Meluruskan Kebohongan Jihad Terorisme

0
381

Sangkhalifah.co — Kebohongan demi kebohongan terus dihembuskan oleh para kaum jihadis dalam soal jihad. Jihad yang pada hakikatnya merupakan syariat Islam yang memiliki nilai maslahat, kepentingan agama Islam dan didasari rasa cinta, di tangan kaum jihadis dikampanyekan sebagai tindakan represif, teror, dan perilaku-perilaku yang justru bertentangan dengan ajaran Islam sendiri. Sebagaimana klaim akun Facebook “Abu Barbarrussa Alsyam” yang mengshare sebuah video motivasi “jihad” kepada masyarakat. Video dalam durasi waktu tiga menit itu memerintah agar umat Islam yang berada di negeri khilafah terus berada di garda depan memerangi kaum kafir. Sedangkan umat Islam yang berada di luar negeri khilafah agar memerangi kaum kafir di negerinya sendiri, demi tegaknya negara Islam khilafah.

Di menit yang kedua dalam video tersebut juga mengkampanyekan agar umat berbaiat dengan Abu Bakar Al-Baghdadi, kita tahu ia adalah pimpinan ISIS yang dikenal sebagai gerakan Islam radikal, ekstrimis, bahkan teroris. Alsyam ini rupanya simpatisan ISIS, atau kalau tidak, ia akun-akun robot yang digerakkan oleh kelompok teroris tersebut. ISIS sendiri merupakan kelompok neo-khawarij, kelompok yang memiliki keyakinan bahwa kelompok di luar pemahaman dirinya dianggap kafir.

Dalam sejarahnya, kelompok khawarij sendiri adalah biang perpecahan, yang telah menyulut konflik antar-umat Islam. Demikian juga ISIS, berkeyakinan bahwa selain kelompok dirinya adalah halal untuk dibunuh. Maka wajar saja jika Alsyam setuju untuk membunuh siapa saja yang tidak setuju dengan negeri khilafah, sebab ia dipastikan kufur dan darahnya halal. Sikap demikian jelas bertentangan dengan Islam sebagai agama yang mengajarkan kebaikan, kasih sayang, dan petunjuk yang benar.

Klaim kelompok ISIS dan penyeru khilafah seperti eks HTI—seperti Alsyam ini—soal adanya negara khilafah merupakan pembohongan besar-besaran. Sebab pada faktanya, hingga detik ini, tidak ada negara di dunia ini yang menerapkan khilafah sebagaimana klaim dusta ISIS. Justru sebaliknya, negara-negara yang diklaim sebagai negara paling islami, seperti Arab Saudi, Suriah, Mesir, telah menolak eksistensi kelompok penyeru khilafah seperti Hizbut Tahrir.

Jika negara-negara yang dianggap paling Islam saja menolak khilafah, mana mungkin negara-negara non Islam mau tunduk kepada sistem khilafah yang tak jelas itu. Maka jelas saja jika kemudian negara-negara seperti Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Australia termasuk Indonesia, telah menolak khilafah ISIS secara permanen. Bukan tanpa alasan untuk menolak khilafah, kecuali karena khilafah tidak dapat memberikan kemaslahatan, dan justru berpotensi melahirkan perpecahan antarbangsa.

Negara khilafah yang dimimpikan kelompok ISIS dan Hizbut Tahrir, pada mulanya diniatkan agar umat menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bukan saja dalam beragama tetapi juga dalam bernegara. Kalau kita mau membuka hati dengan hati yang bersih, penuh perenungan yang jernih, sejatinya negara kita Indonesia sudah islami. Tanpa perlu mendirikan negara Islam versi ISIS dan HTI yang tidak jelas arahnya, Indonesia sudah menjalankan nilai-nilai Islam seperti keadilan, kejujuran dan kesetaraan yang semuanya diafirmasi oleh Islam baik melalui teks-teks Al-Qur’an atau melalui tindakan Nabi Muhammad Saw.

