Komitmen Perdamaian dan Perwujudan Desa Pancasila

4
555

Sangkhalifah.co — Seorang penulis menampakkan ‘kemarahan’ tersembunyi dibalik teks yang tertuang sekaligus ketidakmengertiannya atas apa dibalik peresmian sebuah desa, yang menghadirkan tiga lembaga bergengsi di negara ini. Narasi “demi desa, begitu banyak pihak yang kini (bernafsu) mengambil keuntungan sepihak, bahkan bisa jadi atas nama sains, moral dan kepemimpinan” yang ditulis oleh Basri Amin merupakan klimaks kata-kata terakhir dalam ‘kemarahan’-nya yang tak berdasar. Penyebab narasi itu bisa lahir dari dua kemungkinan, yakni tidak terpakainya kepakaran atau data miliknya dan kehilangan jejak penelusuran atas serangkaian acara yang terjadi.

Serangkaian acara telah dipikirkan jangkauannya serta administrasinya. Dengan menjadikan Desa Banuroja ketimbang mengikuti perspektif Basri Amin tentang sebuah desa yang tidak butuh “juru bicara” disebabkan cantolan dan menjadikan pilot project tidak memenuhi indikator dan parameter sebagaimana yang mewujud pada Desa Banuroja. Desa Banuroja tidak sekedar membincangkan relasi gender dan sandang-pangan yang terkecukupan. Disini Basri Amin tidak ‘melek’ isu nasional dan upaya pemerintah dalam menanggulangi ragam masalah, baik dihulu maupun hilir. Justru sebaliknya, fasilitator dan tim perumus telah mengisi ruang kosong yang tak terbersitkan oleh para pemangku kebijakan, misalnya akan kebutuhan “tangguh ideologi”.

Memang, di depan pintu-pintu rumah dan jendela, banyak ilmuwan dan pengamat ‘centil’ yang berkomentar tak berkesudahan. Mengukur segala sesuatu berdasarkan parameter/indikator yang diterima dan subjektivitas pribadi semata. Peng-aku-an terus melonjak tanpa melihat kiri dan kanan. Menyelipkan kemarahan dan kesombongan dengan mengajak khalayak untuk menjadi ‘pasukan’ baru. Targetnya: menghancurkan sumber kekuatan.

Keadaan ini mengingatkan kita pada kisah pengaduan pada ‘pemilik’ Baitullah. Seorang yang tak mampu berbuat dan melawan pasukan Abrahah, si angkara murka, si intelektual dan merasa punya segala senjata ampuh. Apakah yang terjadi? Tuhan selalu bersama orang-orang yang tidak sekedar berteori, tapi bersama orang-orang yang mampu meramu dan merapikan barisannya dengan pergerakan yang sistematis, terstruktur dan berkemampuan lebih. Dimana sebuah kehebatan dan kedigjayaan ‘gajah-gajah’ yang dipersiapkan sebagai petempur dan terlatih rontok dan hancur tak tersisa. ‘Pasukan’ langit datang berbondong-bondong dengan cara tak diduga-duga. Ragam kesombongan, kekuatan fisik dan perasaan berkuasa hancur berbenturan dan rontok.

Manusia harus disadarkan bahwa kedirian manusia terbagi dua: kedirian yang bersifat personal dan kedirian yang bersifat publik. Wilayah kedua ini yang sering gagal dan tak beranjak maju. Disinilah pasukan yang memiliki kuasa berusaha meluruskan dan mengajak pada perubahan serta jangkauan yang lebih luas. Sebab dalam rumus yang sederhana, pribadi yang baik hanya akan mengalami perkembangan optimum dalam kolektivitas yang baik. Sampai pada sejarah yang fundamental, sebuah dasar negara, lahir dari keputusan yang mengikat seluruh peserta yang terlibat di dalamnya, terlepas dari yang menonjol dan vokal.

Sebuah kemajuan tidak bisa bersifat individual, sekalipun ‘senjata’ ampuh dimilikinya. Dalam sejarah peradaban di Madinah sekalipun, Nabi Muhammad memunculkan sebuah teks yang ‘hidup’ dengan mengolah secara berkesamaan. Individualisme yang mapan tak akan bernilai, manakala abai pada ruang kebersamaan. Kolektivitas dan penyatuan gagasan sebelum mewujudkan sesuatu hal akan melahirkan aksi yang kokoh. Rangkaian argumentasi yang menyerang, hanyalah serpihan dan keniscayaan alam, yang kadang tak berarti untuk disikapi dengan menurunkan peluncur-peluncur.

