Melihat Lebih Jelas Keterlibatan FPI dalam Aksi Terorisme

0
54

Sangkhalifah.co — Pasca peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/03/2022) beberapa sel terorisme mencuat. Pihak Densus 88 Anti Teror berhasil mengungkap jaringan terorisme yang diduga kuat memiliki kaitan dengan bom di Makassar, di antaranya di Condet Jakarta Timur, Bekasi, dan Bima. Yang justru membuat masyarakat bertanya-tanya, barang bukti yang disita dari terduga teroris di Condet Jakarta Timur adalah atribut-atribut organisasi terlarang Front Pembela Islam (FPI), seperti buku Amal Ma’ruf Nahi Munkar dan baju berwana hijau putih bertuliskan ‘Laskar Pembela Islam’. Memang belum ada pernyataan resmi dari kepolisian terkait apa dan bagaimana keterlibatan FPI dalam peristiwa teror di Makassar dan tertangkapnya beberapa terduga teroris. Tatapi untuk menyatakan organisasi terlarang itu tidak ikut andil sangat mustahil.

Rekam jejak beberapa anggota FPI dalam peristiwa radikalisme memang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Ketua harian Kompolnas Benny Mamoto menyebut, 37 anggota FPI atau yang pernah gabung dengan FPI telah bergabung dengan gerakan teroris. Dari banyaknya jumlah anggota FPI itu, bergabung dengan Jama’ah Ansor Ad-Daulah (JAD) besutan Aman Abdurrahman pada 2014. Selain dengan JAD, beberapa anggota FPI bergabung dengan Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Sementara Kapolri Jenderal Lystio Sigit Prabowo menyebut, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar adalah anggota JAD. Bergabungnya anggota FPI dengan JAD dengan pernyataan Kapolri yang menegaskan pelaku bom bunuh diri Gereja Katedral adalah anggota JAD, masyarakat dapat menyimpulkan apakah FPI adalah terorisme atau bukan.

Dugaan kuat adanya keterlibatan organisasi terlarang FPI dalam rangkaian bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dikuatkan dengan adanya sidang eks pentolan FPI Rizieq Shihab dalam sidang kasusnya di Pengadilan Jakarta Timur, yang disiarkan langsung oleh berbagai media mainstream. Sidang Rizieq di pengadilan itu sempat diwarnai kericuhan karena dia tidak terima dengan sidang online. Dari sini kemudian lahir tindakan balas dendam simpatisan-simpatisan eks FPI baik yang dilampiaskan dengan demo di depan kantor pengadilan atau melamiaskannya dengan cara-cara radikal dan lebih ekstrim di berbagai daerah lain. Bukan hal mustahil bila aksi bom bunuh diri Gereja Katedral Makassar ini adalah salah satu ekspresi dendam yang dimaksud di atas.

Keterlibatan organisasi terlarang FPI dalam tindakan radikal terorisme juga disampaikan Brigdjen Eddy Hartono, Direktur Penegak Hukum BNPT. Dalam wawancaranya dengan Kompas TV, ia mengiyakan adanya identitas FPI atas penangkapan terduga teroris di Condet Jakarta Timur. Lebih mengerikan lagi dia menyebut bahwa selama Januari 2021 BNPT telah menangkap 24 teroris di Makassar, dan 18 di antaranya adalah anggota FPI yang tergabung dengan JAD, organisasi teroris yang sudah banyak melakukan pemboman di wilayah di Indonesia. Fakta ini semakin membuktikan lebih jelas bahwa, FPI berada dalam lingkaran JAD yang selama ini dikenal sebagai organisasi teroris yang membahayakan.

Jauh sebelum Densus 88 mengungkap banyak keterlibatan anggota FPI dengan gerakan teroris JAD di tahun 2021, deretan aksi kekerasan dan ekstrimisme FPI telah mencoreng eksistensi pluralisme di Indonesia yang merupakan negara yang multiagama dan multikultural. Wahid Institut mencatat, kordinator FPI Muhammad Siddiq dengan 10 anggota FPI lainnya telah melakukan penganiayaan kepada seseorang di jalan tol (2003), 150 anggota FPI terlibat bentrok dengan pasukan pengaman Jakarta International Container Indonesia (JICI) (2002), anggota FPI terlibat bentrok dengan kepolisian Polda Metrojaya (2001), anggota FPI mengusir jemaat yang akan melakukan kebaktian di Jatimulya, Bekasi Timur (2005), dan berbagai aksi ekstimis lainnya. Fakta nyata ini semakin membuktikan sulitnya FPI untuk tidak dikatakan sebagai gerakan terorisme.

Tak hanya kekerasan secara fisik, kekerasan verbal juga menjadi salah satu indikasi seseorang berpotensi besar terjerumus pada tindakan radikalisme. Eks pentolan FPI Rizieq Shihab, sebagaimana dikatakan oleh Jaksa Penuntut Umum, dalam sidang kasus-kasusnya, sangat menyayangkan kepada Rizieq Shihab yang mengaku sebagai imam besar namun sering merendahkan orang lain, dengan mengatakan kepada jaksa penuntut umum sebagai ‘biadab’, ‘keterbelakangan intelektual’, ‘pandir”, dan sebagainya. Alih-alih ingin mengkampanyekan revolusi akhlak, justru kekerasan verbal muncul dari mulutnya yang sama sekali tidak mencerminkan akhlak.

Kita sebagai masyarakat Indonesia patut prihatin dengan adanya sekelompok orang yang berjuang atas nama agama Islam justru mencoreng nama baik agama Islam itu sendiri. Eks FPI yang ‘katanya’ memperjuangkan dan membela Islam tetapi kenyataannya melukai Islam. Atribut keagamaan seperti jubah dan kopiah hanya untuk kepentingan nafsu sesaat agar bisa melakukan tindak kekerasan. Semua elemen bangsa perlu waspada dengan adanya keterlibatan eks anggota-anggota FPI dengan gerombolan teroris JAD. Pada waktu yang sulit untuk ditebak, mereka berpotensi melakukan tindakan yang sama sebagaimana aksi di Gereja Katedral Makassar. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!