Kritik Atas Logika “Menolak Khilafah= Penista Agama”

2
464

Sangkhalifah.co — Narasi baru kembali dimainkan para pengasong khilafah untuk memuluskan propagandanya. Narasi ini menggunakan logika yang jika dirangkaikan kira-kira seperti ini; khilafah ajaran Islam, menolak khilafah berarti menolak ajaran Islam. Bahkan menolak khilafah dianggap melecehkan dan menista agama.

Narasi yang kurang lebih sama juga telah dikritik Dr. Ainur Rafiq Al-amin dalam tulisannya di situs ini yang berjudul “Bernarkah Menentang Khilafah Tahririyah Dihukum Pasal Penodaan Agama“. Yang mana kelompok ini menggunakan logika; khilafah adalah ajaran Islam, sedangkan Islam adalah agama yang dilindungi negara. Jadi menentang khilafah sama saja dengan penistaan agama yang bisa dijerat pidana.

Sekilas terdapat distorsi kognitif dalam bangunan logika tersebut. Dari sini terlihat jelas bahwa propaganda narasi “khilafah ajaran Islam” dilakukan dengan sangat terencana (by design). Sehingga kontranarasi demi menangkal propaganda ini menjadi urgen dilakukan.

Jika membuka arsip-arsip video mereka, narasi ini sejak lama sudah digemborkan untuk mencuci nalar publik. Baru belakangan ini semakin masif mereka lakukan. Propaganda narasi ini seminggu yang lalu bahkan ditayangkan di salah satu stasiun televisi nasional. Tujuan narasi ini jelas agar publik termakan propaganda bahwa seakan-akan khilafah yang mereka tafsir dan kampanyekan itu ajaran Islam sebenarnya. Setelah narasi khilafah ajaran Islam ini tertanam di nalar publik, baru kemudian dibuat narasi berikutnya; menolak khilafah berarti menolak ajaran Islam. Bahkan yang lebih ekstrim menolak khilafah berarti melecehkan agama dan penistaan agama.

Menolak Khilafah= Penistaan Agama

Sehabis Jum’atan, saya kaget di grup pengajian mingguan yang saya ikuti yang diampuh oleh para ulama NU di daerah Kota Depok terdapat postingan gambar Buletin Kaffah No. 157, 16 Muharram 1442 H/4 September 2020 M yang diikuti dengan postingan tulisan berjudul “Haram Melecehkan Ajaran Islam” Seperti biasa tulisan ini juga dimuat dalam situs Media Umat, keduanya memang media yang terafiliasi HTI.

Penasaran dengan apa yang dimaksud dengan melecehkan Islam, sampai-sampai diharamkan media ini? Saya pun iseng membaca sampai selesai. Usai membacanya, saya sempat melakukan sanggahan atas tulisan ini di grup. Sempat berdebat juga dengan yang memposting tulisan. Hingga salah satu anggota grup membela postingan tersebut dan saya dianggap su’ul adab karena berani berdebat dengan seorang ustaz. Saya juga baru tahu kalau yang memposting tulisan itu seorang ustaz, katanya ustaz NU juga. Jelas saya ragu, masa iya ustaz NU pake nama tambahan “Abu …”.

Tulisan ini sebagiannya merupakan sanggahan saya di dalam grup. Menurut saya, jika tidak cermat, apalagi bagi orang yang tidak paham dengan gaya khas tulisan pengasong khilafah yang over generalisasi pasti bakal muda termakan propaganda.

Bagaimana tidak? sejak awal tulisan ini banyak mengutip pendapat para ulama dan kitab-kitab familiar di kalangan santri dan warga NU.

Mereka tidak segan mengutip pendapat Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir al-Ba’alawi al-Hadhrami asy-Syafi’i (w. 1272 H) dan kitabnya Sullam at-Tawfîq. Mereka menterjemahkan kata al-istihzâ`dalam kitab tersebut sebagai pelecehan terhadap ajaran Islam. Tafsiran terhadap kitab tersebut kemudian mereka simpulkan dengan; “…pelecehan atau penistaan terhadap Allah SWT, Rasul saw., syiar-Nya dan ajaran Islam bisa menyebabkan pelakunya murtad.”

Murtad ini tampak sengaja ada penekanan, terlihat dari upaya mereka mengutip pendapat Imam an-Nawawi al-Bantani dalam Mirqât Shu’ûd at-Tashdîq fî Syarh Sullam at-Tawfîq bahwa riddah (murtad) itu merupakan bentuk kekufuran yang paling tercela.

