Matinya Zakiyah Aini dan Cacat Nalar Gerakan Ekstrimisme

0
579

Sangkhalifah.co — Gerakan ekstrimisme terus menerus membuat kerusakan dengan cara brutal. Beberapa waktu lalu bom bunuh diri diledakkan di depan Gereja Katedral, Makassar. Tiga hari setelahnya, seorang remaja wanita berumur 25 tahun dengan nama Zakiyah Aini berani masuk ring 1 Mabes Polri untuk melakukan tindakan teror dan penyerangan terhadap kepolisian. Kedua peristiwa tersebut dilakukan oleh anggota dan simpatisan Jama’ah Ansor Ad-Daulah (JAD) dan ISIS. Dua organisasi yang mengaku-aku memperjuangkan Islam tetapi sama sekali tidak memiliki karakter dan sifat sebagaimana kelompok muslim. Membunuh, bunuh diri, memberontak, menyerang dan memporak-porandakan apa yang tidak disepakati adalah hobinya. Bertentangan dengan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, menghargai perbedaan dan keragaman.

Atas nama jihad, remaja putri Zakiyah Aini berani mati dengan melakukan tindakan penyerangan kepada petugas kepolisian. Ia menulis surat wasiat di dalam kertas bahwa dirinya memilih jihad dengan menyerang polisi sebagai ajaran Islam yang dipraktikkan Rasulullah. Padahal dalam faktanya, sebagaimana Musthafa Al-Maraghi menyebutkan, Rasulullah dan para sahabatnya tidak pernah melakukan peperangan kecuali dua hal. Pertama, karena umat Islam diperangi terlebih dahulu secara brutal. Dan kedua, umat Islam diboikot untuk tidak boleh melakukan kegiatan ibadah. Di luar dua alasan itu, Rasulullah tidak mengizinkan perang atas nama jihad atau atas nama-nama yang lainnya. Doktrin ajaran terorisme pada diri Zakiyah merupakan doktrin menyesatkan, bukan berlandaskan sejarah otentik Islam.

Pada surat wasiat tersebut Zakiyah terkesan mengajari orang tuanya untuk melakukan ini dan melakukan itu. Tidak boleh ikut pemilu, tidak boleh menabung di bank, tidak boleh mempercayai Ahok, dan bentuk-bentuk perintah lainnya. Penulis pernah berdiskusi dengan salah satu simpatian ISIS di Bandung Barat setelah ia “bertaubat”. Ia menyebut, ketika awal mula terdoktrin radikalisme ISIS, dirinya seperti mengetahui segala hal dan harus mendakwahkan kepada siapa saja dengan cara-cara pemaksaan, termasuk orang tua. Ini mungkin menjadi salah satu warning bagi orang tua agar selain memperhatikan pendidikan anak-anaknya, juga waspada dengan karakter anak-anaknya yang memilki sifat demikian. Berdakwah dengan cara-cara menyalahkan, ekslusif, terkesan menggurui, dan ciri-ciri lainnya.

Zakiyah yang sepertinya telah terdoktrin ajaran radikalisme itu juga menyebut bunga bank haram, sehingga harus dijauhi oleh siapa saja, termasuk kedua orangtuanya. Pasalnya, dan ini bahayanya, gerakan radikal kalau sudah mengkalim sesuatu haram maka halal bagi dirinya untuk merusak dan memporak-porandakannya, tanpa peduli apapun. Padahal dalam faktanya, banyak ulama yang membolehkan bunga bank. Majma’ Al-Buhus Al-Islamiyyah pada 28 November 2002 merilis ulama-ulama yang berpandangan bunga bank bukan riba, seperti Muhammad Abduh, Mahmud Saltuth, Syaikh Ali Jum’ah, dan Abdul Wahab Khallaf. Karena bunga bank bisa masuk dalam kategori transaksi perniagaan dengan syarat ada persetujuan di awal dan tidak didapatkan dengan cara batil.

Persoalan riba bukan persoalan yang paten dan tidak semua ulama menganggap itu haram. Sama halnya dengan pendapat tentang memakai hijab dan batasan-batasan aurat yang diperdebatkan para ulama. Tetapi Islam menegaskan bahwa perbedaan adalah rahmat. Tidak perlu menjadi alasan untuk ricuh apalagi melakukan teror. Kita bisa memilih pendapat yang setuju bunga bank riba atau yang tidak menganggap riba tanpa harus menyalahkan dan mengkafi-kafirkan. Apa yang dipahami Zakiyah dan pelaku teror atas riba tidak lain karena kurang membaca banyak referensi. Padahal, Nabi Muhammad saja mau berdiskusi dengan non-Muslim, yaitu ketika beliau memimpin Madinah dan masyarakatnya ada yang Muslim dan ada pula yang non-Muslim. Persoalan riba adalah persoalan yang ikhtilaf, bukan hal yang menakutkan.

Alasan klasik para pelaku teror, sebagaimana juga doktrin yang sampai pada Zakiyah, umat Islam tidak boleh berteman dan mempercayai warga Non Muslim. Zakiyah dalam suratnya menyebut agar orang tuanya jangan mendekati orang seperti Ahok yang bagi dia adalah orang kafir. Padahal dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad merupakan pribadi yang berteman baik dengan non Muslim. Sebagaimana terrkkam dalam QS. Al-An’am ayat 108, Rasulullah dan non Muslim kerap berdialog di rumah Nabi. Mereka berdialog tentang fenomena memaki sesembahan orang lain. Rasulullah pun melarang perbuatan demikian. Sejarah mencatat bahkan, Rasulullah membiarkan 60 orang Nasrani Najran melakukan kebaktian di Masjid Nabawi. Ketika para sahabat akan melarang mereka, Nabi menegur dan membolehkan mereka melakukan kebaktian dalam masjid.

Zakiyah dalam surat wasiatnya juga menyebut, Pancasila, UUD 1945, Demokrasi dan pemerintah Indonesia adalah taghut, karena tidak menerapkan syariat Islam dalam berhukum. Doktrin yang juga doktin klasik para teroris ini sudah basi. Atribut negara dan para pemerintah ini dibuat bukan untuk menandingi syariat Islam bukan juga untuk menggantikan syariat Islam. Tetapi untuk mewujudkan kemaslahatan bersama antar berbagai kelompok, sebagaimana Nabi Muhammad membuat Piagam Madinah demi terciptanya kerukunan antar-warga. Itu semua juga bukan taghut, karena dibuat bukan untuk disembah, bukan untuk menjadi sesembahan melawan Allah. Umat Islam di Indonesia menggunakan semua itu untuk urusan dunia, sebagai bentuk ijtihad, dengan tetap teguh dan patuh pada seluruh aturan syariat yang telah ada. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!