Kompleksitas Penyebab Laten Intoleransi

1
174

Sangkhalifah.co — Data menunjukkan betapa maraknya intoleransi. Direktur Riset Setara Institut, Halili, menyebut kasus intoleransi di Indonesia cukup tinggi selama 11 tahun terakhir. Ada 2.975 tindakan pelanggaran kebebasan beragama dalam 2.240 peristiwa. Di antaranya ada 378 intoleransi terhadap rumah ibadah dan inilah yang terbanyak. Lembaga riset Imparsial juga mencatat ada 31 kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia sepanjang November 2018 sampai November 2019. Bentuk intoleransi yang paling sering terjadi adalah pelarangan beribadah.

Majalah Tempo edisi ke-52 Februari tahun 2020 memberitakan bahwa Presiden Jokowi meminta langsung penyelesaian kisruh pembangunan renovasi Gereja Karimun di Kepulauan Riau. Presiden khawatir kasus tersebut menjalar ke daerah lain. Sebab cukup mencengangkan, gereja yang sudah berdiri sejak 1928 tersebut digugat izin pendiriannya oleh masyarakat setempat yang intoleran. Perintah langsung dari pemimpin tertinggi negara ini menandakan betapa gawatnya intoleransi di Indonesia.

Selain itu, intoleransi juga marak terjadi di dunia maya. Hasil survei International Forum on Indonesian Development (INFID) dan jaringan GUSDURian pada Agustus-Oktober 2016 menunjukkan ada 90.000 akun media sosial setiap bulannya yang menyebarkan pesan dan sikap intoleransi.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tahun 2017 menemukan fakta bahwa kaum muda termasuk penikmat media sosial yang sangat tinggi sebesar 87% (Qodir, 2016: 434). Sehingga hasil survei The Wahid Foundation tahun 2016 menjadi sangat wajar, bahwa kaum muda mendukung aksi-aksi intoleransi mencapai sebanyak 46 persen.

Fenomena intoleransi yang menjamur di berbagai kota, menjangkiti berbagai kalangan termasuk anak muda serta kejadiannya yang selalu berulang dan semakin parah dari tahun ke tahun sangat mengancam kedaulatan Indonesia. Bahkan Abdurrahman Wahid mengatakan, masa depan Indonesia sebagai bangsa tergantung kepada kemampuan untuk memulihkan realitas itu. Oleh karena itu, akar masalah yang menjadi penyebab maraknya intoleransi harus segera ditemukan dan ditindaklanjuti secara solutif.

Berdasarkan survei PPIM UIN Jakarta tahun 2017, faktor-faktor yang menjadi penyebab intoleransi adalah: proses belajar siswa, akses internet untuk pengetahuan agama, ketidakefektifan organisasi massa keagamaan dalam merangkul anak muda, persepsi tentang kinerja pemerintah. Sedangkan penelitian Stev Koresy Rumagit mengungkapkan bahwa penyebab intoleransi di Indonesia adalah perbedaan pemahaman dalam menangkap nilai-nilai agama.

Penelitian Attabik dan Sumiarti mengungkapkan hal serupa, bahwa agama dapat menjadi sumber konflik dan kekerasan disebabkan oleh eksklusifitas dan fanatisme pemeluk agama yang menyebabkan merasa paling benar dan memposisikan pihak selainnya adalah sesat. Bahkan, perilaku intoleransi kadangkala dianggap sebagai bagian dari “tugas suci agama”.

Nilai agama bisa membawa seseorang memiliki semangat intoleran, namun juga bisa sebaliknya, menjadi spirit untuk toleran. Berdasarkan studi-studi di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen dalam beragama dapat menjadi salah satu faktor yang berperan penting dalam menyebabkan intoleransi.

Fenomena intoleransi tidaklah sederhana, namun begitu kompleks. Penelitian Halimur Rosyid dkk di daerah yang terkenal dengan banyak melahirkan tokoh terorisme yaitu Lamongan, intoleransi adalah sebab awal dari lahirnya radikalisme dan terorisme. Berbagai kasus intoleransi selalu ada peran faktor ekonomi di dalamnya, yang menghubungkan perbedaan keyakinan atau etnik dengan intoleransi. Praktik toleransi dan intoleransi yang terjadi memiliki kaitan erat dengan nilai dan praktik sosial yang berkembang di masyarakat.

Sebab lainnya juga diungkapkan oleh Wakil Direktur Imparsial Gufron Mabruri, menurutnya intoleransi yang terus berulang juga disebabkan oleh peraturan pemerintah yang membatasi kebebasan beragama dan hukum yang belum tegas. Beberapa penyebab kasus intoleransi yg erat dengan kasus rumah ibadah, diakibatkan oleh adanya Undang-undang Dasar (UUD) yang diskriminatif. UUD diskriminatif diusung oleh mereka yang intoleran.

Mengenai UUD diskriminatif yang diusung oleh kelompok intoleran, diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Komnas HAM di Jawa Barat mengenai Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) tahun 2017, ditemukan bahwa salah satu penyebab utama lahirnya kebijakan yang intoleran serta deskriminatif adalah kuatnya tekanan dari kelompok intoleran yang tidak menghendaki keberadaan kelompok atau identitas keyakinan tertentu untuk hidup bersama.

Kehadiran ragam perbedaan dan multi agama di Indonesia bukan untuk membuat lupa bahwa masih ada hak-hak sesama warga negara yang mesti dijaga. Kompleksnya penyebab intoleransi, yang semuanya itu laten, dalam artian sangat potensial untuk berulang hingga menjadi penyebab intoleransi di berbagai tempat, membuat hal ini harus dicermati oleh siapapun dalam upaya menanggulangi intoleransi. Melakukan pemetaan dan analisis, penyebab yang mana yang menjadi penyebab intoleransi di daerah tersebut. []

Leave a reply

error: Content is protected !!