Kritik Wacana Kekerasan Dalam Seruan Aksi Bela Islam

0
395

Sangkhalifah.co — Mengawali tahun 2021 ini, tentu banyak terlontar untuk kehidupan yang lebih baik. Tak ketinggalan, dalam hidup berbangsa dan bernegara pun demikian. Sebagai warga negara, hal sangat didambakan ialah kerukunan dan perdamaian. Ini sangat relevan dengan jargon yang diusung Kemenag mengawali 2021, “Indonesia rukun”. Sehingga, setiap warga negara sejatinya memiliki peran penting untuk mewujudkan kerukunan yang sesungguhnya. Karenanya, setiap gangguan dan ancaman yang mengusik republik ini harus disikapi secara serius dan proporsional.

Menjelang penghujung tahun 2020 kemarin, pemerintah tiba-tiba memberi kejutan. Boleh dibilang sebagai kado akhir tahun. Di kali lain, boleh disebut sebagai pukulan telak bagi FPI. Pasalnya, secara resmi segala kegiatan yang ada kaitannya dengan FPI dilarang. Tidak main-main, pelarangan itu disahkan melalui SKB yang ditandatangani enam pejabat tinggi negara. Sehingga, hal ini sekaligus menjawab keraguan terhadap pemerintah dalam mengatasi IRT (intoleransi, radikalisme dan terorisme) di Indonesia.

Namun demikian, ada hal yang tidak boleh dilupakan dari eksistensi FPI selama ini. Memang diakui, konsistensinya dalam memerangi kemaksiatan dengan dalih nahi munkar tidak perlu diragukan. Kegigihan dan upaya keras yang dilakukan anggota berikut pimpinannya sangat nyata. Hanya saja, dalam bertindak di lapangan suka mengabaikan dan lupa diri bahwa ada pihak yang lebih berwenang. Sehingga, tak jarang aksi-aksi mereka berbuntut pada polemik di masyarakat. Sebagian mereka, suka dengan penegakan yang dilakukan FPI. Tetapi, oleh sebagian lain itu hanya menimbulkan kerusuhan akibat anarkisme dan main hakim sendiri.

Kelompok Teror: Mengaku Islam Tapi Merendahkan Ajaran Islam

Menyikapi pelarangan segala kegiatan yang bercorak FPI, tentu muncul pro dan kontra. Pihak pro tentu senang dengan langkah pemerintah untuk mengurangi kegaduhan dan menambah rasa aman di tengah Pandemi Covid-19.  Sebaliknya, pihak kontra tentu sangat menyayangkan tindakan pemerintah yang dinilai tidak menjunjung HAM. Akan tetapi, untuk menengahi persoalan ini perlu dipandang secara obyektif.

Perlu dilihat, apabila kegiatan-kegiatan maupun aksi yang membawa nama FPI selalu diklaim sebagai bela Islam. Seruan untuk menyerang tempat maksiat hingga tindakan politis-provokatif selalu diwarnai pekikan ‘takbir’. Seakan-akan, bacaan takbir itu memberikan energi tersendiri bahwa tindakan mereka selalu dalam naungan Islam. Meski dalam banyak hal, lebih cenderung ke arah negatifnya. Di sinilah, bungkus agama menjadikannya sangat elegan dan nyaris tidak bisa disentuh oleh hukum. Sebab, dalam praktiknya tentu ada anggapan itu semua sebagai ekspresi keagamaan yang patut dilindungi undang-undang.

Tak jarang, apabila aksi mereka dibungkus dengan dalil agama. Sesuai dengan sejarah pendiriannya, FPI diklaim sebagai “Pembela Agama Allah”. Hal ini didasarkan pada QS. as-Shaff [61]: 14. Maka, dengan penuh percaya diri mereka begitu semangat untuk menjadi anggota FPI. Karena, secara tidak langsung akan muncul klaim paling benar apabila telah bergabung di dalamnya. Jika demikian, tentu ada kecacatan ketika menalar ayat al-Qur’an. Sehingga, muncul kesan apabila bergabung dengan FPI akan menjadi satu-satunya pembela agama Allah. Kalau demikian, kelompok selain mereka akan dicap salah karena tidak sesuai haluan dan mendukung visi mereka.

Terorisme: Sebuah Prilaku Yang Dikecam Agama Islam

Al-Maraghi menegaskan bahwa pembela agama Allah itu berarti orang-orang yang selalu sesuai dengan agama baik perbuatan dan ucapan. Di samping itu, juga harus sesuai agama dalam urusan jiwa dan harta (al-Maraghi, 1946: 28/90). Dipahami bahwa ayat di atas seharusnya diamalkan secara proporsional menurut konteks yang berlaku. Hematnya, yang perlu dikedepankan dari jargon pembela agama Allah adalah akhlak sebagai muslim. Singkatnya, penting bagi muslim agar santun dalam ucapan dan tindakan. Sebagai pelengkapnya, sikap kesadaran mengabdikan diri dan harta di jalan Allah.

Dalam hal lain, mereka juga hanya bermodalkan semangat mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar (QS. Ali Imran [3]: 103 dan 110). Kedua ayat tersebut diklaim sebagai legal standing aksi mereka selanjutnya. Namun, dalam praktiknya cenderung mengabaikan konteksnya. Kekerasan menjadi satu alternatif pilihan, dan tidak peduli terhadap liyan. Inilah sebabnya, kejadian-kejadian intoleran bertebaran oleh aktor yang sama. Semua itu terjadi karena fanatisme ditinggikan, tanpa mempertimbangkan kemanusiaan. Akibatnya, mereka hanya terjebak dalam anarkisme yang kerapkali mengganggu dan mencederai hak-hak masyarakat lainnya. Aksi-aksi mereka dengan dalih ‘bela agama’ itu justru menodai makna dasar Islam sebagai agama rahmah dan kasih sayang.

Hal yang sangat disayangkan adalah pengakuan diri sebagai umat terbaik itu tidak dibarengi dengan akhlak yang baik pula. Apa jadinya, jika umat terbaik selalu direpresentasikan dengan seruan provokatif penuh kebencian dan amarah. Maka, tak ubahnya baju agama yang dipakai dengan dalih Islam harus ternodai. Islam tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan sikap eksklusif-intoleran. Apabila dibiarkan terus menerus akan meningkat pada level kekerasan yang lebih tinggi. Karenanya, upaya bela Islam harus berdampingan dengan kontekstualisasi ajaran sesuai zaman dan bukan atas kepentingan. Sehingga, nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian dapat ditransformasikan dalam spirit Islam yang semestinya. [Abdul Fattah]

Leave a reply

error: Content is protected !!