Komitmen Nasionalisme Terhadap Keragaman Bangsa

0
477

Sangkhalifah.co — Bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku dan bahkan agama. Bahkan, Indonesia di dalamnya didapati beragam organisasi keagamaan yang memiliki visi dan misi berbeda satu dengan yang lainnya. Sayangnya, masih ada sementara orang yang mengaku berjiwa nasionalis, negarawan, tapi enggan bisa menghargai perbedaan dan keragaman. Berceramah di mana-mana bahwa Indonesia adalah negeri yang beragam, namun hanya surplus pada ucapan, tetapi nol dalam tindakan. Mengkampanyekan jargon nasionalisme namun di satu sisi yang lain menolak kelompok orang yang berbeda keyakinan agama dan paham keagamaan. Alih-alih meyakini Pancasila dan UUD 1945, namun sesungguhnya telah mengebiri keduanya. Tindakannya bertentangan dengan semangat sumber hukum negara.

Jiwa nasionalisme sesungguhnya keniscayaan adanya keragaman. Sejarah membuktikan para ulama dahulu ketika melawan penjajahan mereka tidak memandang seseorang pun dari latar belakang agama. Mereka bertekad melawan penjajah harus dengan persatuan semua golongan, tidak boleh egois. Para founding father Indonesia pun terdiri dari kelompok yang beragam, ada yang Islam, non-Muslim, nasionalis, dan agamais. Mereka bersatu-pada membangun semangat persatuan dalam keragaman. Para pendiri bangsa sadar bahwa keragaman jika dikelola dengan baik akan melahirkan energi positif untuk membangun dan memberdayakan masyarakat.

Islam sejak 14 abad yang lalu telah meniscayakan bahwa seseorang yang memiliki jiwa nasionalisme seharusnya sadar akan keragaman. Di dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman yang artinya: “Wahai manusia! sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Dalam ayat yang lain Allah kembali menegaskan dalam QS. Al-Baqarah 213, “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”

Baca: Pembubaran FPI Ditinjau Dari UU Ormas

Pada QS. Al-Hujurat didapati terma syu’ûb yang menurut Imam Ibn Mandzur bermakna sekelompok orang yang berada dalam suatu tempat. Pakar tafsir asal Indonesia, Quraish Shihab menegaskan makna kata tersebut sebagai sekelompok orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang menempati suatu tempat. Biasanya mereka berasal dari nenek moyang yang sama dan memiliki cita-cita yang sama. Dalam istilah modern, kata syu’ûb dapat dimaknai bangsa, sebab bangsa adalah suatu kelompok orang yang ada dalam suatu tempat. Bangsa Indonesia adalah orang-orang yang berada di negara Indonesia yang memiliki cita-cita yang sama dan berasal dari nenek moyang yang juga sama. Ayat tersebut membicarakan soal kondisi dan sikap yang dimiliki suatu bangsa.

Imam Asy-Syaukani menyatakan kandungan makna ayat di atas ialah tentang kesadaran yang harus dimiliki oleh sebuah kelompok (bangsa) bahwa Allah telah menakdirkan manusia dalam beragam, yang mana tujuannya agar saling mengenal, bukan supaya saling berselisih. Oleh sebab demikian yang Allah nilai dari manusia adalah nilai ketakwaan, bukan kehebatan fisik atau kelompok. Ulama yang lain seperti An-Nawawi juga memberi catatan atas ayat Al-Qur’an di atas, menurutnya, ayat di atas meniscayakan adanya suatu perbedaan dalam sebuah kelompok manusia. Namun demikian semua manusia berada dalam satu keturunan yaitu Adam dan Hawa, sehingga tak selayaknya saling membuat kerusakan antar satu dengan yang lain.

Firman Allah di atas memberi isyarat yang kuat bahwa suatu bangsa sudah semestinya memiliki kesadaran yang kuat akan keragaman di tengah umat. Menolak adanya keragaman, baik keragaman manusia atau keragaman pemahaman agama adalah tindakan yang melawan takdir dan ketentuan Allah. Prinsip ini menjadi dasar bagi semua bangsa yang telah memilih nation-state sebagai pijakan bermasyarakat, bahwa satu sama lain baik antar warga bangsa atau dengan bangsa-bangsa di luar dirinya tidak boleh ada yang merasa paling hebat sementara merendahkan yang lain. Setiap orang yang melabeli dirinya sebagai nasionalis meniscayakan dirinya memiliki jiwa yang sadar akan perbedaan di tengah masyarakat.

Setiap orang yang berkomitmen memilih nasionalisme maka menjadi niscaya jika ia sadar dan selalu mengedepankan rasa toleransi yang tinggi. Berdustalah mereka yang berkampanye mencintai bangsa dan negara Indonesia namun masih melakukan hasutan satu sama lain atas dasar kepentingan kelompok semata. Jangan sesekali percaya kepada siapapun yang mengaku membela negara, namun kelakuannya bertentangan dengan keniscayaan pluralisme. Dalam perspektif Al-Qur’an tegas bahwa suatu kelompok atau individu yang berada dalam sebuah bangsa harus mengutamakan akhlak dan nilai ketakwaan. Dan, nilai ketakwaan tertinggi adalah sadar akan keragaman dan memperlakukannya dengan sikap toleran. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!