Khilafah Tahririyah: Agenda Politik Hizbut Tahrir

3
672

Sangkhalifah.co — Muslim dan masyarakat masih banyak yang belum bisa membedakan antara ajaran Islam atau syariat Islam dengan doktrin Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Islam dan pemahaman seseorang terhadap ajaran Islam memiliki jarak yang jauh. Begitu pula Muslim dan Islam, dua hal yang berjarak. Islam sangat luhur, sedangkan Muslim tidak seluhur Islam itu sendiri. Artinya, pemahaman seseorang terhadap agamanya tidak bisa diklaim sebagai ajaran maupun syariat Islam.

Bagi Hizbut Tahrir Indonesia, jika menggunakan apa yang di atas, maka bisnis Khilafah Tahririyah tidak akan berjalan lancar. Kesadaran di kelompok HTI itu membuat mereka harus membuat strategi yang jitu, yang kemudian terkonsepkan dengan ragam penggandengan istilah dan narasi seperti “Syariah dan Khilafah”, “Khilafah Ajaran Islam”. Mereka (HTI) akan terus meramu agar mereka bisa mengajak orang masuk ke HTI dan mewujudkan Negara Khilafah sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Taqiyuddin Al-Nabhani dan para pendiri lainnya.

Dalam buku Mitos Khilafah Ajaran Islam? Menguji Argumentasi Soal Khilafah Ala HTI (Maghza, 2020) karya Satria Dharma ini disajikan ragam bantahan terhadap “dalil-dalil” yang kerap digunakan kelompok HTI. Dimana penulis buku ini mengatakan bahwa ia telah berhadapan dengan HTI sejak 2003 sewaktu tinggal di Balikpapan. Ia menyimpulkan sebagai pembuka buku ini, “HTI hanya sekedar menggunakan kesalahan-kesalahan dan ketimpangan dalam masyarakat untuk menjadikannya sebagai amunisi untuk menjelek-jelekkan pemerintah. And I really hate that kind of attitude”.

Sebab itulah, keberadaan HTI tidak sama sekali melestarikan keluhuran agama melainkan menjadikan agama sebagai bisnis dan bungkus sebuah produknya. Maka tidak mungkin namanya “Hizbut Tahrir” tapi gerakannya agama. Mengapa? Hizbut Tahrir bermakna partai pembebasan, yang sejak lahirnya hidup di ruang politik. Perjuangan di pentas politik selalu kalah. Maka “Hizbut Tahrir ini bukan hanya ditolak ideologinya tapi juga dilarang untuk berdiri dan para anggotanya ditangkapi di berbagai negara, termasuk di Negara Islam sendiri”.

Pertanyaannya sederhana ketika membaca buku ini: mengapa mereka ditolak dan dilarang padahal mereka mengatakan dirinya memperjuangkan Islam? Hizbut Tahrir Indonesia berbeda dengan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah. Dimana HTI bukanlah organisasi keagamaan, melainkan perkumpulan politikus dan bisnismen yang menjadikan agama sebagai bungkus produknya; yakni Khilafah Islamiyah.

Jika kita melihat ke jati diri Islam, Khilafah Islamiyah bukanlah warisan Nabi Muhammad yang bersifat mutlak. “Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah berwasiat soal siapa yang harus menggantikannya kelak setelah dirinya wafat dan juga tidak pernah menyuruh siapa pun untuk mendirikan Khilafah. Kepemimpinan Islam dunia itu tidak pernah ada dan tidak pernah disampaikan oleh Nabi.”

Sejarah inti ini diselewengkan oleh kelompok HTI untuk kepentingan dagangan mereka. Sebab itulah, cuplikan tanya-jawab guru-murid dalam buku ini menjadi afirmasi.

“Tapi kan Hizbut Tahrir itu katanya berjuang untuk menegakkan Syariah, Gus?”, seorang santri bertanya.

“Kalau jualan kan boleh-boleh saja promosi supaya dagangannya laris,” jawab guru sambil tersenyum.

Jawaban guru ini simpel dan kaya akan khazanah. Pertama, agama itu sumber kehidupan dan sinar bagi siapa saja. Sebab itu, dia akan menyerap dan mengambil sesuai kemampuan masing-masing penganutnya. Bagi mereka yang berorientasi politik, akan menjadikan teks-teks agama sebagai legitimasi gerakan politiknya dengan bungkus-bungkus agama.

Kedua, HTI yang merupakan partai politik seperti PKS, PKB, PBB dan lain sebagainya, memiliki tujuan kekuasaan. Setiap orang yang memiliki orientasi kekuasaan, maka apapun caranya akan dilakukan demi wujudnya ambisi dan misi yang diamanakan petingginya kepada aktivis dan anak buahnya.

Hizbut Tahrir Indonesia dilarang di negara-negara, tidak saja di Indonesia, disebabkan bukan permasalahan cara berdagangnya, melainkan menempatkan diri sebagai oposisi yang tidak menaruh kebenaran pada diri dan kelompok orang lain. Maka tepat kiranya, Hizbut Tahrir di Indonesia menjadi organisasi terlarang dan dinyatakan sebagai pengkhianat bangsa. Sikap ini sangat tepat, karena Hizbut Tahrir Indonesia ingin mengubah dasar dan ideologi negara serta sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gus Dur pernah menyatakan, “jargon memperjuangkan Islam sebenarnya adalah memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan menjadikan Islam sebagai kemasan dan senjata. Langkah ini sangat ampuh karena siapa pun yang melawan mereka akan dituduh melawan Islam.”

Salah satu khas Hizbut Tahrir Indonesia seperti yang diungkapkan Gus Dur adalah “khilafah adalah ajaran Islam… perintah Allah… jika Anda tidak setuju dengan khilafah ya berhadapan dengan Allah”. ini argumen khas sekali. Very typical. Padahal Hizbut Tahrir (Indonesia) itu memanipulasi Islam untuk agenda politik mereka.

Ketika presensi membaca buku ini, betul kiranya apa yang terdapat dalam tulisan di sampul belakang buku ini. Satria Dharma mengatakan , “semakin lama saya bergaul dan berdebat dengan orang-orang HTI, semakin saya sadar bahwa apa yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir ini benar-benar membodohi umat Islam secara massif, sistemtik dan terstruktur. Ideologi yang mereka jajakan sama sekali tidak berdasar dan apa yang mereka lakukan adalah kebodohan dan kesia-siaan belaka.”

Pembodohan yang terus dilakukan oleh Hizbut Tahrir ini masih terus eksis hingga kini. Dan jangan pernah putus semangat untuk meluruskan ragam kesalahan yang mereka sebarkan di media sosial. Dimana jelas sekali juga bahwa organisasi Hizbut Tahrir ini akan merongrong dan menggerogoti kecintaan rakyat pada bangsa dan negara. []

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!