Kontroversi Jihad: Antara Fundamentalis dan Modernis

1
423

Jihad sebagai ejawantah dari iman, sebagaimana firman-Nya dalam Qs. Al-Hujurât [49]: 15, menjadi satu kesatuan antara Islam dan Muslim. Beriringanya waktu, perpindahan makna mulai terjadi, dari redaksi wa jâhadû bi-amwâlihin wa anfusihim fî sabîlillâh (berjihadlah kamu dengan hartamu dan jiwamu pada jalan Allah) menjadi wa jâhadû li-amwâlihin wa anfusihim fî sabîlillâh (berjihadlah kamu dengan hartanya dan jiwanya pada jalan Allah). Perpindahan itu mengakibatkan perpindahan orientasi dalam berjihad.

Orang-orang yang memiliki kepentingan duniawi, rela mengorbankan orang lain daripada mengorbankan kepemilikannya, hartanya dan jiwanya. Konsekuensinya, jihad yang semula bersifat “mengerahkan segala upaya” untuk memuliakan, berubah menjadi mengumbar kekerasan. Pandangan yang berorientasi pada makna jihad pertama berupa fisik, mengesampingkan makna lainnya, seperti: perjuangan intelektual dan perjuangan secara batin. Ketiga makna populer terkait jihad tidak berjalan secara berkesinambungan dalam praktik sosial-muamalah.

Muncullah dua kutub pandangan antara Sayyid Qutb dengan Rasyid Ridha. Qutb mengartikan jihad harus ditempatkan pada empat hal, yaitu: berhadapan dengan kejahiliyahan, baik berupa kekuatan maupun kekuasaan; melangkah tahap demi tahap secara berkesinambungan; didukung media; dan adanya ikatan yang menyatukan dan mengendalikan hubungan masyarakat Muslim dan non-Muslim.

Baca: Mazhab Sunni: Khilafah Bukan Sistem Baku

Sementara Ridha lebih kepada unsur spiritual. Ia memaknai bahwa jihad merupakan segala jerih payah dalam menegakkan kebenaran, perluasaan ajaran agama, memberitakan hal-hal bajik dan ihsân (mengerjakan amal kebaikan) serta mengaplikasikan amar ma’rûf nahyi munkar. Kesemuaannya sebagai wujud dari iman dan ketakwaan kepada Allah.

Muhammad Chirzin―sebagai penulis buku ini―mengatakan bahwa terjadinya perbedaan orientasi jihad disebabkan karena perbedaan penafsiran. “Ridha menghasilkan tafsir jihad inklusif, sedangkan Qutb menghasilkan tafsir jihad eksklusif” (hlm. 6). Perbedaan dari segi mendefinisikan dan menafsirkan menjadi konsekuensi dalam mengamalkannya. Chirzin―lebih lanjut mengatakan―Qutb dalam melihat sejarah periode Madinah Nabi Muhammad lebih menonjol pemikirannya yang “menetapkan hukum final pemutusan pemisahan hubungan Muslim dengan non-Muslim, mencanangkan perang opensif terhadap golongan non-Muslim, kapan saja dan di mana saja mereka berada” (hlm. 7).

Dalam konteks Indonesia, pemikiran Ridha lebih relevan ketimbang Qutb. Sebab, Ridha―masih dalam buku ini―mengartikan sirah Nabi di Makkah dengan dakwah bil-lisan secara damai, sedangkan di Yatsrib memadukan antara bil-lisân dengan bil-mâl wa-nafs (dengan mengorbankan harta benda dan jiwa raga). Dalam konteks Muslim dan non-Muslim, Ridha menjadikan Piagam Madinah sebagai basis pemikirannya, dimana Nabi lebih menetapkan prinsip perang depensif dalam menghadapi kaum kafir.

