Khilafah, Khalifah dan Kegemaran HTI Memanipulasi Agama

0
433

Sangkhalifah.co — Bukan simpatisan HTI kalau tak pandai memanipulasi agama dan atribut-atribut sakral di dalamnya demi kepentingan politik dan kekuasaan semata. Mereka lihai bermain kebohongan demi menarik simpatik masyarakat awam. Tak ayal jika sebagian besar simpatisan HTI diisi oleh orang-orang yang berlatarbelakang non agama, bahkan hingga eks Ketua Umumnya. Ia adalah Rokhmat S. Labib, Mantan Ketua HTI yang terlihat seperti ulama alim, tetapi untaian yang diungkapkan sarat akan hinaan dan cacian pada pemerintah dan bangsa. Siapa sangka, ia bukan jebolan pesantren yang mempelajari Islam secara runtut dengan sanad yang jelas seperti ulama-ulama Indonesia pada umumnya. Apa yang digaungkan lagi-lagi soal khilafah, tidak ada yang lain. Wajar, karena ia berasal dari latarbelakang bukan agama, namun keilmuan di luar agama, yaitu ekonomi.

Parahnya, segitu belajar agama hanya melalui kursus semata, Rokhmat S. Labib eks Ketua HTI ini “sok-sok” bikin buku tafsir Al-Qur’an. Tafsir Al-Wa’ie, yang diterbitkan oleh penerbit Al-Azhar Publishing, penerbit simpatisan HTI, adalah hasil tulisannya yang, sebetulnya, belum pantas dinamakan dengan tafsir jika meminjam karakteristik tafsir yang dipetakan oleh para ulama. Ad-Dzahabi misalnya dalam At-Tafsir wa Al-Mufassirûn, menyebut bahwa salah satu syarat suatu karya dinamakan tafsir jika penulisnya berasal dari kalangan pengkaji ilmu, yang konsen dalam ilmu-ilmu tafsir dan Al-Qur’an. Sedangkan Labib eks HTI, latar belakangnya ekonomi, namun tidak tau malu bicara soal agama, dan parahnya, menyalahkan ulama-ulama yang tidak sependapat dengan khilafah gagasan mentahnya.

Dampak yang ditimbulkan ketika seseorang bukan berlatar belakang ilmu tafsir dan Al-Qur’an namun bicara soal Al-Qur’an maka alih-alih ia bercita-cita menafsirkan Kalam Allah, yang ada justru memanipulasi ayat-ayat-Nya. Bukti riilnya adalah penafsiran yang dilakukan oleh Labib eks Ketua HTI dalam bukunya ketika memaknai kata Khalifah pada QS. Al-Baqarah: 30. Tidak hanya soal Khalifah yang dimaknai sebagai sistem politik ala HTI dalam ayat tersebut, pentolan eks HTI ini banyak ‘membajak’ makna ayat-ayat Allah demi kepentingan nafsu khilafahnya. Dalam menafsirkan QS. Al-Maidah: 49 misalnya, Labib eks Ketua HTI itu menggeneralisasi hukum-hukum Allah yang ada pada kitab Taurat sebagai konsekuensi yang harus dipatuhi oleh kaum Nabi Musa sebagai hukum Islam yang harus dipatuhi umat Islam.

Dalam kajian bahasa Arab yang sederhana, yang itu anak-anak pesantren kelas dua Wustha’, sangat mahami akan perbedaan makna Khalifah dan Khilafah yang selalu digagal-pahamkan oleh HTI, dan parahnya, dipublikasikan ke khalayak umum tanpa merasa bahwa ia sedang mengkampanyekan kebodohannya. Khalifah, adalah satu pola dalam bahasa Arab yang mengikuti pola ‘fa’îlun’ yang merupakan bentuk Isim Fâ’il (pelaku). Karena ia bermakna pelaku, maka Khalifah dimaknai dalam kamus-kamus bahasa Arab sebagai person, individu, yaitu seorang pemimpin. Implikasi pemaknaan yang tepat ini memberikan makna bahwa Khalifah yang dimaksudkan sebagai kewajiban dalam QS. Al-Baqarah: 30 sebagai kewajiban mengangkat seorang pemimpin, baik itu presiden, raja, atau lainnnya. Hal demikian karena pemimpin akan menjadi garda depan berjalannya kehidupan sosial maupun agama sebuah kelompok manusia.

Sedangkan Khilâfah, dalam kajian ilmu Sharaf tergolong dalam pola Jama’ Taksir, yaitu fi’âlun, fi’âlatun. Yang, dalam makna umumnya, bermakna kepemimpinan, sebagai bentuk kata benda. Akan tetapi dalam perkembangannya, kata itu digunakan untuk menunjukkan makna sebuah sistem negara dalam Islam sebagai sistem yang pernah diterapkan sejak masa sahabat Nabi Muhammad, dan diklaim HTI sebagai sistem yang terus diperjuangkan oleh mereka atas nama penerus Nabi. Akan tetapi titik tekannya di sini adalah bahwa, makna Khalifah dan Khilafah adalah berbeda, Khalifah merupakan person, individu, seorang pemimpin, sedangkan khilafah adalah sistem kepemimpinan. Sehingga patut diklaim gagal nalar memaknai Khalifah dalam Al-Qur’an dengan makna khilafah, sebagaimana selalu dilakukan oleh HTI dan simpatisannya.

Namun, demikianlah HTI. Kita hanya bisa mendefinisikan HTI sebagai kelompok yang gemar memanipulasi persoalan agama dan atributnya yang tak lain demi satu tujuan, mendirikan sistem besutan politiknya, meski mereka berbohong bukan atas dasar politik, namun murni agama. Lihat saja, HTI dan simpatisannya banyak memanipulasi hal-hal keagamaan; imamah disamakan dengan khilafah, khalifah disamakan dengan khilafah, Islam disamakan dengan HTI, dan masih banyak lagi yang lain. Kita tak bisa keluar dari penjabaran demikian bahwa HTI dan simpatisannya memang lihai untuk hal-hal demikian. Jika tidak demikian, ya jelas itu bukan HTI. Sebab hanya HTI dan kawan-kawan pejuamg khilafah lainnya yang relevan disematkan sebagai kelompok yang gemar memanipulasi agama demi nafsu kelompoknya yang sesaat itu.

Tugas kita umat Islam yang cinta kepada agama dan negara adalah membendung manipulasi yang terus-menerus dilakukan oleh eks HTI dan kawan-kawannya. Membendung baik melalui narasi lawan di media sosial maupun di dunia nyata. Tugas demikian adalah tugas mulia, bahkan jihad yang kontekstual, guna menyelamatkan agama dan pemeluknya dari para manipulator agama, yaitu para eks HTI. Umat Islam dari mulai tingkat bawah hingga tingkatan ulama serta semua orang yang memiliki posisi penting di negara harus sama-sama berjihad melawan narasi busuk eks HTI sang maestro manipulasi agama. Jika tidak, maka agama hanya akan menjadi alat yang dikotori oleh eks HTI dengan tujuan akhir mendapatkan kekuasaan nafsu politik semata.

Leave a reply

error: Content is protected !!