Setelah panjang lebar mengutip pendapat ulama tentang yang merendahkan dan meremehkan agama. Dalam tulisan ini al-istihzâ` bi ad-dîn dianggap sebagai penista agama. “Dimaknai: penghinaan dan cemoohan kepada Allah SWT, atau penghinaan dan ejekan terhadap Rasul saw, atau penghinaan dan ejekan terhadap agama Islam. Bisa juga dimaknai: menampakkan setiap akidah (keyakinan), perbuatan atau ucapan yang menunjukkan tikaman terhadap agama dan meremehkannya, melecehkan Allah SWT, para rasul-Nya.”

Sampai disini sebenarnya masih dapat diterima. Karena pendapat-pendapat para ulama tersebut tidak terjadi perbedaan pendapat. Bahkan ketika tulisan ini menyimpulkan bahwa “Penistaan agama itu banyak bentuknya. Menghina Allah SWT; menistakan dan melecehkan Nabi saw.; merendahkan dan menistakan al-Quran, malaikat, istri-istri Nabi saw. dan Ahlul Bait beliau, dsb. Bisa juga dalam bentuk melecehkan dan menjelek-jelekkan Islam dan syariahnya; seperti mensifati Islam dan syariahnya sebagai biadab, brutal, bengis, mencerminkan keterbelakangan dan sifat-sifat buruk dan jahat lainnya.” Secara pribadi saya sependapat dengan ini, sebab selain dengan pendapat ulama seperti yang dikutip, bagi saya hanya mereka yang lemah akal yang sampai menista agama seperti itu.

Masalah dimulai pada paragraf yang mengatakan; “Bisa juga dalam bentuk menistakan sebagian ajaran Islam, seperti jihad dan khilafah; menstigma negatif jihad dan khilafah yang merupakan bagian dari ajaran Islam dengan menuding keduanya sebagai ancaman, memecah-belah umat, keterbelakangan, kemunduran dsb.”

Paragraf ini diperkuat dengan paragraf berikutnya; “Pada masa Rasul saw., penistaan agama (Islam) itu merupakan perilaku orang-orang kafir baik musyrik maupun Ahlul Kitab (Yahudi dan Nahrani). Mereka melakukan penistaan kepada Allah SWT, Rasul saw, al-Quran, ajaran dan hukum Islam, para sahabat, dsb. Mereka melakukan semua itu sebagai uslub dan strategi untuk menghadang dakwah, menghalangi manusia dari Islam dan memalingkan mereka dari jalan Allah SWT.”

Kemudian dipertegas lagi dengan paragraf; “Penistaan terhadap Islam itu tidak lain merupakan cermin kekufuran atau kemunafikan. Pelakunya adalah orang-orang kafir dan munafik.”

Inti dari tulisan tersebut ingin mengatakan bahwa menolak khilafah (tentunya khilafah ala HTI yang berada dibalik media umat dan buletin Kaffah) itu selain dianggap sebagai penista agama juga murtad, munafik, dan kafir. Ancaman-ancaman tersebut jelas sangat mengerikan apalagi bagi mereka yang kurang mendalami agama.

Kritik Atas Logika Sesat Pengasong Khilafah

Nahdlatul Ulama dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama di Jakarta pada 1-2 November 2014 yang diikuti para ulama, kyai, dan ustaz dari berbagai pondok pesantren di seluruh Indonesia telah melakukan bahtsul masail. Salah satu permasalahan yang dibahas adalah tentang khilafah. Adapun keputusan para ulama tersebut sebagaimana dimuat NUonline dengan tegas memutuskan:

Pertama, Islam sebagai agama yang komprehensif (din syamil kamil) tidak mungkin melewatkan masalah negara dan pemerintahan dari agenda pembahasannya. Kendati tidak dalam konsep utuh, namun dalam bentuk nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar (mabadi` asasiyyah). Islam telah memberikan panduan (guidance) yang cukup bagi umatnya.  

Kedua, Mengangkat pemimpin (nashb al-imam) wajib hukumnya, karena kehidupan manusia akan kacau (fawdla/chaos) tanpa adanya pemimpin. 

Ketiga, Islam tidak menentukan apalagi mewajibkan suatu bentuk negara dan sistem pemerintahan tertentu bagi para pemeluknya. Umat diberi kewenangan sendiri untuk mengatur dan merancang sistem pemerintahan sesuai dengan tuntutan perkembangan kemajuan zaman dan tempat. Namun yang terpenting suatu pemerintahan harus bisa melindungi dan menjamin warganya untuk mengamalkan dan menerapkan ajaran agamanya dan menjadi tempat yang kondusif bagi kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan.

