Polemik Mati Sia-Sia dan Menegakkan Islam

2
159

Sangkhalifah.co — Islam sebagai agama melahirkan ragam varian penafsiran. Wilayah tafsir bukan wilayah “kebenaran absolut”. Apakah semua orang bisa menafsirkan Qur’an dan hadis? Tidak. Sebab itulah, adagium “kembali pada Qur’an dan hadis” tidaklah tepat. Jika semua orang dibiarkan menafsirkan tanpa otoritas dan keluasan ilmu maka teks-teks Qur’an dan hadis akan berserakan tanpa makna. Mengapa? Karena asal tafsir dan asal bicara. Kerangka kerja dan pemenuhan seorang bisa dianggap mufassir bukan sekedar mengerti Bahasa Arab. Varian ilmu dalam Islam harus dikuasainya secara mendalam.

Wilayah penafsiran itu pun tidak ada yang “benar 100 persen”. Semua penafsiran memiliki celah untuk salah dan benar. Sekelompok orang seperti HTI dan ISIS yang merasa paling benar dan otoritatif dalam menerjemahkan Islam adalah kesalahan yang fatal. Mereka tidak saja menafsirkan teks Qur’an-hadis dengan salah, melainkan menuduh orang lain salah dan tidak menegakkan Islam dengan sempurna. Dan hidupnya dikategorikan sia-sia belaka. Inilah yang menjadi soal dalam tulisan ini.

Konsep “mati sia-sia” di tangan kelompok radikalis-teroris telah keluar dari konsep utamanya. Setidaknya dalam Qur’an, kita bisa menelisik dari dua aspek; “menukar iman dengan kekafiran” (Qs. Al-Baqarah [2]: 108) dan “mengembalikan kamu dari agamamu” (Qs. Al-Baqarah [2]: 217).

Redaksional dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 108 ini, menurut Ibnu Katsir berkaitan dengan nasihat untuk umat Islam agar jangan mengikuti kelakuan buruk Bani Israil yang selalu bertanya hal tidak wajar kepada nabi mereka, Nabi Musa (lihat Qs. Al-Ma’idah [5]: 101). Dalam konteks ini, kelompok radikal selalu menyeret-nyeret bahwa ayat tersebut berkaitan dengan kekafiran yang disebabkan tidak mendirikan Negara Islam, Negara Khilafah dan tidak berjihad menumpaskan nyawa orang yang tidak sekelompok dengannya. Padahal ayat ini fokus utamanya adalah orang yang mati sia-sia itu seperti murtad dan menukar iman dengan kekafiran.

Kekafiran yang dimaksud bisa mengenai Muslim dan juga non-Muslim. Mereka yang menutup kebenaran. Baik HTI maupun ISIS selalu menutup kebenaran dari luar kelompoknya. Sebenarnya ayat ini sindiran juga untuk kelompok yang berlaku “kafir” (menutup erat-erat kebenaran dari segala penjuru). Ayat ini bukan ditujukan untuk memerangi dan berlaku tidak adil kepada non-Muslim. Bukan pula untuk memerangi negara yang tidak menerapkan hukum Islam di dalamnya.

Ayat kedua yang membuat seseorang mati sia-sia adalah “mengembalikan kamu dari agamamu”. Redaksional dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 217 ini memang ada redaksi “perang”. Perintah yang bersifat umum itu menimbulkan ragam pertanyaan, seperti berperang pada bulan Haram. Nabi pun menjawab, “saya tidak memerintahkan kalian membunuh di bulan Haram”. Ayat ini pula menjelaskan adanya sifat dari kaum musyrikin yang terus menerus memerangi kaum Muslimin sampai mereka dapat mengembalikan dari agama Islam yang hak kepada kekafiran atau istilah agamanya murtad. Nah, yang dimaksud sia-sia dalam hal ini adalah murtad. Bukan legitimasi untuk menaklukkan sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim. Ayat tersebut juga bukan dalam perintah berupa perbuatan seperti halnya konsep shalat yang diiringi dengan perbuatan.

Dari kedua ayat di atas dapat ditarik kesimpulannya bahwa “mati sia-sia” adalah mereka yang beraktivitas tanpa panduan yang legal-formal; baik dalam konteks keagamaan dan kenegaraan. Dalam aspek agama, mereka akan mati sia-sia dengan memulai peperangan dan membunuh orang-orang sampai yang tidak berdosa. Mereka itu bukanlah syuhada tapi juhala (orang-orang bodoh).

Di satu sisi pula, anggapan dari kelompok HTI dan ISIS manakala tidak “menegakkan Islam” akan mengakibatkan “mati sia-sia” sangat ambigu. Pertama, seluruh aspek penegakkan Islam dan syarat ma’unah Allah turun dalam konteks individu. Contoh sederhana, ayat “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya(Qs. al-A’raf [7]: 96).

Ayat tersebut sangat jelas. Tertuju kepada penduduk negeri bukan negaranya. Negara tergantung penduduknya. Disinilah kesalahan konsep Negara Khilafah ala HTI maupun ISIS yang ingin menyetempel negara. Negara itu wadah, seharusnya yang diperbaiki itu orang yang ada dalam negara. Artinya, menegakkan Islam secara tersurat dan tersirat itu menuju kepada individu bukan negara.

Orang-orang yang tidak bersama HTI dan ISIS untuk menengakkan Islam—dalam konsep pemikiran ala mereka—tidaklah berdosa dan tidak membuat seseorang hidup sia-sia. Hidup sia-sia justru mereka yang membajak ayat Qur’an dan teks-teks hadis untuk kepentingan hawa nafsu pemimpin dan amir mereka. Mereka yang teriak-teriak “tegakkan Islam” pada praktiknya jauh dari ajaran Islam. Misalnya mereka selalu mengaungkan bendera (yang mereka sebut) tauhid. Padahal ketika mereka kumpul-kumpul, benderanya ada yang diduduki dan dijadikan tempat alas. Namun jika kita jadikan isu, para petinggi mereka akan ‘ngeles’ bahwa itu oknum dan perlu dicek lagi keanggotaannya. Disinilah kelompok semisal HTI sudah menjadi rahasia umum: kelompok suka ‘ngeles’ wal ‘klise’.

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!