Larangan Islam Terhadap Fanatisme Beragama

0
92

Sangkhalifah.co — Fanatisme adalah paham dimana seseorang menyukai suatu hal secara berlebih-lebihan. Ini biasanya dilakukan oleh sekelompok orang ketika menyukai orang lain, organisasi, atau negara. Fanatisme menjadikan seseorang buta mata dan hati saat menyukai suatu hal, sampai-sampai ia lupa dengan kebenaran yang sesungguhnya. Fanatisme bisa menjadikan seseorang terjerumus kepada perpecahan. Karena seseorang yang memiliki sifat ini biasanya sulit untuk merubah pola pikirnya yang padahal salah. Ia lebih mementingkan ego dibanding memilih kebenaran yang hakiki. Dalam Islam, fanatisme dilarang, termasuk fanatisme dalam beragama.

Meskipun demikian di sisi yang lain sebetulnya sifat fanatik bisa menjadi nilai positif bagi seseorang yang sudah memiliki ilmu agama yang mapan, dan bersedia menerima kritkan serta masukan untuk menemukan kebenaran. Yang berbahaya ialah manakala sifat ini ada pada seseorang yang minim dalam agama, namun kemauannya menggebu-gebu untuk meyakini agama tanpa dasar yang kuat. Kebodohan bisa menutupi jalan kebenaran jika hati dan pikiran diliputi egoisme beragam. Lebih dari itu, fanatisme yang ada pada diri orang yang tidak memiliki dasar agama berpotensi melecehkan dan merendahkan orang lain.

Larangan Islam terhadap sifat buruk ini terekam dalam salah satu firman Allah SWT pada QS. Saba ayat 25, Allah berfirman, “Qul yajma’u bainanā rabbunā ṡumma yaftaḥu bainanā bil-ḥaqq, wa huwal-fattāḥul-‘alīm; Katakanlah! Kamu tidak akan diminta tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan  dan kami pun tidak akan diminta tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan.” Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, ayat di atas mempersilahkan setiap orang melakukan apa yang diperintahkan oleh agama dan pikirannya. Setiap orang boleh mengakui apa yang diyakininya sebagai paling benar. Jadi tidak ada yang bisa memutuskan paling benar, karena yang demikian merupakan hak Tuhan.

Sementara itu Buya Hamka dalam Tafsir -Azhar menyebut, ciri dari seseorang yang memiliki sifat fanatik adalah merasa kalau pendapat dirinya adalah pendapat yang paling benar dan gemar menyalahkan orang lain yang berbeda pemahaman dan keyakinan. Ia suka menilai orang lain masuk neraka serta mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda. Quraish Shihab, salam Al-Mishbah melanjutkan bahwa kita berkeyakinan lebih dalam hati, namun di luar kita harus bertoleransi, karena agama tidak mengajarkan sikap fanatik di dalam beragama. Usman Ainur Rofiq, dalam buku ‘Mahasiswa Reformis’ menyebut, dalam sejarah, fanatisme pernah memporak-porandakan suatu negara karena egoisme kelompok tertentu.

Larangan Islam terhadap sikap fanatik dalam beragama juga terekam dalam QS. Al-An’am ayat 108, Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” Ayat ini memberi pesan agar umat Islam tidak fanatik dalam beragama, tetap meyakini agamanya paling benar, namun tidak menyesatkan pemeluk agama lain.

Mengutip riwayat Abdul Razaq, Ibn Katsir menyebut sebab turunnya ayat di atas, yakni adanya seorang Muslim di zaman nabi yang mencela sesembahan agama selain Islam. Kemudian ia dibalas oleh orang kafir dengan celaan yang berlebihan dan tidak didasari ilmu. Lebih lanjut, Al-Qurthubi menyebut, ayat ini memberi pesan agar umat Islam mengedepankan tindakan preventif sebelum terjadi hal-hal besar yang bisa memunculkan kerusakan yang lebih besar. Ayat ini melarang umat Islam fanatik dalam beragama dan mengharuskan Muslim untuk mengalah ketika menghadapi suatu masalah yang berpotensi menimbulkan madhorot yang besar.

Dalam konteks beragama dan bernegara di Indonesia, sikap ini sering muncul dari mereka yang fanatik kepada kelompok organisasinya, atau agamanya dan merasa paling benar serta mengkafir-kafirkan orang lain, yang berada di luar golongannya. Sebut misalnya kelompok ekstrim dan radikal, gemar mengkafir-kafirkan orang lain yang melakukan ziarah kubur, tahlilan, membaca Yasin pada malam Jum’at, dan kegiatan-kegiatan positif yang dianggapnya tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Fanatismenya atas apa yang diyakini, membuat buta mata dan buta hati untuk membuka pandangan yang lebih luas dalam beragama. Islam melarang fanatisme beragama karena berpotensi menimbulkan kerusakan (mafsadat) lebih besar, baik pada diri orang yang fanatik, atau agama yang diyakininya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!