Khawarij Modern Masih Menjadi Hantu Dunia

3
470

Sangkhalifah.co — Wafatnya Syekh Adnan Al-Afyouni di sebuah mobil, yang diletakkan alat peledak di dalamnya, menjadikan nama-nama ulama yang dibunuh oleh kaum khawarij secara biadab bertambah. Mufti Damaskus Suriah ini dikenal seorang rekonsiliator dan pemadam kebakaran—sebuah istilah kesukaan alm. KH. Hasyim Muzadi. Ulama-ulama moderat sesungguhnya bisa hidup di segala ruang dan tempat. Wawasan dan keluhuran budi pekerti, menyebabkan para ulama dihormati pemerintah dan disegani oposisi, tak terkecuali Syekh Adnan.

Tidak saja terkenal di daratan Suriah, Syekh Adnan dikenal luas di seantero dunia, termasuk Indonesia. Ia kerap mengecam terorisme dan sejenisnya. Wafatnya, duka bagi seluruh kaum moderat di dunia. Syekh Adnan, satu di antara pelita umat yang menuntut siapa saja untuk beragama dan bernegara dengan penuh kedewasaan. Tidak mempertentangkan agama dengan negara dan memberitahukan kepada penguasa untuk tidak menekan dan menafikan eksistensi agama.

Kaum khawarij dan turunannya tidak menyukai model beragama yang moderat. Sebab itu, api kekacauan dan menyulut emosi terus dikobarkan hingga api kekacauan itu membesar dan sulit dipadamkan. Suriah misalnya, hidup dalam kepahitan bertahun-tahun dan sulit untuk mengembalikan kondisi ke sedia kala. Virus-virus kekacauan itu dibawa oleh kaum khawarij ke Negara Indonesia, dan diperankan oleh ragam kelompok dan bungkus yang berbeda-beda.

Setiap menumpas sebuah kejahatan, tumbuh tunas baru. Matinya eksistensinya Al-Qaeda, lahir kembali sejenisnya, yang bernama ISIS dan afiliasinya. Tumbuh pula khawarij modern sejenis bernama Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Mujahidin Indonesia dan sejenisnya. Dunia tidak pernah habis dari keberadaan kaum khawarij sejak terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh Abdurrahman bin Muljam, pengikut Khawarij. Peristiwa pembunuhan Ali menjadi titik sejarah awal dalam Islam terkait pembunuhan dengan mengatasnamakan agama. Di peristiwa ini pula, semboyan “tidak ada hukum selain hukum Allah” pertama berkibar. Hingga kini diteruskan oleh kaum radikalis-teroris, termasuk kelompok Hizbut Tahrir Indonesia.

Jumlah kelompok Khawarij klasik dan modern beragam. Topeng dan bungkusnya pun berbeda-beda. Hingga masyarakat awam dan sebagian kaum intelektual yang tidak mengerti peta dan geneologi gerakan kaum radikalis-teroris terlibat di dalamnya. Namun, kesamaan mereka terletak pada cara pandang dan melihat orang di luar kelompoknya sebagai pelaku dosa besar dan karenanya wajib dibunuh. Khilafiyah (perbedaan) tidak dikenal dan keragaman tafsiran pun ditiadakan. Yang dipertahakan hanyalah kemutlakan pendapat pendirinya, tokohnya dan mentornya.

Dalam sebuah hadis terkenal dinyatakan secara tegas. “…Biarkan dia, kelak laki-laki ini akan lahir sekelompok orang yang berlebih-lebihan dalam agama sehingga keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya.” Hadis yang didokumentasikan oleh Ibnu Hisyam dalam kitab sirah-nya ini berkenaan dengan peristiwa sewaktu Nabi Muhammad SAW pulang dari Fathu Makkah. Dimana Nabi dan pasukan mengepung kabilah Hawazin dan terlibat perang di lembah Hunain. Nabi pun mendapat harta rampasan yang banyak, seperti 4.000 ons perak, 24.000 ekor unta dan 40.000 ekor kambing.

