Landasan Bersikap Terhadap Kelompok Takfiri

0
134

Sangkhalifah.co — Kelompok Takfiri selalu ada alasan untuk mengkafirkan. Ada yang bermotif pemurnian akidah, tuduhan ahli bid’ah, hingga pengkafiran sistem pemerintahan. Ketiganya berevolusi dalam satu mode takfiri yang bermakna menghapus keimanan seseorang. Secara tidak langsung akan melahirkan kekerasan verbal baik dalam narasi maupun pemikiran. Sebagai obyek takfiri, tentu tidak tinggal diam menghadapi serangan berupa tuduhan yang menyakitkan.

Beragam opini tentang pengkafiran tentu banyak bertebaran. Ada pihak yang kontra hanya dengan mengulang rasa tendensius menghardik para pelaku takfiri. Di pihak lain ada yang mendiamkan saja. Bahkan, ada yang mengajarkan untuk tetap bersikap ramah seperti harusnya karakter muslim sejati. Hanya saja pertanyaannya kemudian, seperti apakah landasan dan tuntunan untuk menghadapi para takfirian?

Fakta sejarah tentang pelaku takfiri baik individu maupun kelompok sejatinya telah ada sejak zaman Islam awal. Kasus khawarij yang membunuh Sayyidina Ali menjadi satu fakta kekejaman yang tidak bisa ditolerir. Banyak pihak yang menjadikan fakta historis ini sebagai dasar pengkafiran balik terhadap kelompok takfiri. Padahal, jika ditinjau dari konteks sejarah dan sosial menjadi peristiwa berbeda.

Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib memberikan tiga opsi dalam bersikap kepada khawarij. Pertama, dilarang mencegah mereka masuk masjid. Kedua, mencegah rizki mereka dari harta rampasan perang. Ketiga, dilarang memulai perang terhadap mereka sebelum mereka membuat kerusakan (Qardhawi, 1402: 149). Ketiga sikap ini setidaknya mengajarkan kita untuk lebih bersikap bijak terhadap pengkafiran kaum takfiri. Artinya, sikap pengkafiran tidak bijak kalau dibalas dengan pengkafiran kembali.

Dalam kasus ini, sangat dianjurkan untuk meniru sikap Sayyidina Ali ketika menghadapi fitnah pengkafiran yang dilakukan khawarij. Mereka yang terbiasa mengkafirkan muslim lainnya, bahkan menuduh sampai membunuhnya harus mendapatkan sikap responsif. Secara tidak langsung Ali bin Thalib mengajarkan bagaimana bersikap terhadap fitnah-fitnah yang dituduhkan mereka. Namun, di satu sisi terlihat beliau justru mengingkari kebatilan yang dilakukan mereka.

Belajar Sikap Moderat Dari Ali bin Abi Thalib

Kendati kaum khawarij telah melakukan tindakan fitnah yang sangat nyata, tetap bagi Ali mereka adalah Islam. Tidak sepatutnya mereka disebut kafir. Meskipun dalan sebuah hadis ada ungkapan mengkafirkan seorang muslim, berarti dia kafir. Tetapi, dalam praktiknya beliau tidak menganjurkan untuk mengkafirkan kembali mereka yang suka mengkafirkan.

Setidaknya dalam kasus ini Sayyidina Ali telah mengajarkan sikap moderat meskipun terhadap mereka yang suka mengkafirkan. Seperti ditulis Yusuf Qardhawi (1402 H) bahwa para ulama bersepakat kaum khawarij sendiri masih disebut sebagai satu firqah muslim. Kendati dalam tindakan mereka menyimpang, tetapi dalam muamalah tetap diperbolehkan. Seperti misalnya, makan hasil sembelihan mereka bahkan menikahi wanita dari kalangan mereka (Qardhawi,1402: 149). Sehingga, dalam muamalah terhadap mereka harus tetap sama seperti bersikap kepada muslim pada umumnya.

Penjelasan di atas cukup memberikan gambaran utuh mengenai landasan Bersikap terhadap kelompok yang suka mengkafirkan. Dengan mengingat sejarah khawarij di atas, bukan seharusnya terbawa arus untuk membalas kafir kembali mereka. Sayyidina Ali selaku pelaku sejarah telah memberikan kontribusi sikap sejarah untuk tetap memperlakukan mereka tetap sebagai muslim. Maka, sebagai muslim setidaknya dapat melihat teladan beliau yang mampu menahan diri terhadap fitnah mereka.

Apabila dikaitkan dengan konteks kekinian, tentu masih relevan dengan beberapa fenomena pengkafiran yang terjadi belakangan. Kasus pengkafiran yang terjadi baik di kalangan ustadz selaku panutan kerap terjadi. Entah sebagai pelaku takfiri maupun sebagai objeknya. Bahkan, yang memilukan ketika pengkafiran itu terjadi di media sosial diikuti kalangan awam yang tidak memahami duduk perkaranya.

Pengkafiran terhadap muslim yang sering terjadi serampangan indentik dengan perilaku fitnah tanpa bukti dan fakta. Sebab, di balik praktik tersebut seringkali terselip tujuan tertentu baik bersifat pragmatis maupun politis. Tidak sepatutnya juga menyikapi hal demikian dengan baku hantam. Tidak juga dianjurkan membalas pengkafiran dengan tindakan sama hingga menjadi kafir semua. Sehingga, pengkafiran sebagai fitnah tidak sepatutnya disikapi dengan fitnah. Akan tetapi, pengkafiran terhadap muslim yang dinilai sebagai hasil kesalahan berpikir harus diajak dialog dalam rangka mencari kompromi kebenaran bersama. [Abdul Fattah]

Leave a reply

error: Content is protected !!