Khilaf-Khilaf Kelompok Ekstrem dalam Memahami Khilafah

0
420

Sangkhalifah.co — Tidak salah bahwa di dalam sumber-sumber Islam dijelaskan tentang kewajiban mengangkat khalifah, imam, dan amir. Namun kewajiban ini tidak secara otomatis berlaku pada pendirian sistem khilafah, sebagaimana dikampanyekan kelompok ekstrem Hizbut Tahrir, JAD, ISIS, dan FPI. Mengangkat pemimpin merupakan sebuah keniscayaan dalam institusi politik. Sementara khilafah, tidak pernah diafirmasi baik oleh keniscayaan, dalil-dalil agama, dan juga oleh akal sehat manusia.

Sumber-sumber utama umat Islam, baik Al-Qur’an maupun hadis Nabi tidak kaku dalam merinci memgenai cara memilih pemimpin dan mekanisme pemerintahan. Pun, sebelum Nabi Muhammad wafat, beliau selain tidak menunjuk salah satu sahabat untuk meneruskan kepemimpinan, juga tidak memerintah para sahabatnya untuk menggunakan cara pemilihan dan atau sistem tertentu dalam menjalankan roda kepemimpinan. Karena itu, para sahabat berdiskusi di Saqifah Bani Sa’idah untuk menetapkan Abu Bakar As-Shiddiq sebagai penerus kepemimpinan.

Pada masa selanjutnya, pemilihan pemimpin berbeda-beda. Umar Ibn Khattab ditunjuk langsung oleh Abu Bakar. Mekanisme pemilihan pemimpin yang ketiga; Usman Ibn Affan, pun berbeda. Ia ditunjuk oleh para kepala yang sudah dibuat oleh Khalifah sebelumnya. Sedangkan Khalifah Ali, sebagai Khalifah keempat, dibaiat langsung oleh penduduk Madinah. Masa kepemimpinan empat Khalifah yang diistilahkan dengan Khulafa Ar-Rasyidun ini tidak menggunakan mekanisme tertentu, termasuk sistem khilafah. Memaksakan pemilihan pemimpin dengan model tertentu merupakan sebuah khilaf yang keterlaluan.

Selanjutnya pada fase kepemimpinan Muawiyah Ibn Abu Sufyan, ia menetapkan putranya yang bernama Yazid. Sejak saat itu kepemimpinan dipilih berdasarkan kekeluargaan, dan kekhilafahan pun berubah menjadi kerajaan. Tiba masa kekhilafahan Abbasiyah, sistem kepemimpinan didapat melalui perampasan paksa melalui peperangan. Fakta ini selain ingin dikatakan bahwa sistem kekhilafahan di masa awal Islam tidak baik-baik saja, semu bentuk pemerintahan yang disebut “khilafah” ini memiliki sistem politik yang berbeda-beda. Tidak ada sistem yang baku, meski kadang mereka mengatasnamakan sistem Islam.

Fakta historis di atas juga ingin memberi penegasan bahwa dalam Islam, yang menjadi pokok adalah hadirnya seorang pemimpin. Adapun sistem dan bentuk pemerintahan merupakan wikayah ijtihad yang bersifat kontekstual. Modelnya bisa bersifat monarki, sebagaimana belakangan disebut pada kepemimpinan Bank Umayyah, atau bentuk-bentuk lainnya yang diprektikkan oleh empat Khalifah pertama. Maka dalam konteks Indonesia, pandangan para ulama yang memilih Republik Indonesia, merupakan hasil ijtihad, yang sejatinya merupakan khilafah dengan sistem dan bentuknya sendiri.

Teorisasi khilafah sebetulnya baru dilakukan setelah ratusan tahun pasca wafatnya Nabi. Sehingga, khilafah tak elok jika dimaknai secara taken for granted. Perbedaan konseptualisasi khilafah sejak Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Shultaniyyah, hingga belakangan Al-Maududi, Taqiyuddin An-Nabhani, dan Abdul Wahab Khalaf, serta ulama-ulama lainnya, semakin membuktikan bahwa khilafah yang digaungkan kelompok ekstrem bukan sistem yang baku dalam Islam. Wilayahnya ijtihad, yang dalam implementasinya harus mempertimbangkan kemaslahatan bagi umat. Memaksakan satu model khilafah sama dengan mengkebiri hasil ijtihad ulama-ulama yang amat beragam.

Kekhilafan para pengasong khilafah yang tidak kalah penting untuk dikritik adalah memahami bahwa khilafah merupakan solusi segala macam persoalan umat. Padahal kenyataannya, khilafah dengan segala bentuk modelnya tidak bisa lepas dari persoalan dan problem yang melatarbelakanginya. Tiga Khalifah pertama: Umar, Usman, dan Ali, bahkan dibunuh oleh orang yang mengaku sebagai orang Islam. Sejarah mencatat, semasa kekhalifahan Bani Umayyah dan Abbasiyah, banyak terjadi penyimpanan, pelacuran yang dilakukan oleh Khalifah, dan politisadi ayat Al-Qur’an. Selain itu, Hasan cucu Nabi, mati dengan diracun, dan Husein, cucu Nabi yang lain, mati dengan dipenggal kepalanya. Sehingga menawarkan khilafah sebagai sistem sempurna tanpa cacat dan memaksakannya sebagai sistem satu-satunya solusi atas segala masalah merupakan khilaf yang mengada-ada. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!