Khilafah: Warisan Nabi?

7
485

Penyeru khilâfah terus sibuk mencari dalil yang pasti tentang status kewajibannya. Tidak heran, narasi-narasi yang disajikan disandingkan dengan kalimat-kalimat mulia nan agung, seperti salah satu gambar dalam tulisan yang berjudul “Bela Islam, Bela Nabi, Bela Khilafah Warisan Nabi SAW” (Majalah Media Umat; Edisi 255, 6-19 Desember 2019).* Kata khilâfah yang didampingi “Bela Islam” dan “Bela Nabi” untuk membuat pembaca simpatik dan terpukau. Narasi sejenis sering digunakan oleh kaum fundamentalis dalam menawarkan gagasannya. Membalut produknya dengan dogma dan doktrin agama. Politisasi dan penyelewengan makna yang hakiki adalah tindakan yang tidak dibenarkan dalam kajian keislaman. Tepat kiranya, sindiran Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kalimatu haqqin yurâdu bihâ bâthilun atau dalam bahasa kekinian, “kata-katamu indah tapi agendamu busuk”.

Dalam konteks penggunaan teks-teks agama untuk agenda busuknya, HTI bisa dikategorikan sebagai neo-Khawarij atau “Khawarij Modern”. Salah satu ciri kesamaannya dengan sejarah pada masa Sayyidina Ali adalah mereka sering meneriakkan ayat al-Qur’an, ini al-Hukmu illâ lillâh atau “hukum/keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah” (Qs. Yûsuf [12]: 40). Selain itu pula, pernyataan bahwa yang berbeda dengannya kufur, thagut, syirik, sistem buatan manusia bukan buatan Allah dan lain sebagainya. Lagi-lagi, sindiran Qur’an sangat jelas. Wa lâ talbisû al-Haqq bil bâthili wa taktumû al-Haqqa wa antum ta’lamûn atau ”dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya” (Qs. Al-Baqarah [2]: 42).

Baca: Khilafah: Membawa Berkah atau Malapetaka?

Jika sindiran Qur’an itu jelas alamatnya. Maka pertanyaan awalnya adalah perlukah membela agama (Islam)? Perlu. Al-Qur’an secara jelas menyatakannya. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah? Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: Kamilah penolong-penolong agama Allah (Qs. Ash-Shâf [61]: 14).

Ayat di atas dikonfirmasi dengan ayat dalam surah lain. Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa (Qs. Al-Hadîd [57]: 25). Tujuannya agar jelas siapa yang setia dengan agama-Nya dengan yang tidak. Walaupun wujud dari kesetian itu beragam modelnya dari umat Rasulillah Muhammad SAW. Tapi semua Muslim dengan keragaman pembelaannya, akan membela agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Karena Muslim dan Mukmin secara sadar akan firman Allah, Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (Qs. Muhammad [47]: 7). Salah satu mufasir, Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Sa’di dalam Taisîr al-Karîm al-Rahman fî Tafsîr Kalâm al-Mannân menyatakan:

هذا أمر منه تعالى للمؤمنين، أن ينصروا الله بالقيام بدينه، والدعوة إليه، وجهاد أعدائه، والقصد بذلك وجه الله، فإنهم إذا فعلوا ذلك، نصرهم الله وثبت أقدامهم

“Ini merupakan perintah dari Allah kepada orang yang beriman agar mereka membela Allah dengan menjalankan agamanya, mendakwahkannya dan berjihad melawan musuhnya. Dan semua itu bertujuan untuk mengharap wajah Allah. Jika mereka melakukan semua itu, maka Allah akan menolong mereka dan mengokohkan kaki mereka.”

Baca: Menyoal Kekeliruan Tafsir Islam Kaffah

Begitu pula dalam membela pembawa agamanya, yakni Nabi Muhamamd SAW. Umat Muslim sepakat bahwa membela Nabi perlu, sebagaimana agama. Tapi membela agama dan pembawa agama harus sesuai dengan ajaran dan tindakannya. Nabi adalah orang yang akhlaknya adalah Qur’an. Dan Qur’an adalah sumber utama ajaran Islam. Bukti membela Nabi adalah dengan mewariskan ajarannya dan apa yang dibawanya. Yang dibawanya adalah al-Qur’an sama sekali tidak berbicara khilâfah dan yang diwariskannya adalah (salah satunya) Piagam Madinah juga tidak berbicara khilâfah. Mengatakan bahwa khilâfah adalah warisan Nabi adalah perkataan yang bathil dalam Islam.

Kecintaan Muslim kepada Islam dan Nabi tidak bisa diukur dari memperjuangkan atau tidak sistem khilâfah. Terlalu mengada-ngada jika mengukur tingkat kecintaan kepada keduanya dari sebab itu. Dimana perkara yang dijadikan ukuran dalam Islam tidak menemui kesepakatan mutlak, melainkan multi-tafsir. Berbeda jika ukurannya hal yang pasti seperti Qur’an.

Maklumat Ibnu ‘Abidin dalam Majmû’ah Al-Rasâ’il penting dikemukakan disini dalam membuat tolak ukur untuk menetapkan sebuah hukum dan aturan di sebuah perkumpulan atau lokasi.

فكثير من الأحكام تختلف باختلاف الزمان لتغير عرف أهله ولحدوث ضرورة بحيث لو حكي الحكم على ما كان عليه للزم منه المشقة والضرر بالناس ولخالف قواعد الشريعة المبنية على التخفيف والتيسير ودفع الضرر والفساد

“Sebagian besar dari beberapa hukum akan berbeda sebab perbedaan zaman. Alasannya karena berubahnya manusia dan tuntunan yang ada. Jika hukum itu dicetuskan apa adanya, maka akan berdampak masyâqah dan darâr bagi manusia dan akan menyalahi kaidah syariat yang terbangun atas keringanan, kemudahan, penolakan darâr dan kerusakan.”

Baca: Nasionalisme: Sebuah Ajaran Rasulullah

Dari maklumat di atas, kita bisa memahami bahwa menetapkan sesuatu itu jangan melepaskan dari kebutuhan umat yang ada. Sebagaimana pernyataan Makmun Rasyid bahwa “umat Islam tidak membutuhkan khilâfah” menjadi benar adanya. Bukan sebab sistem khilâfah tidak mendapat kepastian dari ajaran Islam, melainkan topik khilâfah yang ada belakangan ini lebih politis dari perbincangan ulama-ulama yang tertera dalam kitab-kitab klasik maupun kontemporer. Diksi-diksi kewajiban tidak akan kita temukan dalam kitab klasik dan kontemporer seperti narasi bombantisnya para penyeru khilâfah di abad 21 ini.

Artinya, agama Allah dan warisan Nabi yang perlu dibela adalah bukan khilâfah. Melainkan syariat yang universal dan mendahulukan akhlak daripada fikih (khilâfah merupakan produk fikih) itu sendiri. Pada aspek inilah, Muslim di Indonesia banyak yang menabrak pilar-pilar akhlak dan etika dan lebih memperjual belikan teks-teks fikih yang bisa berubah sesuai kondisi dan tempat. Sebab khilâfah bukan perkara penting dalam sejarah kenabian dan keislaman, maka dahulukan akhlak dengan menjaga NKRI dan mengisinya―jika terdapat kekosongan nilai di dalamnya―tanpa harus membongkar sangkarnya, apalagi menggantinya dengan sistem khilâfah yang utopis. []

*Majalah ini merupakan milik HTI selain Majalah Al-Wa’ie

7 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!