Kuku Toleransi Bima di Kota Bogor

0
236

Sangkhalifah.co — Kasus pembangunan GKI Yasmin menghadapi jalan berliku, dan sejak tahun 2008 menjadi kerikil dalam sepatu. Selama belasan tahun perkara ini mengusik dan memunculkan pameo getir; betapa sulitnya manusia membuat ruang untuk bertemu Tuhan ketika Tuhan saja tak pernah membuatnya rumit.

Banyak orang menganggap toleransi sebagai ancaman bagi keimanan dan keimanan adalah ancaman bagi toleransi, karena keduanya dianggap benda buas yang saling menggigit. Padahal toleransi adalah laku antara manusia dengan manusia, dan keimanan adalah laku antara manusia dan keilahian. Keduanya bertumpu dalam penciptaan Tuhan yang sama bernama manusia. Terasa aneh jika Tuhan meminta manusia untuk membenci satu sama lain – sementara perbedaan di antara manusia adalah kehendak-Nya. Nalar logika beragama itu seharusnya dimulai dari sini.

“Untuk menjaga keimanan yang diyakini, kita tidak perlu membuktikan bahwa keimanan orang lain salah,” kata Paulo Coelho. Toleransi bukan hal yang rumit, karena ini bukan soal keyakinan. Ini tentang bagaimana rasa kemanusiaan menuntun kita untuk memperlakukan orang-orang yang berbeda. Tidak ada ajaran agama yang meminta pemeluknya menyerang orang lain karena perbedaan. Manusia lah yang memaknai agama sebagai sarana hegemoni yang seringkali diwujudkan dalam brutalitas ofensif.

Dan Bogor tidak mudah. Selama puluhan tahun ia mengalami komposisi yang hampir homogen dan sebagai penyangga Jakarta, kota Bogor pada akhirnya tak bisa menghindar dari tuntutan intimasi sosial. Namun ternyata ideologi sulit beradaptasi, seringkali ia tertinggal ketika heterogenitas tak terhindarkan dan Inklusivitas adalah kebutuhan. Persoalan GKI Yasmin adalah gunung es yang telah lama memadat, tapi Bima Arya berhasil mencairkannya. Pekan ini dia menuntaskannya secara sosial, setelah rantai persoalan hukum telah usai.

Keberanian tidak selalu lekat dengan tepuk tangan, apalagi menyangkut isu toleransi dan pluralisme. Ia harus muncul dari mata hati. Namun Bima Arya seperti halnya Bima ketika menemukan “Banyu Perwitasari”; berani menerjang sesuatu yang paling ditakuti hampir seluruh manusia; kehilangan popularitas! Bima dan Bima melewati itu. []

*Islah Bahrawi, Direktur Jaringan Islam Moderat & Pegiat Kontra Narasi dan Ideologi

Leave a reply

error: Content is protected !!