Nabi membagikan harta rampasan itu di lembah Ji’ranah. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dan menegur Nabi, sembari berucap, “Hai Muhammad, berlakulah adil”. Nabi pun menjawab, “Celaka! Seandainya saya tidak berlaku adil, lantas siapa yag adil! Seandainya saya tidak adil, niscaya kamu buntung dan rugi”. Nabi pun telah menyatakan bahwa si pemrotes itu cikal bakal lahirnya Khawarij.

Jika saya mengatakan bahwa ciri-ciri Khawarij seperti dokumentasi dalam Islam yang populer berupa lebat jenggotnya, cingkrang celananya, hitam jidatnya dan lain sebagainya, Anda akan protes seperti ini: “Tidak semuanya bro! Itu hanyalah sebagian dan oknum semata”. Baiklah!.

Mari kita bicara ciri modern yang dipastikan Anda tidak menolaknya. Apa itu? mereka yang berontak terhadap pemimpin yang sah yang dipilih oleh mayoritas. Kenapa mereka begitu? Merasa pendapat pendirinya, amirnya dan tokohnya adalah yang terbaik dan memberikan stempel kafir, murtad, berdosa besar dan sejenisnya kepada pihak yang berbeda dengan mereka. Sebab itulah, mereka meninggalkan pemimpin yang sah dan keluar dari jamaah.

Khawarij Modern pun—seperti HTI, ISIS, MMI dan sejenisnya—terbiasa menjadikan ayat yang diperuntukkan untuk orang “kafir” (orang yang menutup kebenaran) dipakai untuk kepentingan gerakan dan kelompoknya. Sebut juga seperti tulisan Abu Bakar Ba’asyir yang tidak menggunakan kaidah tafsir dan takwil dalam menafsirkan ayat. Jika mereka melihat ayat atau teks agama yang bisa dijadikan argumentasi dalam berjihad menegakkan Negara Islam (juga Khilafah Islamiyah, NKRI Bersyariah, Daulah Islamiyah dan lain-lain), maka seketika itu pun melepaskan tahap-tahapan dan panduan dalam menafsirkan ayat maupun hadis.

Muslim yang baik dan benar, tentunya akan keluar dan tidak menggunakan cara-cara keji dan ‘sembrono’ dalam menafsirkan dalil-dalil agama. Terlebih Muslim Indonesia yang tidak senafas dengan kaum Khawawij dalam beragama dan melihat negara yang serba hitam-putih. Muslim dan rakyat Indonesia, sejatinya cinta perdamaian, kerukunan dan mengindahkan perbedaan. Sebab, di dalam perbedaan terdapat rahmat Tuhan. Tapi di tangan kaum khawarij, perbedaan melahirkan pertikaian dan pertikaian melahirkan pertumpahan darah. Demi hasrat birahi para amirnya, aktivisnya rela melakukan segala sesuatu, walaupun harus meninggalkan cara-cara terbaik yang diajarkan agama.

Sebab itulah, jangan pernah berkata tidak untuk membangun bangsa dan negara serta membawa agama dengan penuh kebijaksanaan. Tapi katakan tidak pada gerakan transnasional, kaum khawarij, komunisme, neolib, nekolim dan kejahatan lainnya. Mari bergandengan tangan dan mari bangun dari tidur pulas kita. Jangan merasa bahwa ini dan itu bukan tugas saya (atau Anda). Melenyapkan kelompok keji adalah tugas kita bersama-sama. []

3 comments

  1. Menjajaki Nalar Takfiri Kelompok Jihadis-Teroris - sangkhalifah 1 Mei, 2021 at 02:27 Balas

    […] Sangkhalifah.co — Ajaran takfiri sejatinya bukan ajaran baru dalam Islam. Bentuk dan modelnya bertransformasi cukup panjang menjejali ruang sejarah. Dinamika dan perdebatan wacana pun terjadi di kalangan ulama teologis dalam merespon persoalan ini. Hanya saja tidak banyak yang kritis melihat ruang pertarungan ideologi yang sebenarnya berasal dari satu pintu. Orang kalau ingin menelusuri jejak pemikiran takfiri, kembalilah buka sejarah lahirnya kaum khawarij. […]

Leave a reply

error: Content is protected !!