Komitmen NU dan Muhammadiyah: Menyemai Damai di Era Pandemi

0
196

Sangkhalifah.co — Setahun lebih kita hidup berdampingan dengan wabah covid-19 ini. Pun, berbagai upaya dikerahkan guna merdeka dari wabah ini, misalnya melalui kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat namun tetap saja, pandemi ini belum menunjukkan tanda-tanda melandai di era new normal.

Sayangnya, upaya tersebut jarang mendapat apresiasi terutama bagi kalangan kelompok islamis. Belum usai penanganan covid-19, kita dihadapkan dengan banjir bandang hoax dan gelombang fitnah yang tanpa henti di media sosial.

Realitas itu tentu berbahaya bagi kebhinekaan bangsa ini. Hal ini karena Indonesia dikenal sebagai negara yang plural baik suku, agama dan budaya maka tak menutup kemungkinan, menjadi negeri yang memiliki potensi konflik nomor wahid di dunia.

Untungnya, meskipun Indonesia memiliki potensi konflik yang amat besar, namun sejarah mencatat, tak ada konflik berkepanjangan. Yang menjadi pertanyaan, mengapa tak terjadi konflik yang berkepanjangan di Indonesia? Atau, mengapa integrasi bangsa masih kokoh di tengah pandemi dan menguatnya siar kebencian dan intoleransi?

Dalam konteks ini, jawabannya ada dua yaitu pertama, Indonesia memiliki Pancasila. Pancasila yang merupakan ideologi dan dasar negara pada akhirnya mampu mengikat tali persaudaraan antar anak bangsa. Fakta membuktikan, Indonesia bersatu dan berdiri di atas beribu pulau dan beribu suku dan budaya, kata Ahmad Nur Wakhid (2020).

Kedua, Indonesia memiliki dua jangkar kebhinekaan atau pilar moderatisme yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. NU dan Muhammadiyah berkomitmen untuk menyemai benih perdamaian di Indonesia dan bahkan dunia, kata Muhammad Najib Azca dan Hairus Salim, dkk (2019).

Di kancah nasional, dalam catatan Muhammad Najib Azca dan Hairus Salim, dkk (2019), kedua ormas tersebut berhasil membawa Indonesia menuju demokrasi yang damai dan berkeadaban, mengingat di banyak negara seringkali transisi politik dari otoritarianisme menuju demokrasi diwarnai konflik kolektif, perang saudara hingga kekerasan sektarian berkepanjangan. Kontribusi besar ini dapat dibuktikan dengan munculnya dua tokoh terkemuka reformasi yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari NU dan Amien Rais dari Muhammadiyah.

Kedua, NU dan Muhammadiyah baik melalui kekuatan struktur maupun barisan kulturnya telah dan terus memainkan peran penting dalam proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Misalnya, Muhammadiyah konsisten menghadirkan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi masyarakat, antara lain melalui aktivitas filantropi dan pelayanan sosial di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan kebencanaan. Sedangkan, NU konsisten mempromosikan dan mengarusutamakan ajaran Islam yang penuh kedamaian dan toleransi. Juga, upayanya membendung arus ekstrimisme dan intoleransi keagamaan belakang ini.

Sementara itu, di kancah internasional, menurut amatan Munawir Aziz (2021), NU dan Muhammadiyah terlibat dalam kerja-kerja perdamaian serta resolusi konflik. Bahkan, para kiai NU dan beberapa tokoh kunci dari Muhammadiyah tidak lelah menyuarakan perdamaian dengan kerja nyata, baik dalam mediasi, koordinasi, dan membangun ukhuwah.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kontribusi Muhammadiyah dalam proses perdamaian di Mindanao, Filipina Selatan, dan juga dalam proses resolusi konflik di Thailand Selatan. Muhammadiyah sangat aktif dalam proses perdamaian terkait dengan kasus separatis Abu Sayyaf di Mindanao. Dalam konflik Thailand, pendekatan soft power digunakan untuk proses perdamaian.

Sedang, NU sejak lama punya upaya concern dalam perdamaian Timur Tengah dan di level global. Para kiai NU sejak lama memimpikan situasi damai antara Israel dan Palestina, yang itu bisa dimulai dengan dialog antaragama; Yahudi, Nasrani, dan Islam dalam konteks global.

Berdasarkan uraian di atas maka, NU maupun Muhammadiyah memiliki komitmen menyemai benih damai baik di kancah nasional bahkan internasional. Hal ini semakin kuat dengan adanya dua dokumen penting yaitu, piagam “Dekralasi Pancasila” bagi NU dan piagam “Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah” bagi Muhammadiyah.

Dalam konteks pandemi dan menguatnya siar kebencian, misal munculnya tagar #TolakPPKM, NU dan Muhammadiyah men-support (mendukung) langkah-langkah penanggulangan covid-19 yang dikerahkan oleh pemerintah dengan cara aktif mengkampanyekan pentingnya menerapkan protokol kesehatan (prokes). Serta, melangitkan doa-doa melalui mimbar istighosah, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, itulah coretan komitmen NU dan Muhammadiyah dalam menyemai damai di tengah pandemi yang pada gilirannya keduanya menjadi oase bagi kita dalam berbangsa dan bernegara. [Saiful Bari]

Leave a reply

error: Content is protected !!