Khilafah; Dari Politisasi Agama Hingga Bisnis Ayat Al-Qur’an

2
324

Sangkhalifah.co — Meskipun pemerintah Indonesia sudah membubarkan organisasi masyarakat yang hendak mengkudeta pemerintah sah; Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), namun para penyeru khilafah masih bergentayangan di sana sini. Gerakannya masih berlindan dan menyamar atas nama Islam di banyak lini. Dari mulai mencoba membius artis-artis papan atas, seperti Baim Wong, yang dalam beberapa waktu lalu digandeng Felix Siauw dan Fatih Karim, dua aktivis khilafah. Hingga merasuk ke berbagai bisnis baik swasta, seperti Sally Giovanny Owner Batik Trusmi, hingga pebisnis-pebisnis negara di jajaran BUMN, seperti indikasi kuat oleh Kamaruddin Hidayat, yang menegaskan bahwa BUMN sudah disusupi penyeru khilafah, salah satu buktinya adanya Khatib Jum’at di masjid BUMN yang pro khilafah. Belum lagi, diskusi khilafah yang masih bebas berkeliaran di media sosial. Ini bukti bahwa penyeru khilafah bandel, harus diberantas tidak hanya badan hukumnya, tetapi juga gerakannya.

Pertanyaan sederhananya, mengapa gerakan khilafah tetap saja eksis meskipun HTI sudah “digebuk” pemerintah? Jawabannya simpel, yaitu karena pandai dalam mempolitisasi agama. Apa yang dikampanyekan para penyeru khilafah adalah masa keemasan khilafah. Masa kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah, misalnya, diklaim HTI sebagai masa kejayaan Islam karena Islam banyak menorehkan prestasi baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun politik. HTI kerap buta sejarah, kalau ternyata di masa-masa itu banyak borok di dalam khilafah.

Pada masa Khalifah Umayyah misalnya, selain adanya pemberontakan oleh pihak Abbasiyah karena bobroknya sistem khilafah, juga karena para khalifahnya yang feodal dan konsumer atas negara-negara luar. Selain itu, faktor internal yang menjadi bukti bobroknya sistem khilafah karena adanya faktor klasifikasi mawali, di mana orang non Arab dianggap sebagai orang yang lebih rendah dibanding orang Arab. Sayangnya, para penyeru khilafah hari ini pada buta mata, sengaja menutupi sejarah demi politisasiya yang secara tidak sadar hanya berbohong di tiap bicara sejarah khilafah.

Masa Abbasiyah lebih dari masa Umayyah, sering lagi dianggap sebagai masa yang harus kembali di masa saat ini karena dianggap sebagai masa kejayaan Islam, tepatnya di masa Harun Ar-Rasyid. Bahkan Baghdad, yang menjadi Ibukota Abbasiyah, dianggap sebagai pusat peradaban dunia. Banyak cendekiawan lahir di bumi Baghdad. Akan tetapi jangan lupa, masa kekhilafahan Abbasiyah juga tak lekang dari noda hitam yang tak pantas diteladani samasekali.

Pasca Khalifah Al-Mulk, Dinasti Abbasiyah politik dan kesejahteraan negara ambruk akibat para pemimpinnya yang tidak memiliki kompetensi yang jelas. Pemimpin hanya diteruskan oleh jalur keluarga yang padahal, para putra Khalifah di masa itu buta akan kepemimpinan. Akibatnya, Baghdad dan Abbasiyah hancur oleh Hulagu Khan. Itu semua karena ketidakbecusan Khalifah memegang tampuk sistem yang penuh borok khilafah. Lagi-lagi, untuk menjual khilafah, para penyerunya mempolitisasi peristiwa ini dengan mengatasnamakan agama bahwa khilafah itu bersih, tanpa cacat, sebab ia sistem Islam.

