Meluruskan Kekeliruan Kaum Radikal

3
174

Penyelewengan teks-teks keagamaan tidak ada putusnya. Sejak zaman klasik―awal kelahiran Islam―sampai kini terus tumbuh. Penyelewengan itu dilakukan kaum “jahiliyah modern”―meminjam istilah Al-Maududi. Mereka dengan mudah berucap kata-kata sensitif dalam beragama dan bernegara, seperti: kafir, murtad, penyembah Pancasila, thâgût dan kata-kata sarkasme atau kata-kata kasar lainnya. Semuanya diiringi oleh narasi al-Rujû’ ilâ al-Qur’ân wa al-Sunnah (kembali kepada Qur’an dan Sunnah). Hakikatnya, makna “kembali” dalam tradisi Qur’an dan Sunnah tidak semudah slogan itu. Kesalahan metode dalam slogan itu melahirkan pemikiran yang kaku, rigid dan mengedepankan tekstual. Kesalahan itu pula melahirkan kekeliruan dalam beragama dan bernegara.

Salah satu soal populer dalam doktrin kaum radikal adalah hadis khilâfah alâ minhaj al-Nubuwwah. Direktur Wahid Foundation dalam prolognya menyebut “forum Bahtsul Masail―pada Halaqah Ulama dan Tokoh Muda Islam Indonesia yang bertajuk “Penguatan Toleransi dan Gerakan Merespon Ekstrimisme (Agustus 2016 di Bogor)― menyepakati, hadis tersebut sesungguhnya bermakna cara-cara yang ditempuh Nabi SAW secara substansial untuk menyempurnakan keadilan… Mulla Ali Al-Qari, ulama bermazhab Hanafi abad ke 15 kelahiran Afghanistan, yang dimaksud minhaj al-Nubuwwah adalah kepemimpinan Isa Al-Masih dan Imam Mahdi” (hlm. xix).

Baca: Khilafah: Warisan Nabi?

Penggalan hadis di atas dalam tradisi kaum radikal menjadi sebagai pijakan kelompoknya untuk menggelorakan terbentuknya khilâfah atau Negara Islam yang menurutnya paling ideal dalam Islam. Benarkah demikian? Dalam buku ini tidak ditemukan dalil kuat mengafirmasi pernyataan kaum radikal itu. Dalil itu secara ringkas adalah:

“…Masa kenabian akan dimunculkan Tuhan dan dihilangkan sesuai dengan kehendaknya. Setelah itu, datang masa kekhalifahan yang mengikuti kenabian dan Allah SWT pun menghilangkannya dan kekhalifahan tersebut diganti dengan sistem kerajaan despotis. Sistem kerajaan despotis pun dihilangkan Tuhan dan muncul setelah itu penguasa tiran. Tirani ini pun pada akhirnya lenyap dan kemudian baru muncul kekhalifahan yang mengikuti model kenabian” (Hadis)

Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal yang bersumber dari Nu’man bin Basyir memang muttasil (bersambung) dari Nabi Muhammad sampai perawi terakhirnya. Artinya, dari silsilah sanad tidak ada masalah, namun permasalahannya terdapat pada sisi kredibilitas rawi, baik riwayat Ahmad, Al-Bazzar, Abu Daud, al-Thabarani, Abu Nu’aim dan lain sebagainya.

Baca: Negara Islam (itu) Tidak Ideal

Di samping itu pula, varian pemahaman dalam hadis soal teks khilâfah alâ minhaj al-Nubuwwah ini varian. “Makna hadis khilafah di atas sejatinya tidak menunjukkan sistem negara tertentu, apalagi sistem pemerintahan. Khilafah sebagai makna dasarnya adalah proses pertukaran kepemimpinan dari Nabi SAW kepada sahabat dan umat Muslim lain setelah mereka, hal ini adalah proses alamiyah manusia yang dari waktu ke waktu akan membentuk kelompoknya untuk mencapai tujuan kebahagiaan dunia dan akhirat (hlm. 79).

Kesimpulan di atas sangat tepat. Mengapa? Dari potongan hadis di atas yang tidak tunggal dalam Islam, juga klaim dari masing-masing kelompok yang ada. Semisal, HTI menafsirkan hadis tersebut menurut pemahaman kelompoknya sambil mengingkari pemahaman kelompok lain; begitu pula kelompok ISIS, kelompok Khilafatul Muslimin, kelompok Jamaah Tabligh dan lain-lain. Mereka memahami dengan berbeda-beda.

Ketiadaan tafsir tunggal itulah seharusnya menjadi pintu masuk oleh setiap orang bahwa hadis itu bukan ketetapan akan kewajiban khilâfah Islamiyah seperti yang diperebutkan oleh kaum radikal. Mereka saling berlomba menegakkan sistem―sebagaimana pemahaman kelompok masing-masing―dan saling bertikai dan menghilangkan sikap toleransi di antara sesama kaum Muslimin.

Noor Huda Ismail dalam epilog menutup dengan statemen yang apik bahwa “minimnya pengetahuan dasar agama, seperti penguasaan Bahasa Arab, tafsir, hadis dan sejarah Islam membuat mereka mudah terpesona dengan pesan-pesan agama yang cenderung melihat dunia ini secara hitam-putih” (hlm. 146). Dalam bahasa lain, semangat beragamanya lebih tinggi daripada semangat menimba ilmu pengetahuan dan keislaman-keislaman yang ada. []

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!