Media Sosial Sebagai Wadah Penggalangan Gerakan Anti Radikalisme

1
437

Sangkhalifah.co — Perkembangan radikalisme tidak pernah ada habisnya. Sebagai musuh bersama, radikalisme terlalu cepat berevolusi ke dalam wajah lain. Bahkan seringkali, perilaku kelompok radikalis tersebut sangat lihai dalam penyamaran. Namun, bagi yang paham dan ahli terhadap gerakan yang mereka tampilkan akan begitu mudah menebaknya. Sebab, dalam segala aksinya sangat sering atau boleh dibilang selalu menonjolkan sisi keagamaannya.

Salah satu tempat paling rentan bagi perkembangan radikalisme ini adalah media sosial. Bukan rahasia lagi, apabila di era sekarang hampir setiap orang memiliki aktifitas lebih intens dengan media sosial melalui gawainya. Tidak heran kemudian, mereka lebih cepat dalam menerima informasi maupun pengaruh instan dari apa yang diterima secara virtual. Beragam konten pun mudah diakses tanpa butuh waktu lama. Sehingga, sangat berbahaya apabila yang didapati justru konten radikalisme yang belum bisa difilter secara mandiri.

Beragam bentuk radikalisme yang tampil di tengah masyarakat kian beragam. Ada yang menunjukkan kesalehan dalam simbolnya, namun sangat jauh dari norma dan nilai luhur budaya bangsa. Dalam performa lainnya, muncul juga kelompok yang gemar teriak bela Islam, tapi radikal dalam aksinya. Dan yang begitu kerap akan mudah ditemui melalui media sosial, adalah sikap takfiri terhadap kelompok lain yang tidak sepaham. Sedikit-sedikit hanya karena tidak sepaham dengan kelompoknya akan mudah dikafirkan.

Senada dengan yang diungkapkan Haidar Alwi, salah seorang pegiat anti radikalisme menyatakan ada tiga bentuk radikalisme di Indonesia. Ketiganya masih sangat subur untuk menyebar secara terus menerus. Pertama, radikalisme keyakinan. Dalam praktiknya, mereka suka mengkafirkan kelompok lain yang tidak sepaham. Kedua, radikalisme tindakan. Sebagai contohnya dapat dilihat dari Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang selalu menghalakan segala cara dalam aksinya. Ketiga, radikalisme politik. Kelompok ini  seringkali ditampilkan oleh mereka para pengusung khilafah. Karena tujuan utamanya adalah mengubah sistem pemerintahan dengan khilafah (Gatradotcom, 2019).

Beragam bentuk narasi radikalisme, dilancarkan para aktifis untuk meraih pemirsa sebanyak-banyaknya. Mereka memanfaatkannya sebagai media propaganda terhadap masyarakat. Adakalanya konten-konten yang disebarkan dalam rangka meraih simpatik dari masyarakat. Modelnya bisa berupa narasi kebencian, kabar hoaks hingga narasi gerakan anti pemerintah. Dalam kali lain, penyebarannya ditujukan untuk mempengaruhi perilaku mereka secara tidak langsung. Maka, tidak heran bila ditemukan pelaku terorisme mengaku karena seringnya menyaksikan konten-konten radikal melalui media sosial.

Pentingnya Menggalang Narasi Damai di Media Sosial

Sebagai sikap untuk merespon masifnya persebaran radikalisme di media sosial, perlu adanya penggalangan gerakan anti radikalisme. Salah satunya yang dapat dilakukan secara serentak adalah memperbanyak narasi damai di berbagai platform media sosial yang ada. Kalau pun tidak dapat menghapus satu per satu konten radikal yang telah ada, perlu kiranya menyisipkan narasi perdamaian tersebut. Hal ini harus dilakukan tanpa menunggu komando siapapun. Semua harus diawali dari diri sendiri, kemudian keluarga dan teman terdekat.

Tujuan utama dari semua itu, tidak lain demi menjaga frekuensi perdamaian bangsa ini selalu menguat. Perintah untuk selalu waspada terhadap informasi yang diterima telah jelas diajarkan oleh al-Qur’an. Sebagai kaum beriman, harus selalu berupaya untuk cek dan ricek kebenaran suatu kabar atau informasi yang beredar (QS. al-Hujurat [49]: 6). Bukan apa-apa, ini lebih mencerminkan pentingnya kewaspadaan terhadap apapun yang disampaikan terlebih oleh mereka yang belum dikenal identitasnya. Apalagi kalau penyampainya sudah jelas asal usul dan ke mana afiliasinya. Dan ini sangat masif terjadi di media sosial.

Karenanya, narasi damai menjadi sebuah keniscayaan untuk menyehatkan literasi media sosial. Sebagai anak bangsa yang selalu cinta terhadap tanah airnya, harus bergerak untuk mengambil peran aksi kebaikan ini. Utamanya bagi para pemuda sebagai calon penerus bangsa harus mengambil perannya. Sehingga, penting bagi pemuda menggalang gerakan anti radikalisme melalui media sosial. Karena sejatinya, semua akan bermanfaat untuk diri sendiri melainkan juga berperan kebaikan atas nama bangsa.

Menunjukkan cinta tanah air di era digital seperti sekarang sangat mudah. Tidak perlu mengangkat senjata melawan penjajah. Tidak harus berdarah-darah menaklukkan musuh yang memberontak. Hanya cukup bermodalkan jari dan gawai di tangan, begitu mudah untuk menyumbangkan peran menjaga perdamaian bangsa. Maka, menebarkan narasi perdamaian harus dikencangkan frekuensinya dalam jumlah besar demi kedamaian NKRI tetap harmoni. []

1 comment

  1. Wajah-Wajah Baru Kalangan Ektremis di Era Media Sosial - sangkhalifah 11 Februari, 2021 at 06:07 Balas

    […] Sangkhalifah.co — Dewasa ini peradaban dunia sudah bergeser dari era industri menjadi era informasi. Peralihan ini lalu melahirkan peradaban baru yang disebut masyarakat informasi. Dalam masyarakat informasi, aktivitas kehidupan masyarakatnya senantiasa bergantung pada internet dan media sosial. Pendek kata, internet dan media sosial memainkan peran penting dalam perkembangan masyarakat. Indikasi dapat dilihat dari kuatnya budaya popular seperti budaya media memengaruhi kultur anak-anak muda, termasuk anak-anak muda dari dunia Muslim. Kuatnya pengaruh media itu kemudian membuat kajian Islam juga tersebar luas lewat media sosial. Diskursus-diskursus tentang kajian Islam pada gilirannya turut menjadi hal yang popular di media sosial. […]

Leave a reply

error: Content is protected !!