Meluruskan Legalitas Jihad Kaum Jihadis

1
382

Al-Qur’an yang merupakan sumber utama umat Islam menjadi barometer untuk menentukan hukum setiap aktivitas umatnya. Akan tetapi, keberadaannya yang merupakan teks mati (tak bisa berbicara sendiri) kerapkali dijadikan sebagian kelompok untuk membenarkan aktivitas yang diklaim sebagai tindakan keagamaan. Kedudukannya sebagai wahyu yang universal seringkali diekspresikan secara parsial dan dangkal.

Haidar Nashr mengatakan dalam buku Islam Syariat-nya, timbulnya kekacauan di negeri ini bukan karena Al-Qur’an yang mendorong melakukan hal itu, tetapi sebab maraknya pemahaman parsial dan ‘radikal’ atas ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak dibaca secara kontekstual.

Baca: Nalar Maqashid Al-Syariah dalam Diktum Pancasila

Dalam Al-Qur’an ada banyak ayat-ayat yang terkesan memicu umat Islam untuk tidak menghargai perbedaan dan melakukan kekerasan atau perilaku radikal. Di antaranya, QS. Al-Hajj [22]: 39-40 dan QS. At-Taubah [9]: 5. Ditegaskan oleh Khamani Zada, kaum jihadis memaknai ayat-ayat tersebut sebagai landasan melegalkan kekerasan terhadap orang lain yang berbeda, baik individu atau kelompok, yang berimplikasi perpecahan dan menjauhkan dari perdamaian dalam bingkai keindonesiaan.

أُذِنَ لِلَّذِینَ یُقَـٰتَلُونَ بِأَنَّهُمۡ ظُلِمُوا۟ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصۡرِهِمۡ لَقَدِیرٌ ۝ ٱلَّذِینَ أُخۡرِجُوا۟ مِن دِیَـٰرِهِم بِغَیۡرِ حَقٍّ إِلَّاۤ أَن یَقُولُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُۗ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضࣲ لَّهُدِّمَتۡ صَوَ ٰ⁠مِعُ وَبِیَعࣱ وَصَلَوَ ٰ⁠تࣱ وَمَسَـٰجِدُ یُذۡكَرُ فِیهَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِیرࣰاۗ وَلَیَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن یَنصُرُهُۥۤۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِیٌّ عَزِیزٌ

Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesung-guhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa.

Secara sepintas, ayat ini seperti membolehkan umat Islam melakukan kekerasan atas nama jihad dan memerangi siapapun yang berbeda keyakinan. Menurut Quraish Shihab, ayat di atas merupakan sebuah izin dari Allah untuk melakukan peperangan terhadap kaum musyrikin. Tetapi menurutnya, ayat ini bukan berarti menjadi dalil kekerasan atas adanya perbedaan. Dalam sebab turunnya, ayat ini turun karena Rasulullah dan para sahabatnya mendapatkan perlakuan keras dan ditindas dalam waktu yang lama, sementara kaum Muslimin belum melakukan apapun sebelum turunnya ayat ini.

Baca: Formalisasi Syariah; Telaah Tafsir Al-Qurthubi

Ibn Katisr mengafirmasi, dengan mengutip Al-Aufi dari Ibn ‘Abbas, turunnya ayat ini karena pada mulanya Nabi dan sahabatnya dikeluarkan dan diusir dari Makkah tanpa sebab apapun yang dapat dibenarkan dalam agama, sehingga kemudian muncul perlawanan dari kaum Muslimin. Selain itu menurut Al-Baidhawi, didahuluinya ayat tersebut dengan kata “udzina: diizinkan” berarti bahwa ada usaha sebelumnya dari kaum Muslimin untuk membela agama Allah selain dengan peperangan.

Para mufasir Al-Qur’an tidak sedikit pun memaknai ayat Al-Qur’an di atas sebagai dalil-dalil melakukan kekerasan tanpa sebab apapun atau karena adanya perbedaan paham dan atau agama. Kalau pun kaum Muslimin hendak melakukan peperangan dengan orang kafir, harus ada bukti kuat bahwa kaum kafir telah memperlakukan umat Muslim dengan cara-cara tidak manusiawi dan tidak dibenarkan agama.

Ayat Al-Qur’an lain yang kerapkali dilegitimasi sebagai dalil melakukan kekerasan atas dasar jihad kaum Jihadis adalah QS. At-Taubah [9]: 5 yang berbunyi:

فَإِذَا ٱنسَلَخَ ٱلۡأَشۡهُرُ ٱلۡحُرُمُ فَٱقۡتُلُوا۟ ٱلۡمُشۡرِكِینَ حَیۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡ وَخُذُوهُمۡ وَٱحۡصُرُوهُمۡ وَٱقۡعُدُوا۟ لَهُمۡ كُلَّ مَرۡصَدࣲۚ فَإِن تَابُوا۟ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَخَلُّوا۟ سَبِیلَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ

Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan melaksanakan shalat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ayat ini rawan ditafsirkan sebagai dalil untuk membunuh non-Muslim dan pemaksaan kepada siapa pun yang berbeda paham agama untuk tunduk dan mengikuti pemahamannya. Atas nama jihad, ayat ini berpotensi untuk dijadikan sebagai alat pembunuhan kepada orang-orang non-Islam yang tak berdosa. Lebih-lebih, sebagaimana dikatakan Al-Suyuthi, ayat ini dengan tidak didahului basmalah mengandung makna bahwa secara keseluruhan berada pada surat Al-Qur’an tentang peperangan melawan orang Kafir.

Baca: Jihad: Menghilangkan Kemungkaran

Ayat ini turun sekitar 22 tahun setelah turunnya ayat pertama pada surat Al-Taubah. Itu artinya, Islam pada dasarnya selalu mengajak perdamaian kepada siapa pun, termasuk kepada orang-orang musyrik. Sedangkan Al-Maraghi dalam kitabnya Tafsirul Qur’an al-Karim, peperangan yang dilakukan orang Islam pada ayat ini karena kaum musyrikin selalu memerangi umat Islam. Seandainya saat ini mereka tidak memerangi secara terus menerus, niscaya umat Islam pun tidak membalas dengan peperangan.

Dari uraian di atas, pada hakikatnya Islam selalu menawarkan jalan yang damai tanpa harus menumpahkan darah sesama manusia. Adanya peperangan kaum Muslimin dengan musyrikin hanyalah untuk mempertahankan diri.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah-nya, diakhirinya ayat ini dengan kalimat “innallaha ghafurun rahim: sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” menunjukkan bahwa sudah semestinya seorang hamba meneladani sifat Tuhan itu. Yaitu, umat Islam harus saling memaafkan dan menyayangi serta selalu mengedepankan kedamaian. Hal itu guna berlangsungnya kehidupan yang diharapkan agama, yaitu terciptanya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Dengan demikian, dua ayat di atas tidak untuk dimaknai sebagai legitimasi kekerasan terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan, yang tidak memiliki kesalahan apapun, baik berupa perbuatan menyakiti orang Islam secara fisik atau larangan untuk beribadah. Islam merupakan agama yang mengutamakan perdamaian dan kasih sayang. Adanya peperangan hanya sebagai alternatif bagi Muslim untuk mempertahankan dirinya kalau suatu waktu penyerangan menghampiri. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!