Larangan Untuk Saling Mengkafirkan

0
125

Sangkhalifah.co — Satu dari sekian sikap dan tindakan yang dimiliki oleh kelompok teror adalah mudah menganggap orang lain kafir dan sesat. Setiap yang tidak sejalan dengan pemikirannya dianggap telah keluar dari garis keislaman. Jika sudah kafir dan sesat, maka konsekuensinya harus diperangi dan dibunuh. Pemikiran eksklusif yang cukup berbahaya yang dapat mengakibatkan seseorang berbuat tindakan teror dengan mengatasnamakan agama. Imam Al-Ghazali pernah membuat gagasan untuk orang-orang yang demikian. Ia berkata, “Seseorang menjadi memusuhi dan membenci sesuatu karena sebab ia tidak mengetahui sesuatu itu”.

Ada banyak nash, baik Al-Qur’an maupun hadis yang melarang umat Islam menuduh orang lain kafir. Salah satunya QS. Al-Nisa [4]: 94, “Hai orang-arang yang beriman, apabila kalian pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepada kalian, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kalian, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Dalam salah satu hadisnya Rasulullah juga bersabda: “Siapa yang menuduh kafir kepada sesama muslim maka itu sama dengan membunuhnya” (HR. Al-Bukhari).

Kedua dalil di atas menunjukkan betapa bahayanya menuduh orang lain sebagai orang kafir. Sebab pada dasarnya, pengkafiran dapat membuahkan banyak konsekuensi baik hukum maupun akhlak. Seseorang yang dituduh kafir maka darahnya halal, pernikahannya dianggap batal dan hartanya halal diambil. Jika mati maka tidak boleh di sholatkan dan dikuburkan bersama dengan orang Muslim lainnya dalam satu kuburan. Tidak mudah menganggap orang lain kafir hanya karena berbeda paham. Dalam hadis ditegaskan bahwa orang yang memanggil orang lain dengan panggilan “hai kafir” maka sesungguhnya tuduhan itu telah jatuh pada salah satu dari keduanya.

Para ulama salah amat berhati-hati memvonis orang lain dengan tuduhan kafir karena konsekuensinya yang amat besar. Sehingga Imam Suyuthi menyatakan, “seseorang yang masih meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhannya dan Rasulullah adalah nabinya maka sulit seseorang itu menjadi kafir.” Pernyataan para ulama di atas memberikan maksud bahwa tidak selayaknya seseorang menuduh orang lain kafir. Dua kalimat syahadat yang masih diyakini siapa pun tidak akan mudah membuat seseorang keluar dari keislamannya.

Kita tak boleh menganggap orang lain kafir selagi masih ada jalan. Menghalalkan darah terhadap seseorang yang masih menjalankan salat dan menghadap kiblat adalah sebuah kesalahan. Salah sebab membiarkan banyaknya orang kafir yang sesungguhnya namun menumpahkan tuduhan kafir kepada seorang Muslim. Al-Ghazali berpesan bahwa definisi kafir sangat sulit dijangkau, apalagi antar para ulama satu sama lain berbeda pendapat. Menurutnya, seseorang yang masih memegang teguh kalimat la ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah maka haram menganggapnya kafir.

Hamid Jakfar Al-Qadri dalam Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat menegaskan, bahwa setiap pendapat yang masih bisa ditafsirkan dengan bergama penafsiran maka tidak sepatutnya divonis kafir. Setiap orang Islam, kata dia, semestinya tidak mudah mengkafirkan siapapun yang masih dalam ruang lingkup tauhid dan nubuwah (kenabian). Semua orang, kata Asy’ari, masih mengarah kepada satu sesembahan. Hanya berbeda keyakinan semata. Sebagai ulama besar Mazhab Ahlussunah wal Jama’ah, Al-Asyari dikenal sebagai ulama yang toleran, tidak mudah menuduh orang lain sesat dan kafir.

Islam adalah agama yang toleran, yang mengedepankan sikap husnudzan atau baik sangka. Islam memberikan batasan yang cukup ketat kepada seseorang yang bisa dianggap kafir. Ibn Taimiyyah mengatakan, “Aku tidak pernah mengkafirkan siapa pun dari umat Islam… siapa yang masih mengerjakan salat dengan wudhu maka ia selalu dalam keimanan.” Maka dari itu, orang Islam mestinya mengikuti ajaran Islam yang seharusnya, yaitu tidak mudah mengkafirkan dan menyesatkan orang lain, padahal orang yang dituduh masih menyembah Allah dengan sebenar-benarnya. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!