Mahfud MD: Ali Kalora, Pimpinan Teroris MIT, Tewas Ditembak Densus 88

0
433

Sangkhalifah.co — Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD mengumumkan bahwa pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora telah tewas ditembak Detasemen Khusus Antiteror 88 atau Densus 88. Pengumuman itu disampaikan oleh Mahfud MD via Twitter pada Sabtu malam (18/9/2021).

“Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora yang pernah menggegerkan karena menyembelih banyak warga dengan sadis di Sulteng, setelah buron hampir setahun, hari ini ditembak mati oleh Densus AT/88. Ia ditembak bersama seorang anak buahnya yg bernama Ikrimah. Masyarakat harap tenang,” tulis Mahfud di akun Twitter pribadinya.

Makmun Rasyid, Pengurus Harian Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI Pusat juga mengatakan bahwa tertembaknya Ali Ahmad (alias Ali Kalora) dan Jaka Ramadhan (alias Ikrima) menunjukkan Densus 88 tidak berhenti dalam memutus mata rantai jaringan teroris di seantero Indonesia.

“Densus 88 terus menunjukkan kerja terbaiknya. Tidak mudah menembak dua orang tersebut. Terjadinya penembakan di Pegunungan Desa Astina Torue membuktikan informasi yang dimiliki Densus 88 tidak main-main. Dengan tertembaknya kedua orang, maka menyisakan Askar (alias Jaid alias Pak Guru), Nae (alias Galuh alias Mukhlas), Rukli, dan Suhardin (alias Hasan Pranata),” ujarnya.

Ali Kalora ini merupakan pimpinan MIT setelah mewarisi tongkat kepemimpinan dari Santoso yang sudah lebih dulu tewas.  Kita ketahui pada hari Jumat (17/4/2020) ada kejadian pemenggalan kepala anggota Bantuan Kepolisian (Banpol) yang dilakukan oleh kelompok MIT di bawah pimpinan Ali Kalora. Dalam melakukan aksinya tersebut, mereka memvideokanya yang kemudian beredar di sosial media.

“Ali Kalora ini dalam data memang sejak tahun 2016 sampai dengan tewasnya hari ini, MIT dipimpin oleh Ali Kalora yang bernama asli Ali Ahmad,” tambahnya.

Aktivis Kontra Narasi-Ideologi, Makmun Rasyid, menambahkan perlawanan atau upaya mengembalikan pemikiran seseorang yang telah terjiwai “ideologi kematian” harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Antara penindakan dan pencegahan harus terus beriringan.

“Kerja beriringan antara pencegahan dan penindakan mesti terus dilakukan. Sebuah kerja yang tidak mengenal waktu dan momen. Kita menghadapi kelompok yang kecil tapi memiliki militansi dan ideologis. Maka kita juga harus militan dan ideologis. Agar tidak lahir teroris-teroris baru,” tutupnya. [MR]

Leave a reply

error: Content is protected !!