperti Quraish Shihab juga pernah mengatakan bahwa salah satu makna Islam adalah kepasrahan total.

Rasyid Ridha mengatakan orang yang merasa keselamatannya hanya karena Islam, Nasrani, Yahudi atau atas nama agama-agama lainnya merupakan golongan orang yang tertipu. Keselamatan umat adalah bergantung pada iman pada Allah, harinakhir, dan mau berbuat baik. Dengan memahani pandangan pluralisme seperti demikian, maka keselamatan agama-agama dan bahkan bangsa dengan keragamannya akan mudah dipastikan. Pluralisme bukan menganggap semua agama benar dan semua kelompok agama sama. Pluralisme menekankan pada kualitas setiap manusia yang akan selamat bila masih memenuhi tiga kriteria sebagaimana disebut di atas. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!