Khilafah: Dagangan HTI Yang Memilki Sejarah Berdarah

2
769

Sangkhalifah.co — Propaganda eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melalui “dagangan” khilafah-nya sebenarnya masih memiliki banyak cacat. Kalau kita membaca catatan sejarah politik Islam masa lampau, rasanya sulit sekali untuk percaya. Tapi itulah fakta sejarah yang sesungguhnya dan apa adanya, dicatat rapi oleh para sajarawan otoritatif Muslim semisal Imam at-Thabari dan Imam Suyuti; dua sejarawan Muslim yang menjadi rujukan dunia.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang sudah dibubarkan secara resmi oleh pemerintah, tapi ideologinya masih terus subur dan akan terus beroperasi melalui bawah tanah. Beragamnya kasus kriminal dan masalah sosial di negeri ini, dari mulai yang serius sampai  yang remeh-temeh, menjadi peluang bagi HTI untuk mempromosikan ideologi khilafahnya. Meski kadang terdengar lucu dan menggelikan. Misalnya berentetan narasi: Kalau korupsi merajalela, ya khilafah solusinya; Bencana alam tak berkesudahan, ya khilafah solusinya; Kemacetan di ibu kota, ya khilafah solusinya; Hebat sekali ya khilafah itu ternyata, bisa menjadi solusi segala permasalahan, kayak kantong ajaib Doraemon saja.

Dalam rekam sejarah khilafah zaman old, tercatat empat fitnah yang menimpa kaum Muslim. Maksud fitnah di sini adalah perang saudara sesama Muslim yang cukup besar. Perangnya bisa panjang, korbannya bisa ribuan, dan kerugiannya tentu tidak bisa diperhitungkan.

Fitnah pertama terjadi saat pemberontakan pada masa kekhalifahan yang ketiga, Khalifah Utsman bin Affan, yang mengakibatkan terbunuhnya sang khalifah saat tengah membaca mushaf al-Quran. Lihat, betapa tragisnya, seorang pemimpin negara yang tengah beribadah saja bisa seenaknya dibunuh. Tidak hanya itu, jenazah sahabat Utsman tidak dimakamkan di Madinah bersama Nabi dan dua sahabat lainnya (Abu Bakar dan Umar) di Madinah karena saat itu Madinah sedang dikuasai oleh pemberontak.

Setelah itu terjadi konflik antara Siti ‘Aisyah dan Sahabat Ali bin Abi Thalib. Konflik yang pecah karena adu domba ini dinamakan perang Jamal. Pasukan Ali berjumlah 20 ribu orang, sementara pasukan Aisyah berjumlah 30 ribu pasukan. Perang dimenangkan oleh pasukan Ali. Kurang lebih ada 18 ribu sahabat syahid dalam peperangan itu, termasuk diantaranya Talhah dan Zubair yang berada di kubu Aisyah. Aisyah dipulangkan ke Madinah dengan penghormatan dan pengawalan ketat. Sekelas istri Nabi dan menantu Nabi saja bisa diadu domba, bagaimana dengan umat sekarang yang jauh sekali levelnya dibadnig dua sosok mulia tersebut?

Fitnah ketiga terjadi saat pembantaian keluarga Sayidina Husein (cucu Rasulullah) di Karbala oleh Yazid bin Muawiyyah. Peristiwa 10 Muharram ini dijelaskan secara detail oleh Imam at-Thabari dalam kitab tarikh berpuluh-puluh halaman, siapa saja keluarga Nabi yang terbunuh dan siapa-siapa yang terlibat dalam pembantaian keluarga Nabi tersebut. Setelah itu, Sahabat Abddullah bin Zubair yang saat itu menjadi penguasa Mekkah, kepalanya dipenggal oleh pasukan al-Hajjaj. Kemudian al-Hajjaj meneriakkan takbir. Sudah membantai sahabat Nabi, masih saja meneriakkan takbir. Ternyata bukan hari ini saja agama dijadikan legitimasi tindakkan kekerasan, sejak zaman sahabat pun sudah ada. Takbir! Eh.

Fitnah  ketiga terjadi pada masa Dinasti Umayyah, yaitu saat terjadi peperangan antara al-Walid II dan Yazid III yang berakhir dengan naiknya Marwan II ke singgasana khalifah terakhir Umayyah. Kepala al-Walid II dipenggal oleh pasukan Yazid. Setelah itu Yazid mengambil alih posisi Khalifah. Bukan hanya sampai di situ. Atas perintah Yazid, kepala al-Walid ditusuk di ujung tombak dan diedarkan ke pasar Damaskus bahkan dibawa ke rumah ayanhya. Tentu hal ini memicu konflik internal yang luar biasa.

Sementara posisi Marwan II sebagai khalifah terakhir Muawiyyah dengan instabilitas politik menimpah Umayyah saat itu, mendapat ancaman dari Abul Abbas bin Abdullah as-Saffah yang akan mengakhiri sejarah khalifah Umayyah ini. Abul Abbas merupakan khalifah pertama Abbasiyah. Abbasiyah dengan dimpimpin as-Saffah melakukan pemberontakan dengan dimulai di daerah Khurasan. Abul Abbas memiliki jalur keturunan ke Abbas, paman Nabi. Atas  jalur keturunan inilah Abbul Abbas melegitimasi kekuasaannya, sebisa mungkin dia mengaku sebagai keturunan Rasulullah Saw, padahal Cuma keturunan Abbas, paman Nabi.

Dalam pertempuran di daerah Zab, Marwan II menghadapi pasukan aliansi Abbasiyah, Syiah dan penduduk Persia. Pasukan Marwan mengalami kekalahan. Marwan melarikan diri ke Siria, kemudian dikabarkan keberadaannya di Mesir. Di bawah kontrol Sholeh, Marwan berhasil ditemukan dan dibunuh. Masa peralihan dari Umayyah ke Abbasiyah memang diwarnai dengan pertumpahan darah.

Fitnah keempat terjadi pada Abbasiyah, konflik antara kedua putra Harun al-Rasyid; al-Amin dan al-Ma’mun pada tahun 811-813 Masehi. Selanjutnya perang saudara terjadi selama setahun antara al-Mu’tazz dengan Khalifah al-Musta’in (paman al-Mu’tazz). Perang anatara keponakan dan paman ini berakhir dengan kemenangan al-Mu’tazz dan megambil alih kekhalifahan. Al-Musta’in dipaksa mundur dari jabatan Khalifah dan, lagi-lagi, dibunuh. Begitulan sejarah kelam pemerintahan yang kala itu menganut sistem khilafah. Demi kekuasaan, agama jadi mainan, nyawa jadi taruhan

Coba kita merenung sejenak. Setelah kita melihat sejarah berdarah khilafah demikian mengerikannya, apa masih percaya dengan janji-janji manis eks HTI dengan dagangan Khilafahnya? Negara kita sudah tentram dengan sistem demokrasi, jangan ajak kami bernostalgia dengan sejarah kelammu. [Muhamad Abror]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!