Mari kita ambil dari contoh terbarukan, ide peresmian “Desa Banuroja” lahir dari perkumpulan ragam pemikir dan manusia yang terus melahirkan inovasi dan permodelan lintas wilayah. Semuanya bertujuan bukan dalam konteks mengunggulkan satu di atas lainnya. Melainkan perwujudan skala nasional bahkan terbaca oleh mereka yang sebelumnya, di kampung halamannya sendiri. Dimana Pancasila terkesan merenggang dan tak terawat, melainkan berkutat di wilayah urnamen upacara saja. Penyatuan ide peresmian pada “Desa Banuroja” sangat terbaca rasa “reinvestasi” disamping mengandalkan deposito nilai-nilai yang disemai dari masa lalu.

Keberadaan deposito nilai-nilai yang tersebar itu tak memungkinkan pula menjadikannya model di pentas nasional. Tak menjadikan yang lainnya pun bukan bentuk penihilan sebuah deposito nilai yang telah mewujud di titik tertentu. Sebab “Desa Banuroja” adalah awal perjalanan dan bukan akhir perjalanan, apalagi berakhir dalam pentas serimonial. Perjalanan awal harus mengambil pilot project yang holistik. Lebih-lebih dalam era pertarungan ideologi dan masuknya gerakan transnasional ke pinggir-pinggir pedesaan.

Gorontalo yang semula bersih dari isu radikalisme dan terorisme, kini menjadi sorotan ragam institusi. Tidak saja kepadatan penduduk yang rendah tapi tempat persembunyian, yang dipandang masih aman oleh kelompok ekstremis dan teroris. Ragam persinggahan sering terjadi sebelum berlabuh ke provinsi Sulawesi Tengah dan Selatan. Maka pilot project yang diambil dan ditampilkan ke permukaan haruslah terpancar darinya suasana pembentukan dasar negara di sebuah meja bundar kala itu. Keterwakilan dari sana-sini menjadi bukti komitmen bersama yang siap menyerbu para perongrong, pengubah haluan negara dan upaya-upaya pemecah belah bangsa.

Pertarungan ideologisasi dan era industrialisasi membutuhkan SDM yang sigap dan berkecukupan. Tak ada lagi sekedar asyik masyuk yang cenderung terlena oleh penyesuaian alam yang serba tidak berkepastian. Alam dan ruang-ruang tidak lagi bersifat stagnan tapi evolutif. Manusia-manusia tidak sekedar mengandalkan data tapi kecanggihan mengolah data dan pengaplikasian dari teori ke praktik. Dimana dunia membutuhkan pergerakan, dari alam langit menuju ke bumi realitas.

Harus pula ditanamkan kepada siapa saja. Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula implementasi dari sebuah teori ke praktik. Selalu menyimpan hal-hal yang belum terjapai. Tapi selalu para ‘pengamuk’ hanya menyoroti sesuatu yang belum dan mengabaikan yang sudah. Virus ‘kecentilan’ selalu hinggap di dalam diri para ‘pengamuk’ yang selalu berselancar di segala ombak yang ada, sembari menyakinkan bahwa apa yang datang darinya lah yang tepat untuk diresmikan dan ditonjolkan ke permukaan.

Semua dari kita, membutuhkan gotong royong dan kerja kolektif sebagai bentuk keseriusan atas apa yang tertangkap dan terbayangkan di benak pikiran. Tapi berhenti di situ adalah sebuah dosa yang mesti dipertanggung jawabkan kelak hari. Upaya perubahan yang positif harus diucapkan bahwa dia baik. Kini, alam berputar dari kesombongan dalil dan statistik menuju pembuktian nyata. Dunia tidak lagi butuh dalil-dalil panjang dan tafsiran yang melangit. Bahkan masyarakat menginginkan teladan yang baik dan implementasi yang nyata dibandingkan dalil-dalil yang melangit.

Akhirnya, tak ada lagi tafsir kata data dan kata dosa. Data bisa diambil dimana-mana dan dimiliki siapa saja. Sedangkan dosa bagi mereka yang melihat tapi membiarkan dengan tidak beranjak mengukuhkannya. Maka pengagungan data harus ditopang oleh aksi yang nyata. []

4 comments

  1. Khilafah; Antara Produk Sejarah dan Kewajiban Yang Dipaksakan - sangkhalifah 3 April, 2021 at 19:32 Balas

    […] Dalil agama-negara kita sudah jelas. “Apabila suatu tujuan telah tersedia tanpa melalui sarana tertentu, maka gugurlah pertimbangan sarana tersebut”. Dalam kerangka dan konsepsi yang digali dari kaidah di atas, khilafah yang merupakan bagian dari Fikih, hanyalah salah satu wasilah. Dan aspek ini bisa tidak digunakan manakala ada wasilah yang sudah disepakati bersama di Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni Pancasila. […]

Leave a reply

error: Content is protected !!