Khilafah Rasyidah, Yes! Khilafah HTI, No!

1
519

Sangkhalifah.co — Sebagai umat Islam kita meyakini akan adanya masa kekhalifahan rasyidah, yaitu kepemimpinan yang dinahkodai oleh empat khalifah pasca wafatnya Nabi. Empat khalifah tersebut ialah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Keempat Khalifah ini menjadi orang yang memimpin negara yang besar, dari semenanjung jazirah Arab hingga Asia Tengah. Nabi Muhammad sendiri tidak menunjuk dan tidak pula mengajarkan umatnya dalam soal memilih pemimpin yang akan menggantikan dirinya. Bahkan, beliau tidak menunjuk siapa yang kelak harus mengganti kepemimpinannya. Tentu, bukan karena Nabi Muhammad lalai apalagi tidak peduli dengan masa depan umatnya. Hal itu karena Nabi ingin memberi pesan bahwa dalam kepemimpinan harus diadakan kesepakatan bersama antar masyarakat untuk menemukan model kepemimpinan yang terbaik pada masanya.

Itulah gambaran awal dari kekhilafan rasyidah di masa kekuasaan pemimpin pasca Nabi. Umat menentukan model pemilihan pemimpin. Sehingga wajar jika kemudian antar Khalifah satu sama lain berbeda dalam model pemilihannya. Konsep kekhilafahan rasyidah berbeda 360 derajat dengan khilafah ala Hizbut Tahrir (HTI di Indonesia sebelum dibubarkan). HTI dalam konsep pengangkatan pemimpinnya, bermula dengan konsep talabunnusrah yang secara esensial bermakna kudeta/perampasan kepemimpinan atas pemimpin sah. Setelah itu HTI membaiat pemimpin dari kelompoknya yang dianggap subjektivitas mereka paling bisa memimpin untuk memimpin umat yang beragam, bahkan beragam pemikiran, termasuk yang tidak setuju dengan konsep kepemimpinan HTI. Sejak dari model pemilihan pemimpin, khilafah HT dengan khilafah rasyidah sudah berbeda jauh.

Khilafah rasyidah yang digawangi oleh para sahabat Nabi yang mulia dan setia dengan perjuangan Islam Nabi tidak sama dengan khilafah ala HTI. Jika kekhilafan yang dipimpin oleh empat khalifah pertama itu didirikan atas dasar niat untuk meneruskan perjuangan Nabi dan memperjuangkan kemaslahatan untuk masyarakat yang dipimpinnya, maka tidak demikian dengan khilafah ala HTI. Khilafah HTI didirikan oleh manusia biasa, Taqiyuddin An-Nabhani, yang tujuan awal dibentuknya untuk membebasakan Palestina dari penjajahan Israel. Ketika terjadi migrasi Yahudi besar-besaran ke Palestina, pendiri Hizbut Tahrir membentuk parta (hizb) untuk membebaskan Palestina, bukan untuk meneruskan kekhilafan rasyidah. Khilafah HTI murni tujuan Politik, bukan untuk kemaslahatan untuk banyak orang. Meskipun melepaskan Palestina dari Yahudi adalah sebuah kebenaran, namun kacau ketika konsepsinya ditafsirkan untuk mendirikan model khilafah di dunia.

Karena tujuan khilafah HTI dari awal untuk perpolitikan, maka wajar jika secara esensial HTI tidak memperjuangkan syariah Islam. Meskipun klaim yang digelorakan sebagai kelompok pejuang syariah Islam. Syariah Islam di zaman kekhalifahan rasyidah bukan bersifat skriptualis dan ekslusif sebagaimana HTI. Syariat Islam di masa kekhalifahan Rasulullah bersifat dinamis. Misalnya ketika Abu Bakar menjadi khalifah, beliau tidak memberikan harta rampasan perang pada prajuritnya setelah mengalahkan Romawi. Itu dilakukannya karena negara sedang memerlukan anggaran dana untuk pembangunan. Padahal, memberikan ghanimah jelas-jelas merupakan ketentuan dalam Al-Qur’an. Merupakan syariat Islam. Hukum memberi harta rampasan tertulis jelas dalam Al-Qur’an QS. Anfal: 41.

Berbeda dengan kekhalifahan rasyidah, kekhalifahan ala HTI tidak mengikuti kekhilafahan para sahabat Nabi. HTI berangan-angan dalam konsep khilafahnya bahwa syariat Islam yang literal dan tanpa boleh dikonstekstualkan harus teraplikasikan dalam negara, kapan dan di manapun. Akibatnya, alih-alih HTI ingin menerapkan syariat Islam yang ada justru memberontak sistem dan ideologi yang sudah ada di suatu negara. Khilafah ala HTI tidak mau sama seperti khilafah rasyidah yang amat cerdas dalam menggunakan syariat Islam. Jika mengutip pendapat Abdullah Ahmad An-Na’im, penerapan syariah ala HT ini yang tidak akan pernah menemukan muaranya. Model penerapan syariah ala HT akan ditolak di mana-mana. Dan, kenyataannya benar, model khilafah ala HTI yang mengklaim diri menerapkan syariah ditolak di berbagai negara di dunia.

Perbedaan khilafah rasyidah dengan khilafah ala HTI juga amat nampak dari sosok para tokohnya. Para Khalifah Rasyidah semuanya memiliki sikap rendah hati dan tawadhu meskipun sudah menjadi pemimpin. Abu Bakar misalnya, seorang khalifah yang meskipun sudah menjadi orang nomor satu akan tetapi mau menerima masukan rakyatnya. Abu Bakar dikenal juga dengan pribadi yang tetap memeraskan susu unta untuk nenek-nenek yang merupakan rakyatnya. Ini berbeda dengan tokoh-tokoh khilafah HTI, yang belum dan tidak mungkin menjadi pemimpin dalam model khilafah HTU namun sudah angkuh dan takabur. Lihat saja Ismail Yusanto, meski terlihat selalu memakai baju kokoh, namun pemikirannya sombong, ia menolak bahkan mengharamkan Pancasila dan UUD. Kesombongan ala tokoh khilafah ala HTI kerapkali menjelekkan pemerintah sah di mana-mana. Entah mengikuti siapa kekhilafahan ala HTI ini. Taqiyuddin An-Nabhani saja tidak sesombong para tokoh khilafah HTI.

Kekhilafahan rasyidah dengan kekhilafan HTI tidak sama. Khilafah rasyidah merupakan perintah Al-Qur’an untuk membentuk pemimpin sebagai keniscayaan di muka bumi. Sementara khilafah ala HTI murni bertujuan untuk merampas kekuasaan, muaranya adalah memberontak. Khilafah rasyidah penjelmaan dari isyarat kuat setelah Nabi wafat. Namun khilafah ala HTI hanya perwujudan dari orang-orang yang haus kekuasaan dan haus uang. Hanya saja mereka bungkus semuanya dengan nama agama untuk menipu umat agar tersesat mengikuti kekhilafahan sesatnya. Maka sebab demikian, umat Islam tetap harus meyakini khilafah, namun kekhilafahan rasyidah. Sebaliknya, umat Islam harus menolak kekhilafan ala HTI, yang tidak memiliki akar Islam dari sisi manapun. Khilafah Rasyidah, Yes! Khilafah HTI, No! []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!