Khilafah; Sistem Buatan Manusia yang Mustahil Bisa Tangani Pandemi

0
259

Sangkhalifah.co — Pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman bagi manusia di seluruh dunia. Bukan hanya di negara-negara sekuler maupun mayoritas Muslim, negara-negara Islam pun ikut terdampak dan hingga detik ini belum bisa memutus mata rantai penularan virus yang asalnya dari Cina itu. Di Indonesia, alih-alih pemerintah terus menggenjot aturan dan kebijakan untuk menangani wabah ada sekelompok orang yang kontradiktif menjelek-jelekkan pemerintahan Demokrasi dan membual mengatakan Demokrasilah yang menjadi sebab utama pandemi masih belum hilang. Kelompok pegiat khilafah ini justru berhalusinasi Demokrasi menjadi sebab utama adanya virus dan hanya sistem khilafah yang bisa memutusnya.

Disebut oleh World Food Programe (WFP) negara Islam ikut terdampak pandemi Covid-19 ini. Bahkan, dua negara Islam yang paling parah tertimpa dua musibah sekaligus adalah negara Islam yang sarat dengan kekhilafahan, yaitu Suriah dan Yaman. Sebagaimana diketahui Suriah adalah negara di mana lahir kelompok teror ISIS, teroris dunia, yang menandai ancaman semua negara. ISIS adalah kelompok teroris yang mengkampanyekan negara Islam khilafah Islamiyyah, sebagaimana HTI, JAD, FPI, dan kelompok-kelompok semacamnya. Negara yang dibanggakan oleh kelompok radikal karena setia dengan khilafah ini terdampak wabah dan hingga hari ini justru nambah parah.

Tidak hanya terjadi sekarang, wabah juga pernah menjangkit negeri kekhilafahan, bahkan sejak masa sahabat Nabi. Adalah di Syam, saat Umar Ibn Khattab menjadi Khalifah, pernah terdampak wabah Tha’un. Sang Khalifah tidak mendorong para sahabat dan waganya untuk melawan wabah dengan khilafah. Justru, Umar Ibn Khattab meminta warganya agar tidak memasuki Syam. Seorang sahabat bernama Abu Ubaidah, yang berbeda pendapat dengan Umar Ibn Khattab, tetap masuk ke Syam dan ia wafat terserang wabah Tha’un itu. Fakta sejarah ini membuktikan bahwa khilafah tidak bisa berbuat apa-apa kecuali dengan protokol kesehatan yang ketat.

Disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad, Nabi Muhammad meminta umatnya untuk menghadapi wabah dengan kesabaran. Selain itu, dengan mematuhi protokol kesehatan; tidak masuk ke daerah yang terdampak wabah dan tidak pergi ke daerah tersebut bila berada di dalamnya. Wabah, kata Nabi, merupakan ujian yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman (HR. Imam Ahmad). Dalam hadits yang lain disebut oleh Abu Daud, Amar Ibn ‘Ash memberi contoh terbaik untuk menghindari wabah yaitu dengan berpencar (menjaga jarak) dan tidak keluar rumah jika tidak ada kebutuhan mendesak (HR. Abu Daud). Nabi dan para sahabatnya tidak meminta sahabat-sahabatnya untuk melawan dengan khilafah.

Kenapa Nabi dan para sahabatnya tidak menjadikan khilafah sebagai solusi untuk mengatasi wabah? Kenapa Rasulullah tidak menyarankan para sahabatnya melawan virus dengan khilafah? Jawabannya, karena khilafah bukan produk Tuhan. Khilafah ialah produk sejarah yang tak sama sekali bisa tangani wabah. Tidak ada dalil sarih satupun baik di dalam Al-Qur’an maupun Hadits yang meminta manusia mendirikan negara khilafah. Nadirsyah Hosen, bahkan mengatakan, sistem khilafah yang merupakan produk sejarah penuh dengan kebobrokan akhlak. Misalnya, di masa kekhalifahan Umaygah, para Khalifahnya gemar mabuk-mabukkan dan bahkan menginjak-injak mushaf Al-Qur’an.

Bila khilafah merupakan produk manusia, bahkan penuh kebobrokkan di dalamnya, mana mungkin ia bisa menyudahi wabah pandemi Covid-19 ini. Tidak ada fakta sejarah baik normatif maupun historis kalau khilafah bisa tangani wabah. Para Khalifah (bahkan Rasulullah), mengharuskan para sahabatnya mematuhi protokol kesehatan; dengan tidak berkerumun, tidak keluar rumah, dan tentu dengan menjaga kebersihan di manapun. Khilafah tidak lain kecuali sistem buatan manusia yang tidak bisa apa-apa. Bahkan, kini, dan seterusnya, khilafah ditolak di mana-mana baik di negara non-Islam maupun negara Islam.

Khilafah mustahil bisa tangani wabah. Setidaknya karena beberapa alasan. Pertama, khilafah hanya produk manusia yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits. Kedua, pada masa kekhilafahan, Nabi dan para sahabatnya tidak menggunakan khilafah untuk menyudahi wabah akan tetapi dengan protokol kesehatan. Dan ketiga, wabah tidak hanya ditangani dengan pendekatan spiritual, tetapi dengan pendekatan medis. Rasulullah dan para sahabatnya sudah memberi teladan dengan sangat apik menghadapi wabah. Bukan dengan khilafah, karena wabah produk manusia, mustahil bisa tangani wabah. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!