Larangan Islam Terhadap Tindakan Bom Bunuh Diri

0
403

Sangkhalifah.co — Islam memandang manusia sebagai makhluk yang mulia. Demikian itu dibuktikan dengan amanah yang diembannya menjadi seorang khalifah di muka bumi. Allah Swt memberikan kelebihan pada diri manusia dengan apa yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lainnya. Sehingga dalam QS. Al-Isrâ: 70 Allah memuliakan manusia baik posisinya di dalam daratan maupun lautan. Manusia dimuliakan juga sebab diberikan rizki di manapun ia berada. Dan ia dimuliakan karena diberikan fasilitas yang tidak pernah diberikan kepada makhluk Allah lainnya, fasilitas itu adalah akal, fasilitas yang diberikan Allah pada makhluk-Nya agar dapat membedakan mana yang hak dan mama yang batil, mana yang bertentangan dengan Islam dan mana yang harus diperjuangkan atas nama makhluk ciptaan Tuhan.

Salah satu ajaran yang dibenci Islam adalah perbuatan bunuh diri. Allah Swt menegaskan dalam QS. An-Nisâ: 29, bahwa orang Islam dilarang untuk membunuh diri, sebab Allah Maha Penyayang kepada umat-Nya. Para Mufasir Al-Qur’an menguatkan pemaknaan ayat larangan bunuh diri dengan mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa barang siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati, maka di akhirat kelak ia akan menjatuhkan dirinya di neraka Jahanam. Siapa yang menegak racun hingga ia mati, maka racun itu akan ia minum dan ia kekal di dalam neraka Jahanam. Dan barang siapa menusukkan senjata pada dirinya, maka senjata itu akan diberikan kepadanya dan ia akan menusuknya di neraka Jahannam (HR. Bukhari dan Muslim: 5778, 109).

Rasulullah Saw melalui hadisnya memberi isyarat yang cukup kuat bahwa aksi bom bunuh diri dengan maksud membunuh orang-orang Kafir, selain kafir harbi, baik itu kafir dzimmi, mu’ahad dan musta’an maka merupakan perbuatan yang haram. Melalui hadis riwayat Al-Bukhari ini ditegaskan, barang siapa yang membunuh kafir musta’an (orang non Islam yang dilindungi pemerintah Muslim) maka ia tidak akan pernah mencium bau sorga, padahal baunya dapat tercium dalam jangka waktu 40 tahun.

Melalui hadis ini jelas bahwa aksi terorisme dengan bom bunuh diri adalah sebuah tindakan yang haram, dikecam agama, dan tidak dibenarkan sedikitpun oleh Islam. Maka kemudian hadis ini ditegaskan dengan hadis lain bahwa kita tak boleh memberikan predikat mereka yang melakukan bom bunuh diri sebagai pelaku jihad, karena predikat itu hanya Allah yang menentukan (HR. Bukhari, dalam Ibn Hazm, hal. 520). Tindakan teroris, dengan bom bunuh diri, apalagi dengan membawa nama agama, menurut hadis ini jelas-jelas bukan jihad, sebab tidak sedikitpun mencerminkan perbuatan dan akhlak islami.

Jelas apa yang dikatakan akun Facebook “Serbuk Ayu” yang mengatakan bom bunuh diri merupakan kebolehan, bahkan bernilai jihad, adalah perbuatan yang mengada-ada yang tak sedikitpun didasari oleh ajaran agama. Islam merupakan agama yang tidak pernah memberikan kelonggaran sedikitpun terhadap kekerasan, apalagi sampai merugikan, sebagaimana tindakan bom bunuh diri para teroris. Keharaman bunuh diri dengan meledekkan bom juga dikuatkan oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan bahwa bom bunuh diri adalah perbuatan haram karena merupakan perbuatan keputusasaan (al-ya’su) dan perbuatan mencelakakan diri (ihlâk an-nafs), baik itu dilakukan di dalam medan perang atau di dalam situasi damai.

Pada kesempatan yang lain Yusuf Al-Qardhawi memberikan pesan mendalam soal perilaku jihad yang selama ini banyak dipersepsikan sebagai perilaku bunuh diri oleh kelompok teroris. Menurutnya, jihad merupakan ajaran syariat Islam yang mulia. Siapa melaksanakan jihad ia akan mendapatkan kemuliaan kelak di akhirat. Akan tetapi beliau mengatakan bahwa kemuliaan jihad terletak pada nilanya yang memberikan kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, Qardhawi menyatakan jihad yang tidak memberikan maslahat bagi orang banyak bukan merupakan ajaran Islam, namun murni perbuatan nafsu. Melalui cara pandang Qardhawi ini perbuatan bom bunuh diri dengan mengatasnamakan jihad samasekali bukan jihad secara hakiki, sebab bom bunuh diri menciderahi diri pelaku dan juga orang lain.

Baca Juga:

Khilafahisme dan Larangan Ajaran di TAP MPRS

Dalam konteks keindonesiaan, Dim Syamsuddin, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah juga menegaskan, agar umat Islam jangan tertipu dengan ajakan tindakan bom bunuh diri yang dilakukan para teroris. Sebab perbuatan tersebut murni merupakan perbuatan sesat, tidak didasari ajaran agama. Isytisyhâd atau mencari kesyahidan memang ada dalam agama Islam, akan tetapi hanya boleh dilakukan dalam kondisi peperangan dan orang Islam diusir dari negaranya, serta tidak ada jalan lain selain berjihad bahkan hingga mati syahid.

Dalam kondisi damai, tidak ada peperangan, umat Islam bebas mengekspresikan ajaran agamanya, maka tidak ada jalan untuk melakukan isytisyhad atas dasar apapaun. Sebaliknya, perbuatan demikian murni merupakan tindakan kesesatan yang didasari oleh hawa nafsu berbalut agama. Dalam konteks kekinian, jihad dapat mengambil inspirasi dari apa yang telah dilakukan oleh Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari dalam Resolusi Jihad. Yang esensinya adalah jihad dalam bentuk memerangi musuh yang hendak memecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Konteks ini sangat relevan bagi kita bangsa Indonesia untuk terus berjihad mencegah siapapun yang hendak berbuat kekacauan dengan menuduh atribut negara seperti Pancasila dan UUD 1945 sebagai produk haram. Jihad seorang Muslim di Indonesia adalah menolak tindakan memecah belah antar agama, suku, dan ras. Di samping itu, ketiadaan peperangan yang disulut oleh orang Kafir di negara Indonesia semakin menegaskan bahwa jihad yang harus dilakukan oleh umat Islam di masa kini adalah jihad menegakkan kemanusiaan, menghargai perbedaan, mengedepankan toleransi dan menjunjung tingfi nilai persatuan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!