Mahasiswa Sebagai Agen Penangkal Radikalisme

2
173

Sangkhalifah.co — “Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!” Kiranya cukup ungkapan Bung Karno memberi informasi kepada kita, betapa pemuda merupakan aset dan harapan bangsa yang sangat bernilai. Pundak-pundak pemuda memikul nasib bangsa di masa yang akan datang. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa, kondisi pemuda hari ini adalah nasib bangsa di masa mendatang. Namun, apa jadinya jika suatu bangsa memiliki pemuda-pemuda yang justru menjadi ancaman bagi keutuhan bangsanya sendiri?

Belakangan dunia perguruan tinggi digegerkan bahwa sebagian kampus di Indonesia sudah terpapar radikalisme. Dilansir situs liputan6, menurut Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid mengatakan bahwa generasi muda merupakan kelompok yang rentan terpapar radikalisme dan intoleransi. Menurutnya, pemuda yang merupakan generasi Z atau milenial adalah sasaran bagi kelompok-kelompok radikal. Tentu tidak heran jika di sebagian kampus Indonesia menjadi tempat tumbuh suburnya kelompok-kelompok radikal. Kelompok radikal dari mulai Salafi Wahabi, Tahririyah dan Tarbiyah (pengganti HTI) adalah kelompok-kelompok yang tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi.

Setidaknya, ada tiga hal yang menjadi faktor penting dalam menyumbang doktrin radikalisme pada para mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia, yaitu; otonomi atau kebebasan berpikir di lingkungan kampus, pemahaman agama yang masih rendah bagi sebagian mahasiswa, dan sikap inklusif para mahasiswa sebagaimana umumnya generasi milenial  hari ini.

Dalam jiwa mahasiswa ada kebebasan berpikir yang menjadi ciri khas kemajuan dalam ruang akademik. Dengan kampus tidak membatasi cara berpikir mahasiswa, harapannya para mahasiswa bisa membuka cakrawala berpikir lebih luas, tidak kaku. Bagi dunia kampus, perbedaan pendapat adalah simbol kehidupan akademik kampus itu sendiri, menunggalkan pendapat berarti membunuh kampus itu sendiri. Dalam kenyataannya, kebebasan berpikir telah berhasil melahirkan tokoh-tokoh besar baik di kancah internasional, maupun di lokal nasional. Kemudian mereka dikenal sebagai pembaharu-pembaharu Islam. Seperti Jamaludin Afgani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho di Mesir. Atau di Indonesia sendiri kita kenal KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari dan Ahmad Surkati. Namun jika kebebasan pendapat ini lepas kontrol, atau bahkan keluar dari jalur maqashid al-syari’ah, bukan malah produktifitas yang ada, tapi kebablasan berpikir yang akan menjadi ancaman bagi bangsanya sendiri.

Pemahaman agama yang terbatas juga turut menyumbang mudahnya mahasiswa terpapar paham radikalisme. Dengan banyaknya aliran pemikiran agama di kampus, mulai dari yang moderat sampai yang ekstrem, merupakan perkara dilematis bagi mahasiswa  yang basis pengetahuan agamanya masih belum cukup memadai. Sehingga sangat mungkin mereka terpapar paham yang radikal. Belum lagi aliran radikal sudah menarget kalangan yang masih rendah pemahaman agamanya. Bagi kelompok ini, mahasiswa yang basis agamanya masih belum memadai adalah kader-kader segar kelompok mereka.

Sikap Inklusif

Salah satu karakter generasi milenial adalah sifat individualistik dan tertutup (inklusif) dengan lingkungan sosial, mereka cenderung egois dan memandang satu kebenaran yang dianutnya. Hal ini berbahaya jika sikap inklusif seperti ini menyangkut soal agama. Ia akan menganggap bahwa doktrin agama yang dianutnya adalah yang paling benar, sebaliknya, semua yang tidak sependapat dianggapnya salah. Bahkan seenaknya mengafirkan menghalalkan darah kelompok lain. Lebih bahayanya lagi, siapapun yang menemuinya wajib membunuhnya, atau kalau tidak ia yang harus dibunuh. Na’udzubillah.

Tiga problem di atas menjadi kesadaran kita bersama untuk membendung gerakan radikal di perguruan tinggi. Mengingat para mahasiswa adalah masa depan bangsa. Kebebasan berpikir  memang hal positif sebagaimana dipaparkan di atas dan telah banyak melahirkan pemikir serta tokoh-tokoh besar. Agar kebebasan berpikir tidak melewati batas, tentu harus mematuhi rambu-rambu maqashid al-syariah. Hal ini tidak bisa ditawar. Maqashid al-syariah adalah jalur yang mengantarkan pemikiran mahasiswa pada relnya sekaligus menjadi rem. Tanpa itu, kebebasan berpikir akan menabrak batas-batas yang telah ditetapkan oleh syariat.

Pemahaman agama yang memadai juga menjadi peran penting dalam membendung arus radikalisme di perguruan tinggi. Dengan memiliki pemahaman agama yang komprehensif, akan lebih mudah menerima perbedaan pendapat dan tidak fanatik dengan pemahaman yang dimilikinya. Bagaimanapun, perbedaan pendapat adalah rahmat, bukan ancaman yang harus dihentikan.

Sikap inklusif dan individualistik bisa kita tangani dengan melibatkan mahasiswa dalam ruang-ruang diskusi dengan kelompok lain. Tentunya dengan dialog-dialog yang ilmiah, bukan dengan egois dan marah-marah. Dengan demikian, mahasiswa akan sadar dan lebih terbuka dengan pemikiran kelompok lain. Melibatkan mahasiswa dalam pemecahan masalah sosial dan kebangsaan juga membuat mahasiswa menjadi eksklusif dan tumbuh kepedulian sosial serta kebangsaan.

Perguruan tinggi adalah tempat kader-kader penerus bangsa di masa mendatang. Kita harus mengawal bersama,  jangan sampai paham radikal membelenggu mereka. Bangsa ini tidak boleh berada di tangan orang-orang yang salah. Bangsa ini tidak boleh berada di tangan orang-orang yang ingin menghancurkannya dari dalam. [Muhamad Abror]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!