Apalagi pasca reformasi, umat Islam sudah seperti masyarakat kelas pertama dibandingkan umat agama lain, meski pada dasarnya semua setara dan sama. Ini berbeda dengan sebelum reformasi di mana umat Islam seperti masyarakat kelas dua. Kini umat Islam bebas mengekspresikan ajarannya, selama tidak bertentangan dengan kesepakatan bangsa. Islam, dalam konteks Indonesia, sudah seperti anak emas yang dinomorsatukan negara. Lantas, Islam yang seperti apa lagi yang hendak diperjuangkan ISIS dan HTI di Indonesia?

Klaim kebohongan ISIS selanjutnya pada video hasil share Alsyam simpatisan ISIS itu juga dalam soal orang-orang kafir yang harus diperangi oleh umat Islam. Simpatisan ISIS berdusta bahwa siapa yang tidak sepaham dengan pemahaman kelompoknya dalam soal negara Islam dan khilafah adalah kafir, bahkan kafir yang harus dibunuh dan dimusnahkan (kafir harbi). Kenapa dikatakan sebuah dusta? Karena definisi kafir harbi adalah orang kafir yang mengganggu dan mengacaukan Islam. Mereka memerangi orang Islam atas dasar kebencian pada Islam dan umatnya.

Kafir demikianlah yang dalam QS. Al-Baqarah: 90-91 harus diperangi dan dibunuh. Jika orang kafir dan atau umat non-Muslim tidak mengganggu Islam, tidak memerangi umat Muslim (kafir dzimmi), maka Islam tidak mengizinkan untuk memeranginya. Islam mengharamkan membunuh mereka tanpa sebab yang sudah digariskan dalam Al-Qur’an. Dusta kelompok ISIS pada soal ini adalah merubah makna kafir dzimmi menjadi kafir harbi secara keseluruhan.

Agama Islam adalah agama kedamaian dan keselamatan (as-salâm). Agama dengan ciri khas kedamaian tidak mungkin dapat didakwahkan dan diterima melalui cara-cara kekerasan sebagaimana kelompok penyeru khilafah ISIS dan HTI. Ibn Khaldun menegaskan bahwa kedamaian dalam Islam adalah sebuah keniscayaan, sebab umat memiliki keniscayaan berinteraksi satu dengan yang lain. Tanpa kedamaian, interaksi (dakwah) tidak akan berjalan, dan Islam mustahil tersebar. Bahkan Wahiduddin Khan dalam The Theology of Peace menyatakan kedamaian adalah eksistensi manusia itu sendiri. Tanpa kedamaian tak mungkin terwujud umat manusia. Tanpa manusia maka tak mungkin pula Islam eksis. Selain itu, perdamaian dalam Islam juga merupakan kemestian sebab Allah Swt merupakan Dzat Yang Maha Damai (Al-Salâm) serta Nabi Muhammad diutus untuk memberi kasih sayang kepada seluruh alam (rahmatal lil âlamîn).

Eksistensi Islam akan terus mewujud manakala Islam diaplikasikan melalui pemahaman yang kontekstual sesuai zaman dan waktunya (sâlih likulli zamân wal makân). Apa yang dilakukan oleh ISIS dan HTI, dengan misi menegakkan khilafah Islamiyyah yang ditunjukkan dengan membuat keonaran, perpecahan, bahkan bom bunuh diri, selain bertentangan dengan esensi agama Islam, juga tidak sejalan dengan konteks saat ini di mana umat membutuhkan ajaran Islam yang damai dan kontekstual.

Maka dalam kacamata Islam yang sejati dan dalam konteks keindonesiaan, apa yang dilakukan oleh ISIS dan juga HTI merupakan kebohongan-kebohongan yang harus diluruskan. Klaim dusta negara Islam, kaum kafir harbi, dan bom di negara seperti Indonesia, tidak memiliki legitimasi apapaun, kecuali hanya dari nafsu yang kotor. Sebab Islam menentang keras perbuatan bom bunuh diri, membuat kekacauan dan memerangi makhluk Allah yang tak merusak agama Islam, termasuk kepada kaum kafir dzimmi. []

Leave a reply

error: Content is protected !!