Konflik Hanya Akan Mendatangkan Luka, KH. Adnan Arsal: Jangan Terjadi di Bima

1
154

Sangkhalifah.co — Konflik berkepanjangan di Poso, Sulawesi Tengah menjadi catatan kelam Bangsa Indonesia. Konflik hanya akan mendatangkan luka dan kepedihan bagi perjalanan bangsa dan negara ini sejatinya harus dipetik sebagai pelajaran berharga agar tidak ada lagi cerita-cerita pilu di masa mendatang.

Akibat konflik tersebut, stigma negatif Poso sebagai daerah konflik dan berbahaya terlajur melekat di benak masyarakat, khususnya di daerah lain, padahal Bumi Sintuwu Maroso kini sudah berbenah. Menjadi daerah ramah, konflik sudah lama usai dan kedamaian sudah tercipta.

Untuk itu, tokoh Muslim Poso Kiai Adnan Arsal berinisiatif bergerak melunturkan stigma negatif yang sudah kadung melekat pada Poso.

Kiai Adnan Arsal yang notabenenya adalah Penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Poso bakal menggelar bedah buku Muhammad Adnan Arsal, Panglima Damai Poso yang akan menceritakan bagaimana konflik hanya membuat masyarakat Poso terluka. Tidak ada hal positif yang bisa diambil dari konflik berdarah di Bumi Sintowo Maroso.

Lewat acara bedah buku tersebut, Kiai Adnan berharap publik Indonesia secara keseluruhan dapat memahami bahwa kini Poso sudah menjadi daerah yang damai, sedang membangun peradaban baru yang mengedepankan kemajemukan, moderasi dan pendidikan bagi warganya agar tidak mudah terhasut dengan ajakan-ajakan konflik horizontal di masa mendatang.

“Apapun motifnya, tidak ada ruang untuk konflik di Poso, terlebih, di bumi Indonesia,” ujar Kiai Adnan dalam jumpa pers di Hotel Marina, Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (17/9/21).

“Saya tiba di Bima, seperti kampung saya sendiri. Rumah kedua saya. Saya juga bertemu dengan orang-orang Bima yang dulu pernah di Poso, pertemuan yang mengharukan,” imbuhnya.

Adnan yang juga mantan Panglima Islam saat konflik Poso ini menjelaskan, bedah buku sendiri akan dilaksanakan pada Sabtu, 18 September 2021 di Pondok Pesantren Al Madinah, Bima, Nusa Tenggara Barat.

Bima dipilih sebagai lokasi acara lantaran pada saat konflik, banyak warga dari Bima yang berangkat ke Poso untuk angkat senjata, khsususnya santri-santri yang termakan hasutan sesat. Oleh karenanya, agar tidak ada lagi kejadia serupa, Bima dipilih menjadi lokasi bedah buku.

Terlebih, santri-santri dari Ponpes Al Madinah diketahui sempat datang ke Poso di masa-masa konflik, padahal tidak ada anjuran atau perintah untuk datang ke Poso dari Ponpes.

“Kami tidak pernah meminta para santri untuk berangkat ke Poso, itu semua inisiatif mereka karena termakan hasutan dari pihak yang ingin Poso menjadi wilayah konflik berkepanjangan,” ungkap Pengurus Ponpes Al Madinah Uztaz Bunyamin.

Ditegaskannya, Ponpes Al Madinah tidak hadir untuk ‘memproduksi’ para teroris, apalagi memusuhi negara. Baginya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati.

Dalam acara tersebut, Wakil Bupati Bima Dahlan M. Noer dijadwalkan hadir untuk memberikan key note speaker. Selain Wakil Bupati, acara tersebut juga akan diisi oleh Ketua MUI Bima Abdurrahim Haris, Penulis buku Khoirul Anam, Perwakilan dari BPET MUI Pusat Najih Aromdloni, Ustaz Bunyamin selaku tuan rumah dan tentu saja Kiai Adnan Arsal sebagai narasumber utama.

“Harapannya dengan bedah buku tersebut, stigma negatif Poso sebagai daerah konflik akan luntur dan masyarakat Indonesia pada umumnya dapat melihat Poso sebagai daerah yang aman dan nyaman. Bumi Sintuwu Maroso itu asri, sangat menarik untuk dikunjungi, bahkan ditinggali,” tutupnya. [AL]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!