Lantas, berdosakah umat Islam tidak menjalankan khilafah dan tidak meyakininya? Jawabannya tegas: tidak! Tidak ada kewajiban menjalankan khilafah sebagaimana para penyeru khilafah, sebab khilafah bukanlah salah satu rukun Islam yang ada lima. Khilafah juga tak perlu diyakini, toh ia bukan salah satu rukun iman yang ada enam. Maka umat Islam di maan saja, khususnya di Indonesia, jangan pernah ragu untuk menolak khilafah. Al-Qur’an dan Hadis Nabi tak pernah sesekali menyatakan bahwa berkhilafah adalah keharusan. Tidak akan masuk neraka mereka yang menolak khilafah. Sebab khilafah bukanlah Islam. Islam bukanlah khilafah. Hanya saja, para penyeru khilafah pandai mempolitisasi khilafah atas nama agama, Islam dan khilafah disejajarkan, padahal Islam jauh lebih tinggi sebab ia merupakan wahyu, sedang khilafah adalah buatan manusia yang penuh bobrok di dalamnya.

Selain pandai mempolitisasi agama, para penyeru khilafah juga rajin menjual ayat Al-Qur’an, rajin dalam arti berbisnis ayat Al-Qur’an demi kepentingan jualan khilafahnya kepada masyarakat awam. Lihat saja misalnya ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah: 30, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Felix Siauw misalnya, sang Mu’allaf yang arogan baru masuk Islam sudah berani menyalahkan kelompok lain yang berbeda, dalam postingan Twitternya berhalusinasi bahwa kalifah pada ayat tersebut dimaksudkan khilafah. Ia membuat penalaran bahwa para penentang khilafah sama dengan Iblis, sebab sama-sama menolak khalifah/khilafah tegak di muka bumi. Sistem khilafah disamakan dengan Adam sebagai khalifah. Padahal jelas beda, Khalifah person, khilafah sistem politik. Khalifah harus terus ada di sepanjang masa, sementara khilafah tak perlu ada lagi sebab sudah tidak relevan.

Ada banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan ladang bisnis para penyeru khilafah, salah satunya adalah QS. Al-Maidah: 44, “…Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir. Dengan memotong penggalan ayat ini para penyeru khilafah berkesimpulan akan wajibnya berkhilafah. Sebab hanya di khilafahlah umat Islam dapat menerapkan hukum Allah secara sempurna. Pernyataan ini selain timbul karena buta sejarah, juga karena kebodohan akut para penyeru khilafah. Ada banyak Khalifah di masa khilafah yang tidak taat pada perintah Allah, mabuk-mabukkan, hobi membunuh, hingga rajin mengolok-olok kerajaan lainnya.

Pada faktanya, ayat tersebut turun kepada semua agama-agama langit yang diminta agar berhukum dengan hukum yang tertera pada Al-Kitab umat masing-masing, dan tidak melenceng dari apa ketentuan panduan umat agama masing-masing. Bukan sama sekali merupakan kewajiban berhukum dengan khilafah. Begitulah para penyeru khilafah, rajin berjualan ayat Al-Qur’an demi dagangan khilafahnya yang hingga kini dan bahkan sampai kapanpun tidak akan tegak muka bumi. Sebab dasarnya, yang diperjuangkan bukan agama, tetapi nafsu politik kekuasaan.

Setelah membaca kalimat-kalimat di atas, maka dapat dipahami bahwa tidak yang diperjuangkan oleh para penyeru khilafah kecuali politisasi agama dan jualan ayat Al-Qur’an. Fakta sejarah yang membuktikan bahwa tidak adanya sistem baku negara, bahkan sistem baku khilafah, dan borok di setiap kekhilafahan menjadi alasan kuat untuk menyatakan bahwa para penyeru khilafah hari ini hanyalah main-main, entah main-main karena disokong duit dari luar negeri atau untuk menghancurkan negara. Na’uzubillah. Harus kita lawan sama-sama. Para penyeru khilafah pandai dalam mempolitisasi agama, baik sejarah Islam, maupun pernyataan logis Islam lainnya, untuk menjadi bahan dagangannya di muka umum. Selain itu, para penyeru khilafah juga giat menjual dan berbisnis ayat-ayat Al-Qur’an demi dagangan khilafahnya yang hingga kini dan sampai kapanpun hanyalah fatamorgana. Maka, menolak khilafah adalah sebuah kewajiban, sebagai ikhtiar memberantas gagasan-gagasan yang merendahkan agama dengan mempolitisasi dan berjualan atas nama ayat Allah.

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!