Baca: Meluruskan Legalitas Jihad Kaum Jihadis

Buku ini mendedahkan empat hal perbedaan antara Qutb (mewakili kelompok fundamentalis) dan Ridha (mewakili kelompok modernis). Pertama, pelaku jihad (Qs. Ali Imrân [3]: 142). Keduanya memaknai secara berbeda. “Ridha menyatakan konteks jihad tersebut (pada) perang Uhud dan perintah perang itu merupakan ujian keimanan. Sedangkan Qutb menekankan teguran Allah atas orang beriman yang merasa cukup berkata: saya siap mati” (hlm. 139). Konteks sebuah ayat tetap dijaga utuh oleh Ridha, sedangkan Qutb terus memberlakukannya kapan pun.

Kedua, sasaran dan sarana jihad (Qs. Al-Anfâl [8]: 72). Dimana Ridha mengartikannya dengan “mencurahkan jerih payah berdasarkan kemampuan menanggung kesulitan”. Kaitannya dengan jihad ini, Ridha membagi dua, yaitu: jihad aktif dan jihad pasif. Jihad aktif adalah “membelanjakan harta, tolong menolong, berhijrah”. Adapun jihad pasif adalah “rela hati meninggalkan kampung halaman untuk hijrah”. Sementara Qutb memaknai ayat itu pada adanya “kewajiban yang harus dilaksanakan kaum Muslimin, sampai pun bilangan musuh berlipat ganda. Dengan pertolongan Allah akan menang. Kewajiban jihad tidak menunggu tercukupinya perimbangan kekuatan riil, antara Mukmin dan musuh mereka” (hlm. 152-153).

Ketiga, hakikat dan tujuan jihad (Qs. Al-Mâ’idah [5]: 35). Penafsiran keduanya masih tetap saling bertolak belakang. Ridha memaknai ayat ini sebagai perjuangan seorang Mukmin dalam “mencegah dari dorongan nafsu dan mengikuti jalan Allah; berjuang menghadapi musuh Islam yang menentang dakwah” (hlm. 161). Namun prinsipnya―menurut Ridha―seorang Mukmin tidak boleh mencari musuh, seandainya ada maka tidak boleh gentar untuk mempertahankan agama dan kebenaran-Nya. Sedangkan Qutb, menafsirkan bahwa “Allah menanamkan rasa takwa di dalam hati dan mendorong orang beriman mencari jalan kepada Allah dan berjuang pada jalan-Nya dengan mengharap keberhasilan… menghentikan keburukan dalam keadaan tak dilihat dan tak terjangkau tangan hukum” (hlm. 161).

Baca: Meninjau Kembali Tafsir Dukhon

Dan keempat, imbalan jihad dan sanksi meninggalkannya (Qs. al-Taubah [9]: 41). Ridha menyatakan bahwa “setiap individu harus berangkat ke medan perang dengan apa yang ia mampu” (hlm. 175). Sedangkan Qutb menyatakan, di mana “Allah menyeru agar orang beriman berangkat dalam segala keadaan, sekalipun rintangan menghadang” (hlm. 176). Pada aspek ini, antara Ridha dan Qutb, tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama fokus pada aspek ketaatan.

Konsistensi keduanya, yang satu menekankan aspek spiritual dan satunya aspek lahiriyah. Kelebihan Ridha atas tafsir jihad Qutb terletak pada konsistensi atas pemaknaan jihad yang inklusif. Dalam konteks ini, M. Chirzin mengatakan bahwa tafsir Ridha ini selaras dengan konsep beragama dan bernegara di Indonesia. Sedangkan Qutb, pewaris pemikirannya kerap rigid, tekstual dan tidak komprehensif dalam mengaplikasikan ragam teks dalam Qur’an. Sebab itulah, Qutb di Indonesia dikenal sebagai inspirator dan kitabnya menjadi rujukan kelompok radikal.

Penafsiran dua mufasir di atas, tidak bisa dilepaskan dari faktor sosiologis-politis yang ada pada zamannya mereka. Begitulah para mufasir, mereka akan menafsirkan ayat-ayat Qur’an sesuai perkembangan dan kebutuhan zamannya. Maka satu penafsiran dengan lainnya harus dikawinkan, agar menemukan titik temu dan bisa digunakan dalam konteks beragama yang harmonis, damai dan hubungan Muslim dengan non-Muslim terjaga dengan baik. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!