Keempat, Khilafah sebagai salah satu sistem pemerintahan adalah fakta sejarah yang pernah dipraktikkan oleh al-Khulafa` al-Rasyidun. Al-Khilafah al-rasyidah adalah model yang sangat sesuai dengan eranya; yakni ketika kehidupan manusia belum berada di bawah naungan negara-negara bangsa (nation states). Masa itu umat Islam sangat dimungkinkan untuk hidup dalam satu sistem khilafah. Pada saat umat manusia bernaung di bawah negara-negara bangsa (nation states) maka sistem khilafah bagi umat Islam sedunia kehilangan relevansinya. Bahkan membangkitkan kembali ide khilafah pada masa kita sekarang ini adalah sebuah utopia. 

Kelima, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah hasil perjanjian luhur kebangsaan di antara anak bangsa pendiri negara ini. NKRI dibentuk guna mewadahi segenap elemen bangsa yang sangat majemuk dalam hal suku, bahasa, budaya dan agama. Sudah menjadi kewajiban semua elemen bangsa untuk mempertahankan dan memperkuat keutuhan NKRI. Oleh karena itu, setiap jalan dan upaya munculnya gerakan-gerakan yang mengancam keutuhan NKRI wajib ditangkal. Sebab akan menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang besar dan perpecahan umat.

Keenam, Umat Islam tidak boleh terjebak dalam simbol-simbol dan formalitas nama yang tampaknya islami, tetapi wajib berkomitmen pada substansi segala sesuatu. Dalam adagium yang populer di kalangan para ulama dikatakan:

   العبرة بالجوهر لا بالمظهر

“Yang menjadi pegangan pokok adalah substansi, bukan simbol atau penampakan lahiriah.

 العبرة بالمسمى لا بالإسم  

“Yang menjadi pegangan pokok adalah sesuatu yang diberi nama, bukan nama itu sendiri.”

https://www.youtube.com/watch?v=x8XAw6NB46Y&ab_channel=MuhammadMakmunRasyid

Tulisan dalam buletin Kaffah menyebutkan bahwa; termasuk “… bentuk menistakan sebagian ajaran Islam, seperti jihad dan khilafah; menstigma negatif jihad dan khilafah yang merupakan bagian dari ajaran Islam dengan menuding keduanya sebagai ancaman, memecah-belah umat, keterbelakangan, kemunduran dsb.”

Sedangkan pada point 5, hasil putusan Munas Alim Ulama NU di atas jelas menyebutkan; agar setiap jalan dan upaya munculnya gerakan-gerakan yang mengancam keutuhan NKRI (termasuk upaya merubah Indonesia menjadi negara khilafah ala HTI) wajib ditangkal. Salah satunya alasannya, karena ancaman tersebut dapat menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang besar dan perpecahan umat.

Pertanyaannya, apa semua penolak khilafah termasuk penista agama? Jika benar demikian, apakah para ulama yang berkumpul dalam Munas Alim Ulama yang membuat keputusan menolak khilafah adalah penista agama juga?

Pertanyaan tersebut sudah terjawab dengan sendirinya. Sebenarnya tidak perlu argumentasi yang panjang untuk mengkritisi logika mereka. Sebab tidak mungkin juga ratusan ulama yang hadir pada Munas Alim Ulama itu akan bersepakat untuk sebuah kesesatan. Tidak mungkin juga ratusan ulama yang setiap hari bergelut dengan kitab kuning di pondok pesantren mereka tidak membaca kitab-kitab yang dikutip dalam tulisan pengasong khilafah tersebut.

Komparasi ini justru kian menunjukan adanya distorsi kognitif dalam penggunaan logika para pengasong khilafah dalam setiap narasinya. Distorsi kognitif ini berupa kesalahan logika dalam berpikir, serta adanya kecenderungan untuk berpikir berlebihan dan tidak rasional. Ini karena keilmuan mereka terhadap agama tidak mendalam, melainkan hanya parsial semata.

Kesalahan logika dalam narasi khas para pengasong khilafah ini umumnya seperti over generalisasi. Terlihat dari narasi mereka yang mencomot sana sini pendapat ulama kemudian ditafsirkan secara berlebihan sesuai kepentingan mereka. Selanjutnya kesimpulan dari kesalahan logika tersebut mereka propagandakan untuk menyerang siapa saja yang menjadi lawan mereka. Wallahu A’lam. []

*Donald Qomaidiansyah Tungkagi, Alumni PKN GP Ansor di Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!